Studi: Perubahan Iklim Berdampak pada Risiko Kehamilan

Oleh Asnida Riani pada 24 Jun 2020, 22:02 WIB
Diperbarui 24 Jun 2020, 22:02 WIB
[Fimela] Ibu Hamil
Perbesar
Ilustrasi Ibu Hamil | unsplash.com/@naaatsnaps

Liputan6.com, Jakarta - Merujuk pada studi terbaru yang dilakukan The Journal of the American Medical Association, perubahan iklim berdampak pada risiko kehamilan. Mengutip laman Vogue, Rabu (24/6/2020), paparan kenaikan suhu dan polusi udara adalah dua faktor utama dalam masalah tersebut.

Mengulas kembali 57 penelitian tentang faktor lingkungan pada kehamilan, tim peneliti menemukan sederet masalah, seperti kelahiran sebelum 37 minggu, bayi lahir kurang berat badan, dan kematian bayi di dalam rahim.

Analisa risiko kehamilan dengan melibatkan 32 juta kelahiran di Amerika Serikat ini menemukan bahwa 84 persen di antaranya menunjukkan temperatur udara tinggi dan polusi udara sebagai faktor penyebab.

"Perubahan iklim adalah kekhawatiran kesehatan perempuan hamil, sekaligus sebagai tantangan kesehatan terkait rasisme," kaya Dr. Jessica Shepherd. Ia menjelaskan bahwa perbedaan sistem bagi perempuan kulit hitam yang sudah berlangsung sekian lama juga memengaruhi risiko kehamilan komunitas tersebut.

Bagi Rupa Basu dari Environmental Health Hazard Assessment di California, penemuan ini sangat menarik sekaligus penting. "Bila dicermati lebih lanjut, khusus polusi udara, saya pikir lebih berdampak pada kehamilan perempuan kulit hitam karena letak tempat tinggal mereka banyak dekat jalan-jalan besar," paparnya.

Berdasarkan data tahun 2018, hampir 50 persen kelahiran lebih awal dialami perempuan kulit hitam.

 

2 dari 3 halaman

Lingkaran yang Harus Diputus

pregnant-kezo
Perbesar
ilustrasi ibu hamil/unsplash

Harriet A. Washington, seorang ahli medis sekaligus penulis buku A Terrible Thing to Waste: Environmental Racism and Its Assault on the American Mind, mengatakan bahwa krisis ini sangat mungkin berkelanjutan.

"Banyak sekali isu lingkungan yang bisa jadi masalah untuk para ibu dan tentu berdampak pada jabang bayi. Tapi, beberapa di antaranya merupakan bawaan lahir seorang ibu yang didapat saat ia masih dalam kandungan," ucapnya.

Variabel baru ini, sambung Washington, membuat para pahli harus kembali melakukan penelitian lanjutan terkait dampak lingkungan pada kehamilan. Juga, bagaimana rasisme berpengaruh pada kesehatan perempuan.

"Penggambarannya seperti gunung es. Sekarang kita baru melihat puncaknya, bagian bawah yang besar dan banyak masalah belum terkuak. Makanya harus ada penggalian lebih lanjut terkait dampak pada kesehatan ibu hamil," kata Dr. Shepherd.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓