6 Fakta Menarik tentang Jombang, Gerbang Masuk Majapahit di Masa Lampau

Oleh Liputan6.com pada 20 Apr 2021, 09:02 WIB
Diperbarui 20 Apr 2021, 09:02 WIB
6 Fakta Menarik tentang Jombang, Gerbang Masuk Majapahit di Masa Lampau
Perbesar
Tugu Jombang. (dok. Instagram @bangjonesia/ https://www.instagram.com/p/BAG00CLHhsT/?igshid=7rzfuvondrsq / Melia Setiawati)

Liputan6.com, Jakarta - Jombang merupakan kabupaten yang terletak di tengah-tengah wilayah Jawa Timur. Posisinya berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan di utara, Kabupaten Kediri di selatan, Kabupaten Mojokerto di timur, dan Kabupaten Nganjuk di barat.

Dalam sejarahnya, Jombang merupakan wilayah yang cukup berpengaruh dan penting di era Majapahit. Saat itu, wilayah yang kini menjadi Jombang merupakan pintu gerbang Majapahit. Setelah Majapahit kehilangan pengaruhnya, kawasan tersebut menjadi bagian dari kerajaan Mataram Islam.

Pada 1811, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Kabupaten Mojokerto, Jombang menjadi salah satu residennya, bersama dengan Trowulan yang menjadi kawedanan. Kemudian pada 1910, Jombang memperoleh status menjadi Kabupaten.

Apa lagi yang menarik dari Jombang? Liputan6.com merangkum enam fakta menarik di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber, Selasa, 13 April 2021.

1. Pusat Pondok Pesantren di Tanah Jawa

Julukan Jombang yang kerap didengar adalah Kota Santri, lantaran penyebaran pondok pesantren hampir merata di kabupaten ini. Jombang merupakan pusat pondok pesantren di tanah Jawa. Hampir seluruh pendiri pesantren di Jawa mengenyam pendidikan di sana.

Ada empat pondok pesantren yang paling terkenal berdiri di Jombang, yaitu Tebuireng yang didirikan oleh KH.Hasyim Asy'ari pada 1899, Bahrul Ulum Tambakberas Jombang didirikan oleh KH. Abdus Salam sejak 1967, Mamba'ul Ma'arif yang didirikan oleh KH.Bisri  Syansuri pada 1921, dan Darul Ulum didirikan oleh KH. Tamim Irsyad dan KH.Cholil pada 1885.

2. Tempat Lahir Tokoh Nasional

Banyak tokoh nasional yang dilahirkan di Kabupaten Jombang, di antaranya adalah Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid, Pahlawan Nasional KH Hasyim Asy’ari, dan KH Wahid Hasyim, tokoh intelektual Islam Nurcholis Madjid, budayawan Emha Ainun Najib, seniman Cucuk Espe, sampai tokoh PKI Semaun.

Para tokoh dari kota santri tersebut mampu melahirkan beragam pemikiran dan gagasan berlian bagi kemajuan bangsa Indonesia, sejak zaman prakemerdekaan hingga saat ini. Sebagian besar dari mereka jarang dicantumkan dalam buku-buku teks pelajaran sejarah di sekolah.

 

2 dari 5 halaman

3. Terdapat Tiga Kelenteng Tertua

Konservasi Tumbuhan Potensial Pemulih Ekosistem Sungai Brantas
Perbesar
Wonorejo Ekowisata Mangrove, kawasan konservasi alam untuk mencegah abrasi di wilayah Timur Kota Surabaya. Kawasan ini termasuk hilir Sungai Brantas (Bapekko Surabaya)

Sebagai kota tua dengan banyak kawasan pecinan, daerah Jombang di Jawa Timur ini memiliki beberapa kelenteng yang konon usia bangunannya mencapai ratusan tahun. Dengan berbagai keunikan pada kisah dan bangunan kelenteng, kelenteng-kelenteng tersebut menjadi tempat peribadatan dan wisata religi bagi umat Tri Darma.

Terdapat tiga kelenteng tertua, yakni Kelenteng Boo Hway Bio yang dibangun sejak 1928, Kelenteng Hok Liong Kiong Jombang yang didirikan pada 1890, dan Klenteng Hong San Kiong Gudon yang berdiri sejak 1800.

4. Dialiri Sungai Terbesar di Jawa Timur

Sungai Brantas merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo dan sungai terbesar pertama di Jawa Timur. Dinamakan demikian karena sungai tersebut berhulu di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur.

Sungai Brantas memiliki panjang sungai utama 320 km dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 11.800 km persegi atau seperempat dari total luas keseluruhan Provinsi Jawa Timur. Pada era kerajaan Hindu Budha di Jawa, Sungai Brantas kerap menjadi lalu lintas perdagangan dunia.

 

Tugu Jombang. (dok. Instagram @bangjonesia/ https://www.instagram.com/p/BAG00CLHhsT/?igshid=7rzfuvondrsq / Melia Setiawati)

Tarian khas Jombang. (dok. Instagram @smanetrahitz/ https://www.instagram.com/p/BgVwOPRhyEW/?igshid=1a8mcf0e8kw76 / Melia Setiawati)

3 dari 5 halaman

5. Tari Remo, Tari Tradisional Khas Jombang

6 Fakta Menarik tentang Jombang, Gerbang Masuk Majapahit di Masa Lampau
Perbesar
Tari Remo khas Jombang. (dok. Instagram @smanetrahitz/ https://www.instagram.com/p/BgVwOPRhyEW/?igshid=1a8mcf0e8kw76 / Melia Setiawati)

Di Jombang terdapat tarian tradisional bernama Tari Remo. Tari khas Jombang tersebut mengisahkan perjuangan seorang pangeran di medan pertempuran. Meski menggambarkan seorang pangeran, dalam perkembangannya tarian ini lebih sering ditarikan oleh perempuan, sehingga muncul gaya tarian yang lain, yakni Remo Putri.

Tari Remo memiliki beberapa filosofi yang terkandung dalam gerakan-gerakannya. Gerakan gedrug yang menghentak bumi, misalnya, menyimbolkan kesadaran manusia terhadap kehidupan, sedangkan gerakan Gendewa merupakan simbol gerakan manusia yang sangat cepat bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya.

6. Makanan Khas Jombang

Kuliner khas Jombang Jawa Timur terkenal akan rempah-rempah yang melimpah. Salah satu yang populer adalah sego sadukan yang terkenal karena pedasnya. Satu porsi sego sadukan terdiri dari nasi, mi, ikan teri, irisan tempe, dan tahu. Penyajian khasnya menggunakan daun pisang. Banyak wisatawan yang menggemari sego sadukan karena sambalnya yang pedas.

Rawon rosobo merupakan makanan khas Jombang Jawa Timur yang cukup melegenda dan sampai saat ini masih banyak peminatnya. Rawon ini terbuat dari potongan daging atau empal yang berukuran besar dan kluwak yang menambah cita rasa dan warna hitam dari makanan ini. (Melia Setiawati) 

4 dari 5 halaman

Aturan Dilarang Mudik 2021

Infografis Dilarang Mudik
Perbesar
Infografis Dilarang Mudik (Liputan6.com/Triyasni)
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓