6 Fakta Menarik tentang Tasikmalaya yang Pernah Berjuluk Delhi van Java

Oleh Liputan6.com pada 25 Feb 2021, 09:02 WIB
Diperbarui 25 Feb 2021, 09:02 WIB
Dengan pemandangan alam yang ciamik, kawasan wisata alam Situ Gede, Kota Tasikmalaya, memberkan sejumlah keindahan saat menikati liburan di sana.
Perbesar
Dengan pemandangan alam yang ciamik, kawasan wisata alam Situ Gede, Kota Tasikmalaya, memberkan sejumlah keindahan saat menikati liburan di sana. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Jakarta - Tasikmalaya merupakan wilayah yang terletak di wilayah tenggara Jawa Barat. Terdiri dari kabupaten dan kota seluas 2.708,81 km persegi. Wilayah itu berbatasan langsung dengan Majalengka dan Ciamis.

Dulu, Tasikmalaya dikenal dengan julukan Mutiara dari Priangan Timur. Selain itu, Tasikmalaya juga dikenal sebagai Delhi van Java. Julukan  itu disematkan karena kontur sebagian besar wilayah Tasikmalaya merupakan daerah perbukitan, terutama di daerah timur, mirip dengan Delhi, India.

Wilayah ini juga dilalui oleh rantai gunung berapi di Pulau Jawa. Karena kondisi geografis tersebut, kota itu secara alami memiliki tanah yang kaya dan subur, serta memberikan kelimpahan sumber daya air.

Namun, hal-hal menarik tentang Tasikmalaya tak hanya itu. Liputan6.com merangkum enam fakta di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber, Rabu, 24 Februari 2021.

1. Kota Santri

Julukan Tasikmalaya yang kerap didengar kini adalah Kota Santri, khususnya di era sebelum 1980an. Itu lantaran banyak pondok pesantren berdiri di hampir semua sudut di kota ini. Bahkan, ada tokoh pejuang nasional lahir dari pesantren di Tasikmalaya, yakni Zainal Mustafa.

Tasikmalaya juga tercatat sebagai salah satu kota santri yang memiliki jumlah pondok pesantren terbanyak di Indonesia pada 2019. Berdasarkan data yang diunggah oleh Pangkalan Data Pondok Pesantren Kemenag RI, Rabu, 24 Februari 2021, sekitar 1318 pesantren ada di Kabupaten Tasikmalaya dan 206 pesantren di Kota Tasikmalaya.

2. Berkali-kali Ganti Nama

Berdasarkan literatur sejarah, sebelum menjadi Kabupaten Tasikmalaya seperti sekarang, daerah ini semula berbentuk Kabuyutan atau tempat keagamaan pada masa pengaruh kebudayaan umat Hindu. Namanya Kabuyutan Galunggung yang berdiri pada 1111 Masehi.

Kabuyutan itu kemudian berubah menjadi sebuah kerajaan yang dibuktikan lewat penemuan Prasasti Geger Hanjuang. Nama Galunggung pun diubah menjadi Sukakerta yang beribu kota di Rumantak. Raja pertamanya adalah Dewi Citrawati yang bergelar Batari Hyang Janapati.

Sukakerta merupakan cikal bakal kebupatian Sukapura yang berpusat di Dayeuh Tengah. Wilayah ini menjadi salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Sunda Padjajaran yang berpusat di Pakuan.

Setelah perjalanan yang sekian lama, pada 26 Juli 1632, Sultan Agung mengangkat Umbul Sukakerta, yakni Ki Wirawangsa, menjadi Mantri Agung Bupati Sukapura. Tak lama berselang, ibu kota Kabupaten dipindahkan ke Sukapura, tepatnya di Leuwilowa, yang kini masuk Kecamatan Sukaraja.

Lalu pada 1913, pemerintah Hindia Belanda mengukuhkan Tasikmalaya menjadi nama kabupaten, menggantikan Sukapura. Momentum perubahan nama ini diabadikan dalam sebuah motto “Tasikmalaya, Sukapura Ngadaun Ngora” atau Tasikmalaya ada Sukapura baru.

 

 

2 dari 5 halaman

3. Masjid Bersejarah yang Menjadi Ikon Tasikmalaya

Kemenpar memberikan support untuk wisata religi Dzikir Akbar di Masjid Agung Tasikmalaya.
Perbesar
Kemenpar memberikan support untuk wisata religi Dzikir Akbar di Masjid Agung Tasikmalaya.

Masjid Agung Tasikmalaya terletak di sebuah persimpangan Jalan K.H. Z Mustofa, Jalan dr. Soekarjo, Jalan Yudanegara, dan Jalan Otto Iskandar Dinata. Berdiri di atas lahan seluas 7.215 meter persegi, bangunan ini mendampingi sejarah perkembangan Tasikmalaya.

Masjid seluas 2.456 meter persegi itu dibangun pada masa Kepemimpinan Raden Tumenggung Aria Surya Atmadja, seorang Bupati Sumedang pada masanya. Setelah selesai dibangun pada 1888 Masehi, masjid diserahkan kepada Patih Tasikmalaya yang bernama Raden Demang Soekma Amidjaja. 

Masjid ini memiliki aksen warna kuning dengan menara mirip Masjidil Haram. Di samping nilai estetikanya, arsitektur Masjid Agung Tasikmalaya mengandung filosofi. Atap berjumlah lima mencerminkan kewajiban seorang muslim untuk menjalankan salat lima waktu. Selain itu, jumlah atap mencerminkan lima rukun Islam. Sementara, menara masjid yang menjulang tinggi dan terbagi menjadi tiga menjadi cerminan tingkat kesempurnaan sebagai seorang muslim, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

4. Kaya akan Tempat Wisata

Tasikmalaya menawarkan berbagai keindahan alam yang tak kalah dari wisata daerah lain. Dari Gunung Galunggung, Situ Gede, Tonjong Kanyon, Curug Dengdeng, hingga Pantai Cipatujah, sedikit dari lebih banyak lagi destinasi alam yang tak boleh dilewatkan saat melancong ke sini.

Situ Gede, misalnya, merupakan danau seluas sekitar 47 hektare yang berada tak jauh dari Kota Tasikmalaya. Fungsinya adalah sumber irigasi bagi persawahan di sekitarnya. Di sini, wisatawan dapat berkeliling danau menggunakan perahu yang tersedia dan berfoto dengan latar belakang danau yang luas.

Adapun Gunung Galunggung adalah gunung berapi yang memiliki ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut. Berada di Kabupaten gunung ini berjarak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya. Beberapa waktu lalu, Gunung Galunggung sempat menarik perhatian dikarenakan air terjun yang muncul secara tiba-tiba di kaki gunung tersebut. Ada pula kawahnya yang jadi salah satu atraksi menarik.

 

 

3 dari 5 halaman

5. 3 Batik Khas

Rumah Adat Kampung Naga Tasikmalaya
Perbesar
Rumah Adat Kampung Naga Tasikmalaya (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Tasikmalaya juga memiliki kekayaan budaya berupa motif batik yang khas. Secara umum, batik khas Tasikmalaya menampilkan warna dan motif yang menunjukkan kesederhanaan, terbuka, apa adanya, komunikatif serta beragam, sehingga terkesan cantik, indah, dan istimewa.

Melansir Info Batik, Rabu, 24 Februari 2021, terdapat tiga motif terkenal dari Tasikmalaya. Motif pertama merupakan Sukapura (Sukaraja) yang sepintas motifnya mirip dengan batik asal Madura. Memiliki motif yang kontras baik dari segi ujuran maupun tata warnanya menjadi ciri utama batik motif Sukapura ini. Tidak hanya itu, ciri khas lain dari batik Sukapura adalah dominan menggunakan warna-warna tanah.

Lalu, motif kedua adalah Sawoan dengan menggunakan ciri khas motif buah. Warna yang digunakannya warna-warna indigo dan terdapat bercak-bercak putih pada motif batik Sawoan ini. Sementara, motif ketiga yakni batik Tasik atau Tasikan. Batik Tasikan menggunakan komposisi warna yang lebih cerah dan kaya warna.

6. Kuliner Tradisional Tasikmalaya

Salah satu kuliner khas Tasikmalaya adalah Nasi Tutug Oncom atau Nasi TO Tasik. Isinyai nasi putih, oncom, bawang merah, bawang putih, kencur, cabai rawit, kemangi, garam, dan gula serta tambahan lauk pelengkap. Dalam bahasa Sunda, tutug berarti menumbuk. Itu merujuk cara pembuatan tutug oncom yang nasinya diaduk serta ditumbuk dengan oncom.

Ada juga kolontong, camilan khas Tasikmalaya yang terbuat dari beras ketan yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bumbu khusus sehingga menghasilkan sajian makanan ringan yang gurih. Kolontong ini dibuat seperti ketika membuat opak. Setelah menjadi opak, kolontong harus diproses kembali yaitu dengan proses pemanasan. (Melia Setiawati)

4 dari 5 halaman

Merancang Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur

Infografis Merancang Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur
Perbesar
Infografis Merancang Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur. (Liputan6.com/Abdillah)
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓