Galang Donasi Online Saat Pandemi, Pria Amerika Serikat Kaget Ditagih Pajak Rp233 Juta

Oleh Asnida Riani pada 22 Apr 2021, 03:03 WIB
Diperbarui 22 Apr 2021, 03:03 WIB
Menggalang Donasi Via Online
Perbesar
Ilustrasi Donasi Via Online Credit: pexels.com/bongkarn

Liputan6.com, Jakarta - Dengan banyaknya pihak terdampak pandemi COVID-19 secara ekononi, solidaritas ditunjukan tak sedikit orang melalui penggalangan donasi online. Itu pula yang dilakukan Louis Goffinet, pria asal Connecticut, Amerika Serikat.

Bertekad membantu beberapa orang tua dan tetangga yang kehilangan pekerjaan pada periode awal pandemi COVID-19, melansir laman Washington Post, Rabu (21/4/2021), guru SMP ini mengimbau teman-teman Facebook-nya "mendonasikan beberapa dolar milik mereka."

Secara tidak diduga, kampanye itu dengan cepat menarik ratusan pendonor dari seluruh dunia. Pada Juli 2020, Goffinet telah mengumpulkan lebih dari 30 ribu dolar Amerika Serikat (AS) (Rp436 juta). Ia pun menggunakan uang tersebut untuk membeli dan mengirimkan paket makanan, serta bantuan bensin dan persewaan untuk lebih dari seratus keluarga di Mansfield Center.

Hingga kabar buruk datang pada Januari 2021. Ia mengaku menerima amplop dari Internal Revenue Service yang menyatakan bahwa ia berutang sekitar setengah jumlah itu, yakni 16 ribu dolar AS (Rp233 juta) dalam bentuk pajak.

"Saya sangat terkejut," kata pria 27 tahun itu pada Hartford Courant. "Jumlahnya sangat besar. Ini tidak seperti saya dapat mengatakan, 'Oh, untuk satu atau dua bulan ke depan, saya akan mengurangi pengeluaran saya dan menghemat 16 ribu dolar (AS)'."

Tanpa sepengetahuannya, situs transaksi pihak ketiga, seperti Facebook Fundraisers, diharuskan menerbitkan formulir 1099-K ke IRS untuk setiap transaksi melebihi 20 ribu dolar (Rp290 juta). Sementara pedoman tersebut telah diunggah di platform yang dimaksud, Goffinet mengatakan, ia tidak pernah mengira upaya sukarelanya akan menghasilkan donasi begitu besar.

 

2 dari 5 halaman

Awal Inisiasi Menggalang Donasi

Donasi
Perbesar
Ilustrasi Donasi Credit: pexels.com/MoosePhoto

Inisasi ini sebenarnya bermula ketika seorang tetangga yang sudah tua khawatir akan risiko pergi ke supermarket, dan ayah Goffinet menawarkan putranya pergi berbelanja. Perjalanan itu berjalan sangat baik sehingga Goffinet memutuskan menawarkan bantuan pada orang lain di halaman Facebook Kota Connecticut.

"Saya hanya fokus pada membayar belanjaan mereka dan mendapat karma baik," katanya pada WVIT saat itu. "Saya menyadari mungkin ada lebih banyak keluarga dengan posisi yang sama."

Ambisi aslinya untuk mengumpulkan 200 dolar AS (Rp2,9 juta) terpenuhi bahkan sebelum ia tidur malam itu. Dengan donasi dari seluruh Connecticut, upaya itu berkembang pesat. Kampanye ini kemudian menyertakan dua relawan lain dalam menjangkau keluarga yang membutuhkan melalui layanan sosial di pemerintah kota Mansfield Center.

Pada Juli lalu, Goffinet telah melakukan 130 perjalanan belanja untuk rumah tangga yang kesulitan, menggunakan lebih dari 30 ribu dolar AS uang donasi yang dikumpulkan secara online. Pemilik gerai Domino's Pizza setempat bahkan berpartisipasi dengan menyumbangkan pizza untuk penerima penggalangan dana selama beberapa akhir pekan.

Pada musim gugur 2020, tim relawan meluncurkan upaya serupa yang bertujuan membantu tetangga melewati musim liburan, mengumpulkan sekitar 10 ribu dolar AS (Rp145 juta).

 

3 dari 5 halaman

Kembali Meminta Pertolongan Publik

Lakukan Follow-Up Pada Lembaga Penyalur Donasi
Perbesar
Ilustrasi Online Credit: pexels.com/Burst

Goffinet menjelaskan, penggunaan sistem penggalangan dana pihak ketiga, seperti platform Facebook, berarti setiap donasi yang diterima benar-benar memenuhi syarat sebagai pendapatan pribadi, karena ia bukan organisasi nirlaba yang terakreditasi.

Demikian pula setiap sumbangannya pada keluarga yang membutuhkan melalui uang tunai, cek, atau barang, seperti bahan makanan, itu juga merupakan hadiah resmi, bukan biaya yang dapat dikurangkan.

Akuntannya, Dawn Brolin, mengatakan pada WVIT bahwa meski ia dapat mencoba melawan IRS, agensi tersebut sangat mungkin tidak setuju. Apa pun itu, "kemungkinan masih akan menghasilkan semacam beban pajak," kata Goffinet pada Couran.

Goffinet, yang mengejar gelar master dengan gaji guru sekolah negeri, mengatakan bahwa total pajak ribuan dolar AS tidak dapat diupayakan sendiri. Jadi, ia harus kembali ke Facebook untuk meminta pendukung proyeknya mengimbangi pembayaran pajak.

Namun, kali ini, ia menghindari online platform mana pun. Goffinet mengatakan, ia hanya menerima donasi berupa cek yang dikirim melalui email.

"Ini sangat tidak nyaman. Saya mengalami ketidaknyamanan yang sama saat menyiapkan penggalangan dana," katanya. "Ini adalah pandemi. Orang-orang berada di posisi yang sulit. Rasanya aneh meminta uang pada siapa pun, dan sekarang menanyakannya semata-mata untuk diri saya sendiri sangatlah aneh."

 

4 dari 5 halaman

7 Tips Aman Belanja di Pasar Saat Pandemi COVID-19

Infografis 7 Tips Aman Belanja di Pasar Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 7 Tips Aman Belanja di Pasar Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓