Sekolah Bisnis Kuliner Berdurasi 6 Bulan Dibuka, Sasar Anak SMA dan Kuliahan

Oleh Dinny Mutiah pada 12 Apr 2021, 05:03 WIB
Diperbarui 12 Apr 2021, 05:03 WIB
Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi makanan pendamping di kuliner Korea Selatan. (dok. pexels/Vicky Tran)

Liputan6.com, Jakarta - Industri kuliner di Indonesia berkembang pesat. Nyaris selalu ada pemain baru lahir setiap hari dengan beragam kategori produk kuliner. Namun, banyak pula yang berguguran bahkan sebelum berkembang.

Menurut Rex Marindo, CEO Foodizz, startup yang bergerak di layanan konsultan bisnis kuliner, hal itu terjadi sebagian besar karena kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki pebisnis kuliner.

"Potensi gagal ada di setiap stage, saat memulai, sedang berkembang, ketika scale up, ketika ekspansi, saat menghadapi banyak problem dalam bisnis kuliner," kata Rex dalam peluncuran Sekolah Bisnis Kuliner, Sabtu, 10 April 2021.

Ia menjelaskan bahwa setiap tahapan berbisnis membutuhkan ilmu yang komprehensif agar tidak terjebak di titik buta. Ia mengklaim program sekolah bisnis berdurasi enam bulan itu dibuat dengan kurikulum yang detail, mulai dari nol sampai pengusaha bisa mendapatkan pendanaan atau investasi.

"Kita akan discuse berdasarkan theoretical background dan riil lapangan, dan studi kasus banyak sekali karena kami sering memberi workshop," sambung dia.

Ilmu bisnis kuliner dimaksud, ujar Rex, bukan soal bagaimana menciptakan produk, tetapi semata tentang cara mengelola bisnis, seperti operasional, marketing, keuangan, penggandaan bisnis, bernegosiasi, hingga cara mendapatkan pendanaan. "Kayak kuliah tapi dipendekin, enggak lama-lama amat, tapi siap dengan ilmunya.

Mereka yang berminat bisa mengikuti secara online dan offline. Sekolah offline dikhususkan untuk pebisnis pemula, terutama anak SMA atau mahasiswa. Mereka harus tinggal di Bandung selama enam bulan sampai siap berbisnis dan bila dimungkinkan, bisa mendapat investasi.

"Sederhananya, mereka siap atau sudah jalankan bisnis kuliner... Bukan belajar kemudian dapat sertifikat, atau malah sampai ngelamar kerja. Bukan itu targetnya, targetnya harus punya bisnis," jelas Rex.

2 dari 4 halaman

Tak Cukup Hanya Intuisi

Sekolah Bisnis Kuliner Berdurasi 6 Bulan Dibuka, Sasar Anak SMA dan Kuliahan
Perbesar
Rex Marindo (kanan), CEO Foodizz, saat peluncuran sekolah bisnis kuliner secara virtual. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyatakan pengetahuan bisnis mutlak harus dimiliki para pengusaha kuliner. Ilmu yang dimiliki itu dibutuhkan bukan hanya untuk memenangkan kompetisi, tetapi juga saat berkolaborasi.

"Industri kuliner di Indonesia adalah salah satu industri yang potensial dan selalu tumbuh, jadi penopang ekonomi dan buka lapangan kerja begitu besar," kata dia.

Hal senada juga diungkapkan Budi Satria Isman, CEO Mikro Investindo. Ia mengatakan pebisnis tidak cukup hanya mengandalkan intuisi jika ingin bisnisnya berkembang dan mencari investor. Para pebisnis harus belajar fundamental bisnis bila ingin usahanya berkelanjutan, menguntungkan, dan tumbuh.

"Salah satu kekurangan utama bisnis itu knowledge, keberaniannya ada, passionnya ada, nekatnya udah ada, tapi fundamental kuat itu perlu ilmu. Lebih baik lagi kalau ada yang membantu, mendampingi, memberi nasihat," ucap dia.

3 dari 4 halaman

Diplomasi Indonesia via Jalur Kuliner

Infografis Diplomasi Lewat Jalur Kuliner
Perbesar
Diplomasi Lewat Jalur Kuliner (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓