Sederet Paspor Paling Sakti di Dunia Saat Pandemi Corona Covid-19

Oleh Komarudin pada 22 Jun 2020, 17:03 WIB
Diperbarui 22 Jun 2020, 17:20 WIB
Ilustrasi Paspor
Perbesar
Ilustrasi Paspor (Dok.Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah paspor lebih dari sekadar cara untuk mengambil liburan lebih dari dua minggu. Paspor juga berarti menunjukkan tempat Anda di dunia, di mana Anda bisa tinggal dan berapa lama, manfaat yang berhak didapatkan, serta bagaimana pemilik diperlakukan di seluruh dunia.

Studi terbaru dari Henley Passport Index baru-baru ini, menghitung sejumlah paspor paling kuat di dunia pada 2020. Termasuk di mana warga negaranya yang dapat bepergian secara bebas tanpa memerlukan visa, seperti dikutip dari Forbes, Senin (22/6/2020).

Jepang berada di posisi teratas, setelah sempat seri dengan Singapura pada 2019. Tetapi berkat perubahan dalam persyaratan masuk oleh Brasil, warga negara Jepang sekarang dapat masuk tanpa visa . Hal itu yang membuat Jepang berada di posisi teratas pada 2020, dengan akses ke-191 negara bebas visa.

Singapura menempati tempat kedua, sedangkan Jerman dan Korea Selatan seri dengan menempati posisi ketiga dengan akses ke-189 negara.

Statista melaporkan bahwa pemilik paspor Prancis, Jerman, Finlandia, Luxemburg, dan Italia, semuanya dapat mengakses 188 negara tanpa visa yang telah diatur sebelumnya. Inggris dan AS sama-sama berada di posisi ketujuh dengan akses ke-185 negara.

Sementara itu, paspor yang memiliki akses bebas visa paling sedikit adalah Suriah dengan 29 negara, Irak dengan 28 negara. Negara paling sedikit aksesnya atau berada di posisi terendah adalah Afghanistan dengan akses hanya 26 negara tanpa visa.

2 dari 3 halaman

Sebelum Pandemi dan Lockdown

Berdasarkan rilis dari Henley menyebutkan bahwa hasil tersebut sebelum pandemi Covid-19 dan sebelum diberlakukan lockdown.

"Dengan 3,5 miliar orang, hampir setengah dari populasi global, saat ini hidup dalam kurungan sukarela atau wajib. Hasil terbaru menimbulkan pertanyaan yang menantang tentang apa arti sebenarnya kebebasan perjalanan dan mobilitas global, baik saat ini dan di masa depan pasca-pandemi yang sangat tidak pasti," tulis Henley dalam keterangan persnya.

Selama beberapa bulan terakhir, paspor yang kuat telah kehilangan makna karena hampir semua orang tidak dapat bepergian akibat pembatasan aturan kesehatan. Komdisi itu membuat banyak paspor menjadi kurang sakti, sama seperti banyak negara di bagian bawah daftar.

Dalam jangka panjang, keputusan ini juga dapat menyebabkan orang-orang pindah dari daerah di mana pandemi kurang dikelola dengan baik dengan penyediaan layanan kesehatan yang lebih buruk, menuju ke tempat-tempat yang merespons pandemi dengan cara yang lebih baik, baik layanan kesehatan maupun transportasi.

Keputusan Brexit juga dinilai masih belum sepenuhnya memengaruhi kekuatan paspor Inggris. Inggris saat ini berada di tempat ketujuh dengan akses ke 185 negara bebas visa.

Namun, posisi ini masih harus dikaji ulang setelah akhir gerakan bebas di Uni Eropa diberlakukan pada Januari 2021, tetapi negosiasi Brexit tertunda karena pandemi.

Hasil studi Henley Passport Index mengambil data dari Otoritas Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Authority/IATA) menggunakan 199 paspor berbeda dan 227 kemungkinan tujuan berbeda. Setelah itu, dilakukan referensi silang kemungkinan membutuhkan visa untuk setiap tempat berbeda dengan paspor yang berbeda.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓