6 Fakta tentang Maumere, dari Festival Jazz Internasional sampai Angkot Anti-Mainstream

Oleh Asnida Riani pada 09 Mar 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 09 Mar 2021, 08:30 WIB
[Bintang] Nusa Tenggara
Perbesar
Bukit Tanjung Kajuwulu, Maumere, Flores, NTT. (Sumber Foto: joicepapilaya/Instagram)

Liputan6.com, Jakarta - "Maumere merupakan kota penuh dengan nyanyian. Merupakan kata nada pelengkap," makna lirik lagu Gemu Fa Mi Re yang sempat sangat tenar pada 2019 lalu ini boleh jadi awal mula perkenalan lebih banyak orang pada Maumere.

Secara administrasi, wilayah di pesisir utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Sikka dan kota terbesar kedua di Flores setelah Ende. Gema namanya tak senyaring Labuan Bajo, tapi bukan berarti fakta-fakta di balik eksistensinya tak cukup menarik diulik.

Nyatanya, Maumere adalah rumah dari salah satu festival jazz di Indonesia timur, bahkan sempat jadi saksi bisu kunjungan Paus Paulus II di akhir era 80-an. Dari sekian banyak fakta yang memenuhi seantero kota, berikut beberapa di antaranya yang dirangkum dari berbagai sumber, Senin, 8 Maret 2021.

1. Promosikan Pariwisata Lewat Festival Jazz

Pada 2016, Maumere Jazz Festival tercatat sebagai festival musik jazz pertama yang terselenggara di kawasan hutan mangrove. Lokasi acara bertaraf internasional ini membuat pengunjung tak semata disajikan lanskap panorama laut, namun juga barisan bukit sambung-menyambung.

Di samping, hajatan yang memang dimaksudkan untuk mempromosikan pariwisata setempat dengan kearifan lokalnya ini adalah wadah bagi pencinta seni dan musik jazz di kawasan timur Indonesia.

2. Angkutan Umum Anti-Mainstream

Mirip kota-kota besar di Filipina, angkutan kota (angkot) di Maumere disulap semenarik mungkin untuk menggaet penumpang. Aksennya mulai dari lampu warna-warni, ragam cat, dan stiker, tak lupa sistem suara yang tak henti-hentinya bernyanyi.

Penyesuaiannya lekat dengan kultur masyarakat Maumere yang memang menyukai musik dan tarian. Masing-masing angkutan umum diberi nama-nama, seperti Valentino, Alfonso, dan Vernando.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

3. Makam di Depan Rumah

[Bintang] Nusa Tenggara
Perbesar
Pulau Koja Doi, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. (dianiputrisa/Instagram)

Sebagai bentuk penghormatan pada anggota keluarga, Anda masih akan mendapati makam di depan rumah masyarakat Maumere, walau sudah tak semua mengadopsi kultur ini. Nuansanya kian kentara bila berkunjung ke desa-desa adat.

Penanda makam umumnya merupakan batu batu nisan yang menancap di bagian depan, dan dalam beberapa kasus, di samping rumah. Penghormatan pada leluhur memang tak pernah terpisah dari keseharian masyarakat di NTT, termasuk di Maumere.

4. Investasi Gading

Perajin
Perbesar
Hasil karya perajin Sikka, NTT (Liputan6.com/Dion)

Lebih dari emas, gading justru jadi salah satu benda bernilai jual mahal di Maumere. Bahkan, penduduk lokal cenderung menyimpan gading sebagai investasi, karena harganya relatif stabil ketimbang emas.

Dulu, gading merupakan salah satu mahar yang harus dipenuhi mempelai pria. Tapi, karena seiring waktu gading mulai sulit didapat, mahar gading telah digantikan hewan ternak, seperti kuda, kerbau dan sapi.

Maumere juga merupakan rumah bagi para perajin ukir gading. Bahan baku kerajinan ini umumnya terdiri dari gading, tanduk rusa, tulang ikan, kayu, dan bebatuan

5. Lokasi Kunjungan Paus Paulus II

[Bintang] Nusa Tenggara
Perbesar
Pantai Kajuwulu, Maumere, Flores, NTT. (claudygwen/Instagram)

Pada 1989, Paus Yohannes Paulus II memperpanjang kunjungan ke Indonesia untuk mampir ke Maumere. Kedatangan Paus meninggalkan memori tersendiri bagi masyarakat setempat yang mayoritas memang pemeluk Katolik.

Kamar yang dipakai Paus untuk menginap masih dirawat hingga kini dan jadi salah satu obyek wisata religius di Maumere. Lokasi akomodasi itu, yakni di Seminari Tingga Santo Petrus Ritapiret.

6. Kuliner Khas Maumere

[Bintang] Nusa Tenggara
Perbesar
Wogi, kuliner Maumere, Flores, NTT. (capamaumere/Instagram)

Sebelum yang lain, wogi acap kali dianggap sebagai kuliner pembuka ritual makan makanan khas Maumere. Bahan utamanya merupakan ikan teri merah yang hanya muncul di perairan Paga dan sekitarnya pada bulan Oktober sampai Desember.

Setelah ditangkap, ikan teri merah diawetkan dengan cara dicampur garam, lalu dibiarkan selama tiga sampai tujuh hari. Setelah itu, baru bisa dicampur dengan bahan lain, seperti cabai, kecap, dan kemangi.

Ada juga rumpu rampe yang merupakan makanan khas Maumere yang paling populer. Terbuat dari daun pepaya, buah pepaya yang masih mentah, bunga pepaya, dan jantung pisang, rasa makanan ini sedikit pahit.

Tapi, rasanya disebut jadi luar biasa nikmat ketika sudah dipadukan dengan udang rebon. Penyajian rumpu rampe biasanya menggunakan jagung bose maupun nasi putih.

Karena ini daerah pesisir, Anda juga bisa mencicip ragam hidangan laut, termasuk ragam ikan. Beberapa ada yang digoreng, dipanggang, maupun disajikan dengan kuah asam nan segar.

Daripada Jemput Virus Corona, Mendingan Liburan di Rumah

Infografis Daripada Jemput Virus Corona, Mendingan Liburan di Rumah Saja. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Daripada Jemput Virus Corona, Mendingan Liburan di Rumah Saja. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓