Kurangi Sampah Plastik Mulai dari Rumah di Era New Normal

Oleh Komarudin pada 12 Jun 2020, 11:03 WIB
Diperbarui 12 Jun 2020, 11:03 WIB
Ilustrasi Sampah
Perbesar
Ilustrasi sampah (dok. Pixabay.com/Putu Elmira)

Liputan6.com, Jakarta - Persoalan sampah menjadi perhatian berbagai kalangan saat ini, mulai dari akademisi, perusahaan, organisasi nirlaba, juga pemerintah, serta masyarakat. Peningkatan sampah juga terjadi selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan adanya penggunaan layanan pesan antar.

"Dengan adanya  Covid-19 ini, kita sangat tergantung pada online atau layanan antar ke rumah. Mau tidak mau, itu semua menggunakan kantong plastik, termasuk saat kita beli barang elektronik," ujar pakar teknologi lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri, saat webinar 'Menjaga Kesehatan Lingkungan Indonesia dari Rumah Saat New Normal' yang diselenggarakan Danone-Aqua, Kamis, 11 Juni 2020.

Bungkus barang elektronik itu, kata Enri, menggunakan plastik yang berlapis-lapis. Begitu juga saat beli barang yang lain, agar barang tidak pecah, harus dibungkus dengan busa dan plastik.

"Ini yang sekarang menjadi beban di rumah tangga. Kemasan-kemasan bertambah banyak. Semoga dengan normal kembali, kebiasaan untuk menggunakan plastik sekali pakai makin berkurang yang bisa dimulai dari rumah," imbuh Enri.

Pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada konsep kumpul-angkut-buang, tetapi harus melibatkan semua pihak. Produsen, misalnya, memiliki tanggung jawab untuk mengurangi sampah dengan inovasi kemasan dan model bisnis, contohnya dengan memilih produk dengan kemasan guna ulang yang bisa dikembalikan, termasuk galon guna ulang.

"Sebisa mungkin, konsumen perlu memilih produk yang sifatnya sirkular atau bisa dikembalikan agar jumlah sampah yang dihasilkan bisa ditekan. Selain itu, penting juga memilah sampah rumah tangga atau bahkan mengolah sampah organik di rumah untuk kegunaan lain seperti kompos misalnya," ujar Enri.

2 dari 3 halaman

Bijak Berplastik

Sampah di Indonesia
Perbesar
Ilustrasi masalah sampah di Indonesia. (Liputan6.com/HO/Eko)

Upaya untuk mengurangi sampah juga dilakukan Danone-AQUA yang telah menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam setiap lini produknya termasuk memperkenlkan inovasi galon guna ulang pertama di Indonesia pada 1983. Saat ini, galon mencakup 70 persen volume bisnis Danone-AQUA yang berarti sepenuhnya sirkular.

"Kami akan terus berinovasi untuk membantu pemerintah mewujudkan ambisinya mengurangi 70 persen sampah di laut pada 2025 dengan mengumpulkan lebih banyak plastik dari yang kami gunakan pada tahun yang sama lewat gerakan Bijak Berplastik. Tujuannya adalah mewujudkan lingkungan Indonesia yang lebih bersih dan sehat," papar ujar Sustainable Development Director Danone-AQUA Karyanto Wibowo.

Terkait pengeolalan sampah, pemerintah telah menerbitkan kebijakan untuk mewujudkan peta jalan pengurangan sampah oleh produsen yang dapat menjadi panduan bagi upaya pengurangan sampah menuju era baru pengelolaan sampah. Peran produsen menjadi salah satu elemen penting dalam mewujudkan manajemen pengelolaan sampah yang lebih baik.

Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia Dr. Ir. Novrizal Tahar mengaku KLHK juga memantau dan mengawasi upaya produsen dalam mengurangi sampah melalui pengumpulan data jumlah dan jenis bahan baku produk dan kemasan yang digunakan.

"Sementara itu kampanye pengurangan sampah dari rumah terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menekan jumlah timbulan sampah secara nasional. Seperti contohnya memilih produk yang dapat dikomposkan, didaur ulang, dan dapat diguna ulang," ujarnya 

Dukungan untuk tetap memperhatikan lingkungan dalam menghadapi New Normal juga datang dari Swietenia Puspa Lestari, pendiri Divers Clean Action (DCA), sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada permasalahan sampah di lautan dan pengembangan masyarakat pesisir.

"Ada beberapa gerakan yang masyarakat bisa ikuti untuk menjaga lingkungan di tengah New Normal. Selain Bijak Berplastik Danone-AQUA, masyarakat juga bisa menggunakan masker guna ulang bagi yang sehat agar lebih mudah membedakan mana sampah infeksius dari rumah tangga. Selain itu menggunakan alat makan cuci ulang, dan memilah sampah dari rumah agar membantu pengelolaan sampah yang optimal dan tidak mencemari lingkungan," ujar Swietenia yang merupakan salah satu dari 100 perempuan inspiratif di dunia versi BBC 2019.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini :

Lanjutkan Membaca ↓