6 Fakta Menarik tentang Kepulauan Sangihe, Punya Gunung Api di Bawah Laut

Oleh Liputan6.com pada 07 Mei 2021, 09:03 WIB
Diperbarui 07 Mei 2021, 09:03 WIB
Kepulauan Sangihe
Perbesar
Gunung Api Bawah Laut Banua Wuhu ditandai adanya Gelembung di antara Bebatuan (dok. Instagram @ngarepabis / https://www.instagram.com/p/By4fo4JBgB_/?igshid=26qjwhp5pg2o /Dinda Rizky)

Liputan6.com, Jakarta - Kepulauan Sangihe adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Utara yang termasuk salah satu pulau terluar Sulawesi sebagai perbatasan antara negara Filipina dengan Indonesia. Sangihe memiliki luas wilayah 736,98 kilometer persegi.

Kepulauan yang terletak di bibir Samudera Pasifik ini memiliki tiga klaster wilayah, yaitu Klaster Tatoareng, Klaster Sangihe, dan Klaster Perbatasan, yang memiliki batas perairan internasional dengan Provinsi Davao del Sur, Filipina. Daerah ini terdiri dari 105 pulau, 26 pulau berpenghuni dan 79 lainnya tidak berpenghuni.

Kepulauan Sangihe memiliki semboyan yang berbunyi ‘Somahe Kai Kehage’, yang bermakna bahwa semakin besar tantangan yang akan dihadapi. Hal itu membuat semakin gigih dalam menghadapinya sambil memohon kekuatan kepada Tuhan, pasti akan memperoleh hasil yang gilang gemilang.

Daya tarik Kepulauan Sangihe tak hanya itu. Berikut enam fakta menarik tentang Kepulauan Sangihe yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Gunung Api di Bawah Laut

Banua Wuhu adalah nama gunung api bawah laut yang terletak di sebelah barat Pulau Mahengetang. Karena gunung ini berada di bawah laut, suhu air di sekitar gunung api mencapai 37-38 derajat celcius. Gunung dengan ketinggian 400 meter dari dasar laut ini memiliki puncak yang berada di kedalaman sekitar delapan meter di bawah permukaan air.

Keberadaan puncak gunung ini ditandai dengan adanya gelembung di antara bebatuan. Apabila sedang menyelam, jangan sekali-kali memasukan tangan ke antara gelembung tersebut, karena dapat membuat tangan melepuh. Namun ketika menyelami perairan ini, wisatawan tetap dapat menikmati keindahan lautan dengan hamparan terumbu karangnya yang rapat dan menemukan biota laut dari jarak dekat.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

2. Puncak Jalur Masuk Burung Migran

Kepulauan Sangihe
Perbesar
Puncak Pusuge yang Jadi Jalur Masuk Burung Migran (dok. Instagram @satriyoparoki / https://www.instagram.com/p/BUBVaYwlGQM/?igshid=15fmu48ggk0w4 /Dinda Rizky)

Puncak Lenganeng atau Pusuge sebuah lokasi yang berada di ketinggian 443 meter dari pemukaan laut. Wisatawan dapat melihat Teluk Tahuna yang memiliki pemandangan indah dan jajaran rumah tak beraturan.

Menariknya, puncak ini menjadi salah satu lokasi utama jalur masuk burung-burung migrasi pemangsa (raptor) yang datang dari Jepang dan Semenanjung Korea. Biasanya, burung-burung tersebut datang pada periode Maret hingga Mei atau September hingga November setiap tahunnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

3. Jembatan Tertinggi di Sangihe

Kepulauan Sangihe
Perbesar
Jembatan Maselihe sebagai Jembatan Tertunggu di Sangihe (dok. Instagram @biellysindua / https://www.instagram.com/p/CNuD7JhBKjH/?igshid=jl0v54b2hea3 / Dinda Rizky)

Jembatan Maselihe merupakan jembatan tertinggi di Kepulauan Sangihe. Ketika berada di atas jembatan ini, kita dapat melihat keindahan panorama hutan tropis yang masih lebat serta tebing yang kokoh di tepi pantai.

Selain memiliki pemandangan yang indah, jembatan Maselihe juga menyimpan  misteri. Konon katanya, jembatan ini menyimpan misteri kerajaan Maselihe yang saat itu hilang ditelan laut akibat skandal yang dilakukan Raja Sjam Sjah Alam (Samansialang).

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

4. Upacara Tulude

Kepulauan Sangihe
Perbesar
Potret Upacara Tulude (dok. https://sangihekab.go.id/ Dinda Rizky)

Upacara Tulude atau Mandulu’u’Tonna merupakan salah satu perayaan tahunan warisan para leluhur masyarakat Sangihe dan Talaud. Pelaksanaan upacara ini sebagai simbol kerukunan, persatuan, dan kebersamaan.

Upacara Tulude dilakukan dengan makan bersama yang dibawa oleh masing-masing keluarga dan ditempatkan pada sebuah meja panjang yang digabung. Rangkaian acara diawali dengan ritual khusus, seorang tetua adat akan menyelam ke dalam lorong laut sambil membawa piring putih berisi emas sebagai persembahan untuk Banua Wuhu agar tidak murka.

Setelah itu, upacara dilanjutkan dengan membuat kue adat Tamo di rumah tokoh adat. Kue adat Tamo ini menjadi lambang tuan pesta kepada tamu dan raja. Kue adat Tamo akan dipotong oleh tokoh adat yang terpilih. Para tamu yang hadir nantinya diminta membawa makanan untuk acara Saliwangu Banua atau pesta rakyat makan bersama.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

5. Makanan Khas Sagu Porno

Sagu Porno
Perbesar
Salah satu proses pembuatan sagu porno (Liputan6.com / Yoseph Ikanubun)

Sagu merupakan salah satu hasil alam yang sangat melimpah di Tahuna, Kepulauan Sangihe. Maka itu, banyak makanan khas yang terbuat dari sagu, salah satunya Sagu Porno yang dibuat dari sagu yang dibakar menggunakan cetakan khusus yang terbuat dari tanah liat.

Dinamakan Sagu Porno karena ‘Porno’ adalah sebutan untuk cetakan yang digunakan dalam proses pengolahan tersebut. Cetakan porno ini berbentuk beberapa kota kecil yang memanjang. Sebenarnya, olahan sagu dalam bahasa lokal disebut dengan 'humbia pineda'.

6. Pulau Berbentuk Kepiting

Pulau Poa adalah salah satu pulau kecil yang berada di Kepulauan Sangihe. Pulau ini diberi nama ‘Poa’ yang berarti kepiting karena bentuknya menyerupai kepiting. Menariknya, pulau ini merupakan habitat burung khas Sangihe yaitu burung kum-kum putih (Puntieng).

Pulau kecil ini memiliki panjang garis pantai 300 meter dengan ketinggian laut 25 meter pada surut terendah. Selain itu, pulau ini ditumbuhi oleh kelapa, alang-alang, dan tumbuhan lainnya. (Dinda Rizky Amalia Siregar)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

5 Tips Liburan Aman Saat Pandemi

Infografis 5 Tips Liburan Aman Saat Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 5 Tips Liburan Aman Saat Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓