Cara Kurangi Asupan Garam Berlebihan yang Bisa Turunkan Imun Tubuh

Oleh Liputan6.com pada 10 Jan 2021, 05:02 WIB
Diperbarui 10 Jan 2021, 05:02 WIB
Ilustrasi garam dan lada (Pixabay)
Perbesar
Ilustrasi garam dan lada (Pixabay)

Jakarta - Makanan yang kita konsumsi sehari-hari mungkin hampir semuanya mengandung atau menggunakan garam. Banyak yang merasa kalau makanan tak akan sedap dan hambar kalau tanpa garam.  Di sisi lain, asupan garam yang terlalu tinggi berisiko menyebabkan berbagai penyakit seperti hipertensi hingga dapat mengakibatkan penyakit degeneratif seperti stroke, hingga gagal jantung.

Sebaliknya, jika kekurangan, efeknya adalah gangguan fungsi otot dan saraf, gangguan kontrol gula darah, dan lain lain. Karena itu, sangat penting untuk menjaga asupan konsumsi garam setiap hari, apalagi di masa pandemi corona COVID-19 ini.

Konsumsi garam berlebih kerap dikaitkan dengan gangguan imunitas tubuh. Kaitan antara mengonsumsi garam berlebih dengan turunnya sistem imun tubuh pernah diungkap oleh para peneliti dari University of Bonn, Jerman yang diterbitkan dalam jurnal universitas pada Maret 2020.

Para ilmuwan menemukan bahwa efek konsumsi garam berlebihan dapat menekan kinerja hormon yang memengaruhi sistem imun tubuh. Konsumsi garam berlebihan juga disebut dapat memicu penumpukan zat sisa buangan tubuh (urea) di ginjal. Kondisi tersebut bisa menekan kemampuan sel darah putih untuk memerangi infeksi bakteri.

Pakar kesehatan sekaligus Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Profesor Hardinsyah dari IPB mengatakan ada beberapa cara untuk mengendalikan asupan garam yang sesuai dengan kebiasaan atau pola konsumsi masyarakat Indonesia.

"Tak bisa dipungkiri, kebiasaan masyarakat Indonesia dalam membuat masakan memang banyak menggunakan bumbu dan rempah yang memiliki cita rasa tinggi, sedangkan dalam berbagai bumbu dan rempah itu juga sudah cukup banyak terkandung natrium," terang Prof Hardinsyah dalam siaran pers yang dikutip dari Antara, Rabu, 6 Januari 2021.

"Cara yang sesuai adalah jika masakan kita sudah banyak menggunakan berbagai bumbu rempah adalah dengan hanya menambahkan garam dapur dalam jumlah yang sedikit sekali," sambungnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Diet Rendah Garam

Ilustrasi makan bersama.
Perbesar
Ilustrasi makan bersama. (iStockphoto)

Untuk diet rendah garam, Prof Hardinsyah menyarankan agar mengganti garam dengan bumbu umami seperti MSG bisa dijadikan solusi. "Banyak penelitian di luar negeri seperti di Jepang, menunjukkan kalau penggunaan MSG bisa menjadi strategi diet rendah garam. Alasannya, kandungan natrium dalam MSG hanya sepertiga dari kandungan natrium pada garam dapur biasa," ucapnya.

Ia juga mengatakan bahwa MSG aman dikonsumsi karena Asam glutamat dalam MSG sama dengan asam glutamat yang ditemukan secara alami. Bahkan menurut JECFA (Joint Expert Committe on Food Additive) WHO/FAO, nilai ADI (Acceptable Daily Intake) untuk MSG tidak dinyatakan (not specified).

Sementara, berdasarkan Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Pangan, penggunaan MSG di Indonesia diijinkan dengan batas maksimum penggunaan 'secukupnya'.  "Secara alami, sensor rasa di lidah akan membatasi jumlah MSG dengan sendirinya," tutup Profesor Hardinsyah.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19

Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓