Masa Depan Mukbang Usai Dianggap Buang-Buang Makanan

Oleh Asnida Riani pada 19 Agu 2020, 03:01 WIB
Diperbarui 19 Agu 2020, 03:01 WIB
makanan tradisional-kezo
Perbesar
ilustrasi mukbang/pexels

Liputan6.com, Jakarta - Makan makanan dalam jumlah luar biasa banyak atau lebih populer dengan istilah mukbang tentu bukanlah pemandangan asing sejak beberapa tahun lalu. Konten macam ini cukup laris-manis dan digemari tak sedikit orang.

Kepopuleran mukbang membuat tak sedikit orang melakukannya dengan pilihan makanan bervariasi. Umumnya mereka memilih makanan tengah populer atau di lain waktu, bisa juga sajian lebih familar, seperti satai atau bakpao.

Tapi di Tiongkok, seperti dilansir laman South China Morning Post, Selasa (18/6/2020), mukbang terancam tak lagi eksis. Kanal berita setempat, CCTV, mengkritisi konten tersebut sebagai contoh ekstrem sampah makanan.

Tanggapan ini pun mencul setelah Presiden Xi Jinping mengimbau untuk mengurangi sampah makanan bagi warga Negeri Tirai Bambu. Sebagai respons, beberapa pembuat video mukbang telah menghapus rekam gambar tersebut dari akun media sosial mereka.

Sebelumnya, mereka sudah terlihat makan makanan dalam jumlah luar biasa banyak. Beberapa kali dalam sederet rekaman gambar, mereka pun sempat memuntahkan kembali makanan usai dikunyah.

Platform video yang mengakomodasi konten mukbang, Douyin, pun mengambil langkah sebagai bentuk regulasi. Pihaknya disebut akan menghukum pihak yang tampak membuang-buang makanan. "Kami mengajak pengguna kami untuk menghargai makanan," tuturnya.

2 dari 3 halaman

Regulasi Baru untuk Cegah Sampah Makanan

Ilustrasi Makanan Jepang
Perbesar
Ilustrasi mukbang. (dok. Pixabay)

Sebagai bentuk langkah regulasi, pihaknya pun telah membatalkan penerbitan beberapa video. Juga, pesan-pesan peringatan tampak menghiasi laman tersebut. "Katakan tidak pada kebiasaan buang-buang makanan. Jaga diet yang seimbang dan tetap sehat," begitu bunyi salah satunya.

Beberapa pengguna pun turut menyebarkan pesan serupa. "Tolong hargai makanan dan jaga pola makan yang masuk akal," tulis salah satunya.

Peringatan ini pun mengundang ragam reaksi. Beberapa setuju karena sempat mendapati sejumlah pihak memanfaatkan mukbang hanya untuk konten, bukan menunjukkan kebiasaan makan. Tapi, ada pula yang menganggap konten ini membantu saat hilang nafsu makan.

"Sebenarnya tidak apa-apa mukbang, tapi jangan sampai buang-buang makanan," komentar salah satu warganet. "Dari dulu saya selalu menganggap ini sebagai kebiasaan mubazir. Padahal masih banyak orang yang susah makan," timpal yang lain.

Infografis 4 Sanksi Pelanggar Protokol Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 4 Sanksi Pelanggar Protokol Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓