Minum Jus Dulu atau Makan Utama Dulu, Mana yang Dianjurkan?

Oleh Dinny Mutiah pada 01 Apr 2021, 07:02 WIB
Diperbarui 01 Apr 2021, 07:02 WIB
jus
Perbesar
ilustrasi jus sayur/Photo by Jose Soriano on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - Siapa yang suka memesan atau membuat jus untuk diminum setelah makan utama? Apakah cara konsumsi seperti itu dianjurkan?

dr. Benny Parulian, Head of Medical Research Nakedpress, menganjurkan sebaiknya minum jus lebih dulu dibandingkan menyantap makan utama. Alasannya adalah agar nutrisi yang terkandung di dalam jus terserap lebih dulu dibandingkan yang terdapat dalam makanan utama.

"Kalau sudah ada makanan padat, nutrisi di dalam jus antre dulu sebelum bisa diserap. Terkadang, (proses) itu malah merusak nutrisi yang ada di jus tadi sehingga manfaatnya tidak terserap maksimal," kata dia dalam diskusi virtual Nakedpress Get-together, Selasa, 30 Maret 2021.

Aturan itu berlaku juga saat mengonsumsinya di saat sahur dan buka puasa. Tapi, menurut Benny, komposisi jus yang terbaik adalah yang didominasi sayuran, terutama sayuran hijau, bukan oleh buah. Fungsi buah dalam jus hanyalah untuk pelengkap dan pemberi rasa saja.

"Kalau buah itu (nutrisi) yang paling banyak adalah karbohidrat, sedangkan sayuran lebih banyak vitamin dan mineral," ia menjelaskan.

Sayuran yang dijus juga harus beragam, baik dari jenis maupun warna. Pasalnya, tidak ada sayuran yang bisa menyediakan semua nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

"Kita gabung variasinya karena nutrisi di sayuran kayak puzzle, saling melengkapi untuk kebutuhan nutrisi kita. Setidaknya tiga empat jenis sayuran, kasih juga warna lain, seperti merah dan oranye," imbuh Benny.

 

Benny juga mengingatkan bahwa jus yang dibuat semestinya tidak sekadar enak. Butuh ilmu dalam membuat jus sayuran dan buah agar manfaatnya bisa maksimal, seperti memperhatikan interaksi antara sayur dan buah.

Jangan Asal Campur

kepribadian buah nanas
Perbesar
ilustrasi buah nanas/Photo by Brooke Lark on Unsplash

Ada beberapa buah yang sebaiknya tidak dicampurkan dengan sayuran karena interaksinya justru bertolak belakang. Nanas jadi salah satunya yang tak boleh digabungkan dengan sayuran.

"Dia (nanas) punya enzim yang merusak nutrisi di sayur yang udah banyak. Hasilnya bertolak belakang, akhirnya kita malah tidak makan nutrisinya," kata Benny.

Kalau pun ingin mengonsumsi nanas, sebaiknya diberi jarak saat mengonsumsi beragam sayur. Tetapi, nanas tak masalah bila dicampurkan dengan daging karena bisa mengurai kandungan toksin dan lemak di daging.

Berikutnya adalah pisang. Benny tak menganjurkan pisang menjadi buah yang dicampurkan bersama sayuraan hijau, seperti kale, bayam dan brokoli. Kandungan kalium yang ada di pisang bakal berkompetisi dengan nutrisi di sayuran hijau saat dicerna di dalam tubuh. 

"Akhirnya, yang seharusnya dapat energi, malah jadi lemas...Kalau metabolisme di pencernaan sangat cepat, akhirnya numpang lewat doang, enggak bisa diserap sama sekali," imbuh dia.

Selain itu, masih banyak buah lain yang harus hati-hati saat akan dijus bersama sayuran. "Bisa cek di vegetable combination safe Pubmed untuk mengetahui apa yang aman," sarannya.

Kiat Makan Sehat

Infografis Kiat Makan Sehat Kala Lebaran
Perbesar
Infografis Kiat Makan Sehat Kala Lebaran (Liputan6.com/M. Iqbal)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓