Saling Serang antara Sederet Brand Fesyen Dunia dan China soal Dugaan Kerja Paksa Muslim Uighur

Oleh Asnida Riani pada 29 Mar 2021, 20:02 WIB
Diperbarui 29 Mar 2021, 20:02 WIB
Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi produk rilisan Nike. (dok. unsplash @mahanmehranii)

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan untuk tidak lagi mengambil material kapas dari Xinjiang, China, telah diambil sederet brand fesyen dunia. Masuk dalam daftar tersebut adalah Nike, Adidas, ritel H&M, bahkan rumah mode mewah, Burberry.

Dalam keterangannya, mereka merespons pernyataan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyebut bahwa ada sekitar satu juta Muslim Uighur jadi sasaran penahanan di kamp-kamp interniran di Xinjiang. Kelompok-kelompok Hak Asasi Manusia dari sejumlah negara juga mengatakan bahwa kaum minoritas Muslim Uighur telah jadi "sasaran kerja paksa," menurut laporan South China Morning Post yang dilansir Senin (29/3/2021).

Mengutip CNN, H&M dan Nike mengatakan berbulan-bulan lalu bahwa mereka prihatin dengan tuduhan kerja paksa telah digunakan untuk memproduksi kapas di Xinjiang. Narasi serupa juga dirilis Burberry, New Balance, dan anggota lain dari Better Cotton Initiative (BCI), menyatakan keprihatinan tentang kapas yang diproduksi di Xinjiang.

Berkaca pada keterangan itu, merek-merek di atas tengah menghadapi amuk nasionalis Tiongkok dengan seruan boikot yang lantang disuaraakan. Puluhan selebritas Tiongkok juga telah memutuskan kontrak atau mengatakan akan memutuskan hubungan dengan merek-merek, seperti Nike, Adidas, Puma, Converse, Calvin Klein, Tommy Hilfiger, dan UNIQLO.

Xu Guixiang, juru bicara pemerintah daerah Xinjiang, telah menolak tuduhan bahwa pihak China melakukan genosida terhadap Uighur dan warga Muslim lainnya, lapor Aljazeera. Ia juga mengatakan perusahaan tidak boleh mempolitisasi perilaku ekonomi mereka, menambahkan bahwa H&M tidak akan dapat menghasilkan uang lagi di pasar China.

Setidaknya sudah ada enam toko H&M di Urumqi, Yinchuan, Changchun, dan Lianyungang yang tutup, menurut operator mal di daerah-daerah yang dihubungi kantor berita Bloomberg. Media lokal melaporkan lebih banyak penutupan, dengan gambar yang menunjukkan baliho merek H&M dihapus.

2 dari 4 halaman

Aksi Saling Balas

Ilustrasi H&M
Perbesar
Ilustrasi H&M. (dok. unsplash/Jue Cen)

Amerika Serikat (AS), Inggris Raya, Kanada, dan Uni Eropa telah meningkatkan tekanan terhadap China atas dugaan pelanggaran HAM di Xinjiang, memberlakukan serangkaian sanksi terkoordinasi terhadap pejabat China saat ini dan mantan pejabat China.

Tindakan terkoordinasi tersebut dilakukan beberapa minggu setelah pemerintah AS, serta parlemen Kanada dan Belanda mengatakan perlakuan China terhadap muslim Uighur sama dengan genosida. Washington pun mengumumkan larangan impor pada semua produk kapas dan tomat dari daerah tersebut.

Pemerintah Tiongkok menanggapi sanksi tersebut dengan "tindakan balas dendam." Liga Pemuda Partai Komunis China melancarkan serangan terhadap H&M terkait pernyataan pengecer pakaian terbesar kedua di dunia itu memutus lisensi pembelian kapas Xinjiang karena kesulitan melacak bagaimana bahan itu diproduksi.

Global Times juga mengkritik pernyataan tentang Xinjiang dari Burberry, Adidas, Nike, New Balance, dan Zara. Elijan Anayat, juru bicara pemerintah Xinjiang lainnya, mengatakan bahwa orang China tidak menginginkan produk perusahaan, seperti H&M dan Nike, yang telah memboikot kapas Xinjiang.

Ia bahkan mengundang perusahaan-perusahaan itu untuk melakukan perjalanan ke ladang kapas di Xinjiang untuk melihat sendiri apa yang terjadi.

3 dari 4 halaman

Pakai Masker Boleh Gaya, Biar COVID-19 Mati Gaya

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya
Perbesar
Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓