60 Mahasiswa Terima Bantuan Dana Penelitian dari Indofood Riset Nugraha

Oleh Putu Elmira pada 21 Okt 2020, 18:02 WIB
Diperbarui 21 Okt 2020, 18:02 WIB
Ilustrasi Riset
Perbesar
Ilustrasi riset. (dok. Unsplash.com/Dan Dimmock @dandimmock)

Liputan6.com, Jakarta - Indofood Riset Nugraha (IRN) di periode 2020--2021 ini telah meloloskan 60 mahasiswa yang akan menerima dana bantuan penelitian. Meski digelar di masa pandemi, program tersebut tetap direspons luar biasa.

Salah seorang Tim Pakar IRN Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, MSc. menyampaikan, timnya telah bekerja, membaca, dan menelaah semua proposal yang masuk yang mencapai 300 proposal. Proposal tersebut dikirim oleh para mahasiswa dari sekitar 38 perguruan tinggi di Jawa dan luar Jawa.

"Terpilih secara kompetitif 60 proposal penelitian berasal dari 31 perguruan tinggi yang kita anggap sangat layak untuk diberi bantuan dana untuk pelaksanaan penelitian dan ke-60 mahasiswa mengikuti penandatanganan kontrak," kata Prof. Purwiyatno dalam bincang virtual pada Rabu (21/10/2020).

Guru Besar IPB itu juga menyebutkan, program IRN telah menjadi program yang menyatu dengan kalender kegiatan akademik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. IRN juga kerap dicari oleh mahasiswa, terkhusus bagi mereka yang akan menyelesaikan tugas akhir.

"Karena itu ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan memaksa beberapa program dari berbagai organisasi harus dihentikan dan dibatalkan, kami panelis IRN mengusulkan kepada PT. Indofood agar tetap menjalankan program IRN ini," lanjutnya.

Adapun pertimbangan lain dari para panelis adalah IRN 2020--2021 ini diperlukan oleh mahasiswa untuk tetap semangat meneliti. Indofood mengamini pengajuan tersebut hingga IRN tahun ini dapat terselenggara.

"Respons dari mahasiswa terhadap IRN 2020--2021 sangat besar. Kegiatan sosialisasi kami lakukan secara virtual dan disambut baik oleh mahasiswa milenial," jelas Prof. Purwiyatno.

2 dari 3 halaman

Pancing Ide Kreatif

Ilustrasi penelitian
Perbesar
Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

Prof. Purwiyatno menambahkan, sesuai karakter, mahasiswa milenial memiliki cara berpikir yang milenial pula. Untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhannya, para mereka mampu melahirkan ide-ide baru, tak hanya bersifat inovatif tetapi juga disruptif.

"Ide-ide demikian yang diperlukan oleh pembangunan pangan khususnya di Indonesia, apalagi di era saat ini. Karena alasan itu, IRN mengundang mahasiswa untuk menuliskan ide-ide tersebut dalam bentuk proposal penelitian, tentu setelah konsultasi dengan para dosen pembimbing," terangnya.

Prof. Purwiyatno mengatakan, hal ini sesuai dengan salah satu tujuan IRN, yakni mendorong terciptanya ide-ide kreatif dan inovatif untuk memecahkan masalah pangan lokal dan nasional. "IRN diharapkan bisa menjadi wahana berlatih yang efektif bagi calon peneliti masa depan bangsa yang kini sebagai mahasiswa," jelasnya.

Selain memberi dana riset hingga Rp20 juta per orang, mahasiswa juga akan dibimbing langsung dari Dewan Pakar IRN. Jangka waktu penelitiannya paling lama satu tahun.

Objek penelitiannya, mulai sumber daya pangan lokal, baik berasal dari darat maupun laut, aneka pangan sumber karbohidrat (seperti serelia jagung, sorgum, gandum, aneka umbi, dan lainnya), kelapa dan kelapa sawit, rempah-rempah, hasil ternak, hasil laut dan perikanan serta produk pangan lokal unggul lainnya. Juga, bidang penelitiannya, meliputi bidang produksi (agro teknologi), teknologi (pasca-panen dan pengolahan), kesehatan dan gizi masyarakat, serta bidang sosial ekonomi dan budaya.

Infografis Jangan Remehkan Cara Pakai Masker
Perbesar
Infografis Jangan Remehkan Cara Pakai Masker (Liputan6.com/Abdillah)
3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓