Aksi Si Bana, Pisang Berjalan-jalan untuk Tekan Kebiasaan Buang-Buang Makanan

Oleh Dinny Mutiah pada 18 Mar 2021, 07:30 WIB
Diperbarui 18 Mar 2021, 07:30 WIB
Warga Negara Bagian di AS Dilarang Buang Sisa Makanan ke Tempat Sampah
Perbesar
Ilustrasi makanan. (dok. Ella Olsson/Pexels.com)

Liputan6.com, Jakarta - Makanan itu berharga, tapi fakta di lapangan mengatakan hal berbeda. Dalam sebuah studi, rata-rata orang Indonesia menghasilkan 23 kilogram sampah makanan per tahun hingga menempatkannya sebagai negara kedua penyumbang sampah makanan terbesar di dunia.

Di sisi lain, masih banyak orang Indonesia tak dapat makanan yang cukup. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebutkan 13,8 persen balita di Indonesia mengalami kurang gizi dan 34 persen rumah tangga di Indonesia masih memanfaatkan raskin.

"Sebetulnya food waste tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di dunia juga. Sekitar 1,3 miliar ton menjadi food lost atau food waste. Itu sepertiga makanan yang diproduksi untuk dikonsumsi," kata Head of Program Greeneration Foundation, Muhammad Fahrian Yovantra, dalam virtual media briefing, Rabu, 17 Maret 2021.

Ia mengatakan mengatasi masalah sampah bukan hanya di hilir, tetapi harus dari awal. Caranya adalah dengan menekan produksi sampah seminimal mungkin sejak dini. Dalam konteks ini, sambung dia, adalah memperkuat pemahaman bahwa makanan bukan hanya sekadar makanan, tetapi sumber daya atau aset yang tidak boleh disia-siakan.

"Enggak hanya tentang makanan, tapi juga manfaatnya untuk kesehatan tubuh," kata Rian.

Selanjutnya, membiasakan menghabiskan makanan. Anak-anak, terutama, juga harus diberi pemahaman bahwa sisa makanan masih sangat bisa dimanfaatkan untuk hal lain, seperti diolah menjadi kompos dan makanan hewan.

"Yang terakhir, harus ada syukur bahwa makanan ini karunia Yang Maha Kuasa," sambung dia.

 

2 dari 4 halaman

Buku Si Bana

Ilustrasi pasar makanan laut
Perbesar
Ilustrasi pasar makanan laut (dok.unsplash/ Zach Inglis)

Mengedukasi tentang pentingnya makanan, kata Rian, semestinya lewat cara-cara menarik agar mereka bisa menangkap lebih baik. Salah satunya lewat buku cerita bergambar. 

Untuk itu, sebuah buku berjudul Si Bana, Pisang Berjalan-jalan diluncurkan. Kandi Sekarwulan, salah satu penulis buku itu mengungkapkan cerita pisang terinspirasi dari kisah perjalanannya ke Pulau Sebesi, Lampung. Pulau itu merupakan salah satu penghasil pisang terbesar dengan beragam jenis pisang dihasilkan.

Lewat cerita Bana si Pisang, ia ingin mengingatkan bahwa butuh proses panjang untuk menyiapkan makanan hingga bisa disajikan di meja makan. "Setiap pisang itu serve different purpose. Saya harap itu menginspirasi anak-anak bahwa setiap orang punya tujuan berbeda-beda untuk diciptakan," imbuh dia.

Buku tersebut bisa diunggah gratis melalui laman Ikea Indonesia. IKEA Food and Commercial Manager, Ririh Dibyono mengungkapkan dukungan dari IKEA atas buku itu sejalan dengan kampanye yang dijalankan bertajuk Food is Precious. Lewat kampanye itu, 31 persen limbah makanan yang setara dengan 15 ribu porsi makanan bisa ditekan.

"Pendidikan sejak dini sangat penting karena itu akan membentuk perilaku mereka saat usia dewasa. Dan, orangtua berperan penting untuk usaha tersebut," sambung dia.

Selain peluncuran buku, IKEA, Greeneration Foundation, dan Kedubes Swedia juga bakal menggelar acara webinar dan workshop berkebun untuk anak-anak. Acara tersebut akan berlangsung pada 10 April 2021 dengan target anak-anak kelas 3--5 SD.

3 dari 4 halaman

Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi

Infografis Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi
Perbesar
Infografis Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓