6 Fakta Menarik tentang Merauke, dari Kota Rusa hingga Papeda

Oleh Liputan6.com pada 06 Apr 2021, 09:04 WIB
Diperbarui 06 Apr 2021, 09:04 WIB
Merauke
Perbesar
Merauke (dok.Wikimedia Commons)

Liputan6.com, Jakarta - Merauke merupakan sebuah kabupaten yang terletak jauh di ujung timur Indonesia.  Merauke menjadi titik akhir wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

Hal ini juga menjadikan keberadaan Merauke sebagai tempat yang sungguh berarti dan istimewa bagi sejarah perjuangan berdirinya Indonesia hingga menjadi bagian dari sebuah lagu perjuangan yang berjudul “Dari Sabang sampai Merauke”.

Sebagai wilayah yang sarat akan nilai sejarah perjuangan Indonesia, tentu di Merauke terdapat banyak tempat bersejarah yang memperingati berdirinya Indonesia. Salah satunya adalah tugu kembar yang terdapat di Distrik Sota.

Namun, hal-hal menarik tentang Merauke tak hanya itu. Liputan6.com merangkum enam fakta di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber, Kamis, 1 April 2021.

1. Menjadi Wilayah Terluas Paling Timur Indonesia

Merauke merupakan kabupaten terluas di Timur Indonesia sekaligus kawasan terdepan Indonesia. Sejauh mata memandang, Merauke memiliki luas 46.791,63 km persegi. Dengan luas tersebut, Merauke menjadi daerah dengan luas wilayah terbesar di Provinsi Papua.

Distrik Tabonji menjadi distrik terluas yang mencapai 5.416,84 km persegi atau sekitar 12 persen dari seluruh wilayah Kabupaten Merauke. Sedangkan untuk Distrik Semangga menjadi distrik terkecil secara wilayah karena hanya memiliki luas 326,95 km persegi atau sekitar satu persen dari seluruh wilayah Merauke.

2 dari 6 halaman

2. Dikenal Sebagai Kota Rusa

Ilustrasi Rusa
Perbesar
Ilustrasi Rusa (dok.unsplash/ Edward Taylor)

Merauke sering disebut dengan Kota Rusa. Rusa yang berada di Merauke merupakan rusa tropik Indonesia, Gervus timorensis, atau rusa yang biasa hidup di Pulau Jawa, Bali dan Timor. Rusa di Merauke memiliki ciri-ciri dengan kantung seperti kanguru atau dalam bahasa suku marind, suku asli Merauke biasa disebut saham.

Pada 1928, kolonial Belanda pertama kali mendatangkan rusa ke Merauke. Pada waktu itu, rusa dijadikan sebagai hewan peliharaan karena dianggap sebagai hewan eksotik. Rusa saat itu hanya dapat dijumpai di halaman rumah guru dan pegawai Belanda. 

Dalam perkembangannya, populasi rusa yang mumpuni di Merauke membuat banyak kuliner berbahan dasar daging rusa mudah dijumpai, mulai dari satai rusa, abon rusa, bakso rusa, hingga dendeng rusa. Oleh karena itu, Merauke juga disebut  Kota Rusa.

3. Tugu Libra yang Penuh Makna

Tugu Libra atau Lingkaran Brawijaya diresmikan pada 23 Mei 2013. Tugu ini terletak tepat di tengah persimpangan antara Jalan Brawijaya dan Parako, Merauke. Tak hanya itu, tugu Libra pun memiliki makna keseimbangan, yaitu empat sisi dunia yang sangat identik dengan empat golongan adat animha, yakni bekerja keras, bercorak cerdas dalam berpikir, harmonis, bertanggung jawab serta berkeadilan dan transparan.

Pada tugu itu terdapat angka 1902, angka tersebut mewakili pada 1902 masyarakat Marind atau suku asli Merauke akhirnya mulai berinteraksi dengan dunia luar, kemudian di bagian atas tugu terdapat miniatur bola dunia yang bermakna bahwa Merauke menuju kota dunia. Di bawah bola dunia juga disematkan sebuah moto dari kota Merauke yakni “Izakod Bekai Izakod Kai” atau “Satu hati satu tujuan.”  Dengan kata lain Merauke merupakan kesatuan nusantara dari Sabang hingga Merauke.

3 dari 6 halaman

4. Tas Rajut Khas Merauke

Membuat Noken
Perbesar
Anggota Bhayangkari Papua Saat Mengajarkan Cara Membuat Noken Dalam Kegiatan Misi Budaya di Frankfurt, Jerman, Selasa (3/9/2019). (Foto: Istimewa)

Tas rajut atau Noken merupakan tas yang berasal dari Papua dan Merauke. Kantung atau tas yang dirajut dari kulit kayu ini telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya yang perlu dilindungi pada 2013 lalu. Setiap perempuan di Merauke dituntut untuk dapat membuat noken. Dulu terdapat pandangan bahwa perempuan Merauke yang belum dapat merajut noken dianggap belum dewasa atau layak untuk menikah.

Kini, pandangan tersebut sudah tak berlaku lagi, karena banyak perempuan di Merauke yang belum bisa merajut noken, tapi sudah menikah. Noken dibanderol sekitar Rp100 ribu untuk yang berbahan dari serat kayu, sedangkan untuk yang berbahan anggrek dibanderol sekitar hampir Rp3 juta. 

5. Kerajinan Berbahan Dasar Kulit Buaya

Bila berkunjung ke Merauke wajib membeli barang-barang kerajinan khas Merauke yang terbuat dari kulit buaya. Kulit buaya menjadi salah satu industri rumah unggulan bagi masyarakat Merauke, hal ini disebabkan karena populasi buaya yang begitu besar di Merauke.

Hal ini legal secara hukum, karena ada kebijakan khusus bagi masyarakat Merauke tentang perburuan buaya yang tetap dan dalam pengawasan pemerintah daerah setempat. Biasanya, kerajinan kulit ini dapat berupa sepatu, ikat pinggang, dompet, tas, hingga tas golf yang cukup unik dan lumayan mahal.

4 dari 6 halaman

6. Makanan Khas Papua

4. Sagu
Perbesar
Papeda merupakan makanan olahan sagu yang menjadi sumber makanan pokok masyarakat maluku (Sumber foto: Wikiwand.com)

Makanan Merauke memiliki rasa yang otentik, mulai dari olahan sayuran, daging, hingga aneka jajanan. Pada dasarnya, makanan khas Merauke tak jauh berbeda dengan makanan khas Papua, yakni identik dengan berbahan dasar sagu, salah satunya papeda.

Papeda merupakan makanan Indonesia dari Papua dan Merauke yang terbuat dari sagu. Memasak papeda memerlukan waktu selama beberapa menit sampai tekstur berubah menjadi bubur. Bubur putih dengan tekstur lengket tersebut memiliki rasa yang hambar. Sebagai pelengkap papeda diberi kuah ikan pedas dan sayur-sayuran.

Selain papeda, ada juga satai rusa yang memiliki rasa daging yang manis, tidak amis, dan juga empuk. Satai rusa juga identik dengan saus kacang yang dapat menambah citarasa.  (Melia Setiawati)

5 dari 6 halaman

Penembakan 31 Pekerja di Papua

Infografis Penembakan 31 Pekerja di Papua
Perbesar
Infografis Penembakan 31 Pekerja di Papua. (Liputan6.com/Triyasni)
6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓