Usaha Edward Hutabarat Memoles Kain Ulos agar Lebih Modis

Oleh Asnida Riani pada 21 Okt 2020, 09:02 WIB
Diperbarui 21 Okt 2020, 09:02 WIB
Ulos in Innovation
Perbesar
Ulos in Innovation, Adaptasi Gaya Manhattan dari Kain Peradaban Sumatera Utara Ala Edward Hutabarat. Sumber foto: Document/The Dharmawangsa.

Liputan6.com, Jakarta - Empat dekade sudah desainer Edward Hutabarat berkecimpung di dunia fesyen. Dalam perjalanan yang tentu tak bisa disebut singkat, karya-karyanya telah menyoroti ragam kain wastra sarat makna.

Satu yang kian lekat dengannya adalah ulos. Bagi desainer yang akrab disapa Edo ini, ulos adalah kain peradaban yang diciptakan untuk melengkapi seremoni. "Dari lahir, sampai semua acara penting dalam hidup," katanya lewat sambungan telepon pada Liputan6.com, Selasa, 20 Oktober 2020.

Maka itu, saat pertama menampilkan koleksi kain ulos tempaannya, Edward sengaja memilih tanah leluhur, Tarutung. Ia pun sempat sowan ke makam Raja Sidabutar di Pulau Samosir.

"Sebagai bentuk selebrasi di tanah leluhur," ungkap sang desainer. "Ada kehati-hatian, ada cinta, ada kenduri karena tanah leluhur tidak bisa dibeli di imigrasi."

Menurut Edward, tak mudah berbicara soal tanah leluhur. Karenanya, dalam proses desain, ia mengaku membiarkan karyanya mengalir berdasarkan jiwa. "Tidak ada. Santai saja," katanya menjawab pakem dalam mengolah kain ulos.

Karya-karya Edward Hutabarat pun diakuinya tak berdasarkan permintaan pasar. Alih-alih, ia membentuk demand publik untuk menikmati karya-karyanya. "Caranya bagaimana (supaya publik memerhatikan)? Tangkap jiwanya. Busana saya memang untuk dikoleksi," ujar desainer senior tersebut.

 

2 dari 3 halaman

Inovasi Kain Ulos

Ulos in Innovation
Perbesar
Ulos in Innovation, Adaptasi Gaya Manhattan dari Kain Peradaban Sumatera Utara Ala Edward Hutabarat. Sumber foto: Document/The Dharmawangsa.

Lewat karya-karyanya, Edward Hutabarat bermaksud mengembangkan kain ulos yang fungsional, bertahan lama, modis, berkualitas, dan santun. "Santun ini bisa dilihat secara look," katanya.

Dengan demikian, pemakaiannya juga sangat mungkin diadopsi ke busana sehari-hari. Karyanya terefleksi mulai dari outer, atasan, bawahan, selimut, sampai masker yang dirilis secara eksklusif.

Karena proses kreatifnya dibiarkan mengalir, Edward mengaku tak pernah punya story board. "Jadi, saya juga tidak tahu kapan karya itu akan keluar, kapan akan lahir. Ada kecintaan, ada passion. Tidak ada ambisi pribadi. Jadi, semua mengalir secara hati," tuturnya.

Berkarya dengan cinta disebutkannya sebagai cara berdamai dengan pandemi. "Di Instagram itu saya tidak jual baju, tapi formula. Semua terbuat dari kain peradaban," tandas Edward.

infografis batik dunia
Perbesar
Batik-batik Berbagai Negara
3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓