6 Fakta Menarik tentang Bukittinggi, Kota Kolonial yang Diciptakan Belanda

Oleh Liputan6.com pada 04 Mar 2021, 09:02 WIB
Diperbarui 04 Mar 2021, 09:02 WIB
Jam Gadang
Perbesar
Jam Gadang yang ada di Bukittinggi, Sumbar. (Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Bukittinggi, kota dengan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat yang bersejarah. Di sini pernah menjadi ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang dipimpin Perdana Menteri Syarifudin Prawiranegara setelah Belanda melancarkan agresi militer II ke Yogyakarta.

Bukittinggi juga dikenal sebagai kota perjuangan dan tempat kelahiran sejumlah tokoh pendiri bangsa. Siapa tak kenal dengan Mohammad Hatta yang merupakan salah satu proklamator? Ada pula Assaat yang merupakan pemangku pejabat Presiden Republik Indonesia pada 27 Desember 1949 – 15 Agustus 1950.

Bukittinggi pun menjadi salah satu ikon pariwisata Provinsi Sumatera Barat. Tempat wisatanya cukup banyak dan terletak berdekatan satu sama lain. Puncak kunjungan biasanya terjadi pada musim lebaran.

Namun, hal-hal menarik tentang Bukittingi tak hanya itu. Liputan6.com telah merangkum enam fakta di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber, Rabu, 3 Maret 2021.

1. Pusat Perdagangan Grosir Terbesar di Pulau Sumatera

Bukittinggi merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatera, terutama komoditas tekstil dan pakaian. Pusat perdagangan utamanya terdapat di Pasar Ateh, Pasar Bawah, dan Pasar Aur Kuning. Namun, pandemi Covid-19 membuatnya sepi pengunjung.

Dari sektor perekonomian, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bukittinggi berada di urutan ke-2 setelah Padang, dengan sektor perdagangan dan jasa menjadi sektor dominan yang menggerakkan aktivitas perekonomian masyarakatnya.

2. Punya Jam Gadang Kembaran Big Ben

Bukittinggi memiliki Jam Gadang yang tak kalah dengan menara jam Big Ben di London. Menara yang menjadi ikon Bukittinggi ini juga mampu menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Meski disebut kembar, faktanya tak demikian. Jam Gadang memiliki tinggi 26 meter, sedangkan Big Ben memiliki ketinggian 96 meter. Puncak menara Jam Gadang berbentuk seperti atap tanduk kerbau yang menjadi ciri khas rumah gadang, sementara Big Ben dibangun dengan puncak menara yang runcing.

Satu hal yang serupa dari ikon Kota Bukittinggi dan London itu adalah mesin yang dipakai di dalam kedua menara ini. Ternyata, mesin yang digunakan pada Jam Gadang sama persis dengan mesin jam Big Ben yang dibuat oleh perusahaan dari Jerman yakni Vortmann Relinghausen. Mesin jam ini hanya ada dua unit di dunia.

 

2 dari 5 halaman

3. Kota Kolonial yang Diciptakan Belanda

Suasana Objek wisata Panorama Ngarai Sianok Bukittinggi sebelum pandemi virus corona. (Liputan6.com/ Novia harlina)
Perbesar
Suasana Objek wisata Panorama Ngarai Sianok Bukittinggi sebelum pandemi virus corona. (Liputan6.com/ Novia harlina)

'Bukittinggi tidak lahir dari rahim kebudayaan Minangkabau', itulah kalimat yang pernah dikatakan Bung Hatta. Berdasarkan sejarah, Bukittinggi diciptakan oleh Belanda untuk menggempur Kaum Padri pada pada 1826.

Pada awal dibangun, Belanda memberi nama Fort de Kock untuk kota berhawa sejuk ini. Fort de Kock merupakan sebuah benteng di puncak bukit. De Kock diambil dari nama seorang perwira Belanda yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yakni Hendrik Merkus de Kock.

Seiring berjalannya waktu kekuasaan pemerintah kolonial Belanda semakin menguat. Benteng ini pun berkembang menjadi sebuah kota administratif.

4. Kota Terbesar Kedua di Sumbar dan Terkecil Keempat di Indonesia

Bukittinggi menjadi kota terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat setelah Padang. Secara de jure, Bukittinggi memiliki luas wilayah 145,29 kilometer persegi, tetapi secara de facto hanya 25,24 kilometer persegi.

Itu karena sebagian masyarakat Kabupaten Agam, Bukittinggi, menolak perluasan wilayah tersebut. Karenanyai, Bukittinggi menjadi kota terkecil urutan keempat se-Indonesia setelah kota Padang Panjang yang memiliki luas 23 km2.

 

 

3 dari 5 halaman

5. Menjadi Kota Wisata Sejak 1984

ibu kota
Perbesar
Istana Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat yang menjadi pusat pemerintahan RI selama peralihan kekuasaan ke PDRI. (Ist)

Sebelum diresmikan sebagai Kota Wisata, sektor pariwisata telah menjadi sumber ekonomi masyarakat Bukittinggi. Namun, upaya pengembangan wisata sebagai landmark Bukittinggi saat itu belum maksimal karena kekhawatiran akan imbasnya, seperti kehadiran wisatawan memengaruhi tatanan nilai dan agama.

Pemerintah lalu memaksimalkan sosialisasi untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang wisatawan. Upaya tersebut akhirnya menjadikan Bukittinggi pada 11 Maret 1984 sebagai Kota Wisata.

6. Surga Pecinta Kuliner

Bukittinggi merupakan surga bagi para pecinta kuliner yang terkenal dengan masakan-masakannya kaya akan cita rasa. Misalnya, Nasi Kapau yang merupakan hidangan yang berasal dari sebuah nagari atau desa bernama Kapau yang terletak di kabupaten Agam, Sumatera Barat. Wujudnya seperti Nasi Padang yang disajikan dengan banyak pilihan lauk pauk untuk menemani nasi putih. (Melia Setiawati)

4 dari 5 halaman

Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama 2021

Infografis Libur Nasional dan Cuti Bersama 2021
Perbesar
Infografis Libur Nasional dan Cuti Bersama 2021 (Liputan6.com/Abdillah)
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓