Perjuangan Siswa Perempuan Lawan Guru yang Buat Lelucon tentang Pemerkosaan

Oleh Asnida Riani pada 28 Apr 2021, 14:01 WIB
Diperbarui 28 Apr 2021, 14:01 WIB
Murid Malaysia
Perbesar
Murid perempuan asal Malaysia melawan guru yang membuat lelucon pemerkosaan di kelas. (dok. tangkapan layar video Twitter @ant33ater)

Liputan6.com, Jakarta - Menggunakan tagar #MakeSchoolASaferPlace, Ain Husniza, murid perempuan asal Kuala Selangor, Malaysia, menyuarakan ketidaksetujuannya pada tindakan seorang guru seolahnya membuat lelucon pemerkosaan. Menggunakan media sosial TikTok dan Twitter, gadis 17 tahun itu telah menyuarakan keprihatinan atas dugaan pernyataan tidak senonoh yang dibuat Sabtu, 24 April 2021.

Lewat video yang dibagikan keesokan harinya, Minggu, 25 April 2021, Ain mengungkap bahwa dibantu ayahnya, ia sudah melaporkan kejadian itu pada kepolisian setempat. Ia pun telah memberi pernyataan lebih detail pada Institute of Professional Development (IPD) Malaysia terkait insiden tersebut.

"Jelas situasi ini tidak mudah untuk saya," katanya. "Walau kami mendapat sangat banyak dukungan, cerita kami diberitakan banyak outlet media, lantas saya tidak secara mudah menerima reaksi negatif."

Ain bahkan mengaku bahwa beberapa orang tega melayangkan ancaman pemerkosaan karena apa yang diperjuangkannya. "Saya awalnya gemetar. Saya sempat takut," imbuhnya.

"Tapi, itulah justru alasan yang membuat kita harus melanjutkan perjuangan ini," kata Ain.

Ia menambahkan bahwa isu reformasi pendidikan bukanlah sesuatu yang bisa diperjuangkannya sendiri. Maka itu, ia mendorong lebih banyak orang menyuarakan isu tersebut.

"Kita butuh mereformasi sistem pendidikan. Jadi, pakai tagar saya #MakeSchoolASaferPlace untuk angkat bicara tentang opini kalian. Berjuang dalam solidaritas bersama saya. Hanya karena kalian masih muda, bukan berarti kalian tidak punya hak menyuarakan pendapat," ungkap murid perempuan itu.

Merasa Tidak Lagi Aman untuk Sekolah

Murid Malaysia
Perbesar
Murid perempuan asal Malaysia melawan guru yang membuat lelucon pemerkosaan di kelas. (dok. tangkapan layar video Twitter @ant33ater)

Melansir laman AsiaOne, Rabu (28/4/2021), guru yang sekarang tengah menjalani proses penyelidikan itu dilaporkan menjelaskan tentang Undang-Undang di Malaysia yang melindungi anak di bawah umur dari pelecehan seksual dan pelecehan seksual.

Ia pun melontarkan pernyataan kepada para siswanya adalah adalah untuk tidak memerkosa anak-anak di bawah 18 tahun, Sebagai gantinya, memerkosa mereka yang berusia di atas 18 tahun. Di video yang dibagikan Ain, ia menjelaskan perbedaan kontras reaksi murid laki-laki dan perempuan atas pernyataan itu.

"Murid perempuan semuanya langsung diam, namun anak laki-laki tertawa seolah lelucon memerkosa orang lain itu lucu," kata Ain.

Setelah memulai kampanyenya di media sosial, ia mendapat banyak dukungan, termasuk dari mantan Menteri Pendidikan Malaysia Maszlee Malik. Ia menulis lewat laman Twitter-nya, "Pemerkosaan bukanlah bahan lelucon, dan guru harus menganjurkan keselamatan, bukan sebaliknya."

Di antaranya, beredar juga rumor bahwa seorang guru dari sekolahnya diduga telah menyebarkan kabar pada pendidik lain di wilayah Kuala Selangor bahwa Ain mengidap autis, dengan harapan bisa mendelegitimasi perjuangannya.

Kritik yang diterima Ain pun telah mencapai titik di mana ia tidak lagi aman untuk bersekolah karena ancaman pemerkosaan yang diterima dari teman sekolahnya.

Eksploitasi Seksual Anak

Eksploitasi Seksual Anak
Perbesar
Infografis eksploitasi seksual anak (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓