6 Kebiasaan Sehari-hari yang Tidak Disadari Bisa Merusak Lingkungan

Oleh Liputan6.com pada 25 Apr 2021, 05:02 WIB
Diperbarui 25 Apr 2021, 05:02 WIB
Warga Negara Bagian di AS Dilarang Buang Sisa Makanan ke Tempat Sampah
Perbesar
Ilustrasi makanan. (dok. Ella Olsson/Pexels.com)

Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah Anda menyadari bahwa setiap tindakan yang dilakukan akan berdampak pada Bumi? Ternyata, banyak kebiasaan sehari-hari yang kita anggap sepele bisa membawa kerusakan pada planet ini. 

Setidaknya ada enam kebiasaan yang patut mulai ditinggalkan demi Bumi yang lebih baik. Simak detailnya seperti dirangkum dari acara webinar Bersuara untuk Indonesia Lestari yang digelar Kamis, 22 April 2021, oleh Yayasan Konservasi Alam Nasional.

1. Kebiasaan Menyisakan Makanan

Pernahkah kalian membuang makanan karena sudah kenyang? Pernahkah kalian membuang sayuran yang berlubang? Kebanyakan orang pasti pernah melakukan hal-hal tersebut. Hal itu ternyata berdampak kepada meningkatnya limbah makanan (food waste).

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), sampah makanan di Indonesia mencapai 13 juta ton setiap tahunnya. Jumlah ini sangat memprihatinkan, karena dengan jumlah sisa makanan tersebut, kita dapat mengatasi masalah kelaparan yang ada di Indonesia. Kebiasaan menyisakan makanan ini juga berdampak pada lingkungan, karena telah menyia-nyiakan tanah, air, energi, tenaga kerja, dan sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi makanan.

2. Membeli Pakaian Semata karena Ingin

Semua orang pasti menyukai pakaian yang bagus. Tapi, patut diingat bahwa membeli pakaian secara tidak bijak berpengaruh buruk terhadap alam.

Semakin tinggi tingkat pembelian pakaian, tingkat produksi industri tekstil semakin meningkat. Artinya, kebutuhan bahan baku pun semakin tinggi. Tahukah Anda, untuk membuat sepasang celana jeans dibutuhkan sebanyak 2000 galon air? Dengan jumlah tersebut, pembelian pakaian yang tidak bijak berarti membiarkan warga di daerah lain mengalami krisis air berkepanjangan.

Selain itu, mayoritas pelaku industri tekstil di dunia membuang limbah cairnya ke lingkungan tanpa diproses terlebih dulu. Limbah tersebut berdampak pada gangguan kualitas perairan, seperti padatan terapung, buih, zat warna, bahan yang menyebabkan kekeruhan baik secara langsung maupun melalui sebuah reaksi. Masih mau beli pakaian hanya karena ingin?

3. Pemilihan Bahan Bakar

Anda yang mempunya kendaraan baik motor atau mobil harus bijak dalam memilih bahan bakar kendaraan yang akan digunakan. Pemilihan bahan bakar kendaraan dengan RON (research octane number) rendah, seperti premium, menyebabkan penurunan kualitas udara yang nantinya berdampak pada ekosistem global. Semakin banyak kendaraan yang menggunakan bahan bakar ini, maka semakin memperburuk tingkat polusi udara yang terjadi di Indonesia.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

4. Boros Energi

Ilustrasi mati lampu
Perbesar
Ilustrasi mati lampu (Unsplash.com)

Punya kebiasaan tak mematikan lampu walau siang hari? Punya kebiasaan charging gadget semalaman? Mulai sekarang hentikan kebiasaan ini, karena saat anda melakukan hal tersebut daya listrik akan tetap mengalir dengan sia-sia.

Mesin yang digunakan untuk menghasilkan energi listrik setiap harinya menimbulkan polusi udara yang berbahaya. Maka, tindakan mematikan lampu saat tidak diperlukan, mencabut charger setelah selesai digunakan, dapat menghemat energi dan mengurangi asap beracun yang dikeluarkan oleh pembangkit tenaga listrik.

5. Hanya Mengonsumsi Ikan Tertentu

Ikan memang baik untuk kesehatan karena mengandung protein yang baik untuk tubuh. Namun, sekarang ini konsumsi ikan hanya bergantung pada beberapa jenis saja seperti kakap, tuna, salmon, cakalang dan beberapa jenis ikan lain. Kondisi ini dapat membuat penangkapan ikan secara berlebihan dan penurunan populasi ikan tersebut.

Indonesia adalah negara maritim dengan kekayaan laut yang melimpah termasuk jenis ikannya. Mulai sekarang, cobalah untuk mengonsumsi jenis ikan lain yang mengandung vitamin serta protein serupa.

6. Tidak Memilah Sampah

Jumlah timbunan sampah nasional pada 2020 mencapai 67,8 juta ton. Penumpukan sampah ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat Indonesia yang tidak memilah sampah. Kebiasaan lain yang dilakukan masyarakat Indonesia terkait sampah adalah membakarnya, yang semakin memperburuk tingkat polusi udara.

Biasakan untuk melihat kembali sampah yang Anda miliki. Sampah plastik yang masih layak pakai dapat anda daur ulang dan gunakan kembali untuk kebutuhan lain. Sampah organik seperti dedaunan, sayuran atau buah-buahan dapat dijadikan pupuk kompos agar tanaman di rumah menjadi semakin subur. (Dinda Rizky Amalia Siregar)

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi

Infografis Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi
Perbesar
Infografis Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓