Cerita Akhir Pekan: Nasib Bisnis Spa Setelah Pandemi Lebih dari 1 Tahun

Oleh Putu Elmira pada 11 Apr 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 11 Apr 2021, 08:30 WIB
Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi spa. (dok. unsplash @enginakyurt)

Liputan6.com, Jakarta - Masa pandemi Covid-19 menjadi hantaman hebat bagi beragam industri, tidak terkecuali wellness spa. Setelah satu tahun lebih pandemi, tak lantas sepenuhnya membuat bisnis di industri ini mampu bangkit dan bertahan.

Lantas, bagaimana nasib industri wellness spa kini? Ketua Umum Wellness and Health Entrepreneur Association (WHEA) sekaligus pemilik Gaya Spa Agnes Lourda Hutagalung, menyebut sudah setahun lebih sejak pandemi Maret 2020, para pelaku bisnis secara nasional menutup bisnisnya.

"Kalau secara nasional, sejak Maret, sudah setahun lebih kita tutup untuk teman-teman nasional. Sebenarnya sejak Mei itu, Gaya Spa menginisiasi new normal protokol dan Gaya Spa menerapkan itu," kata Lourda saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 9 April 2021.

Lourda melanjutkan, standar tersebut yang kini disebut dengan Cleanliness, Health, Safety dan Environment Sustainability (CHSE) di dunia pariwisata. CHSE itu lantas disumbangkan kepada teman-teman industri dengan koordinasi pemerintah dalam hal ini kementerian terkait, yakni Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

"Lalu digodok lagi bersama-sama, sudah dirapikan. Tapi rupanya ini belum menjadi perhatian menteri terkait. Ini sudah satu tahun industri ini, sekian ribu orang yang bekerja di bidang ini tidak bekerja, tidak dapat penghasilan," tambahnya.

"Seharusnya kementerian terkait kalau memang ada perhatian CHSE yang kita buat itu cepat ditandatangani, ini tidak, sudah berbulan-bulan," jelas Lourda.

Isi dari ketentuan protokol CHSE yang telah diinisiasi tersebut, meliputi bagaimana pengusaha wellness spa harus bertanggung jawab dalam antisipasi perihal sterilisasi, sanitasi, juga disinfektan ruang hingga peralatan yang digunakan. Juga soal tes bebas Covid-19, yang awalnya Rapid Test hingga Swab turut dilancarkan guna mendukung pemerintah agar usaha bisa kembali buka.

"Secara asosiasi kita sudah mempersiapkan semua anggota-anggota kita, ada sekian ratus anggota, baik dalam bentuk perusahaan atau profesional, sudah kita siapkan melalui 30 edukasi Webinar yang ditunggu pemerintah mereka enggak buka pintu," tutur Lourda yang juga selaku founder Indonesia Wellness Master Professional Association.

2 dari 4 halaman

Gaya Spa

Spa tradisional Batimung dari Banjar Kalimantan Selatan
Perbesar
Berikut rileksasi dan menghilangkan keringan dengan spa tradisional Batimung dari Banjar, Kalimantan Selatan. (Foto: Dok. Gaya Spa Wellness)

"Kalau Gaya Spa sendiri, kita setelah membuat CHSE of our own yang kemudian diresmikan teman-teman sekian bulan kita saling brainstorm, argue, demi kebaikan bersama akhirnya sudah terjadi versi nasional," jelasnya.

"Yang versi Gaya Spa silakan klien yang menilai karena versi nasional harus memperhitungkan wellness spa kecil yang mungkin akan menjadi terlalu berat dengan beban-beban standar yang ada," ungkap Lourda.

Gaya Spa, dilanjutkan Lourda, pihaknya menerapkan standar yang super ketat. "Apa yang bisa kita upayakan, kita upayakan. At any cost, demi keamanan bersama, kita tidak mikir untung, daripada kita enggak operasional, karyawan enggak bekerja," jelasnya.

Lourda menambahkan, lewat penerapan standar super ketat tersebut, tamu Gaya Spa kini bisa dikatakan kembali normal. Penurunan penjualan terjadi ketika Maret awal pandemi.

"April mulai naik sedikit, Mei buat CHSE, sejak Mei, Juni, Juli itu naik terus," jelas Lourda.

3 dari 4 halaman

5 Khasiat Madu untuk Perawatan Kecantikan

Infografis 5 Khasiat Madu untuk Perawatan Kecantikan
Perbesar
Infografis 5 Khasiat Madu untuk Perawatan Kecantikan. (Liputan6.com/Lois Wilhelmina)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓