New Normal Sektor Pariwisata, Bagaimana Kriteria Destinasi yang Bakal Lebih Dulu Dibuka?

Oleh Asnida Riani pada 11 Jun 2020, 07:01 WIB
Diperbarui 11 Jun 2020, 07:01 WIB
Ilustrasi
Perbesar
Ilustrasi travel. (dok. Pexels/Artem Beliaikin)

Liputan6.com, Jakarta - Menghadapi new normal, Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf Agustini Rahayu mengatakan pada Juni, pihaknya tengah mempersiapkan protokol Clean, Health, and Safety (CHS) untuk diimplementasikan.

"Kami harap minggu ini guideline-nya sudah selesai," katanya dalam webinar bertajuk "New Normal di Industri Travel" Rabu, 10 Juni 2020. Protokol CHS sendiri dijelaskannya merupakan harmonisasi dari berbagai stakeholders, termasuk mengadopsi protokol dari United Nation World Tourism Organization (UNWTO).

"Soal implementasi (protokol CHS) memang harus disesuaikan dengan karakter destinasi masing-masing. Guideline ini nantinya akan ditambahkan oleh para pengelola destinasi," papar Ayu, begitu ia akrab disapa.

Soal destinasi mana yang bakal lebih dulu dibuka dengan menerapkan protokol CHS, Ayu mengungkap bakal merujuk pada kurva kasus positif di tempat tersebut.

Maka dari itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah (pemda) untuk melihat wilayah mana yang paling siap memulai kembali sektor pariwisata.

"Karena dalam pembukaan destinasi, kami juga harus memperhatikan kesehatan, keselamatan turis maupun warga lokal. Di antara kesehatan dan ekonomi, dua-duanya penting, jangan sampai mengeliminasi salah satunya," kata Ayu.

Kemenparekraf pun telah menetapkan lima langkah untuk membangun kepercayaan diri demi menghidupkan kembali sektor pariwisata di era new normal.

Percaya Diri Bangun Sektor Ekonomi

Travel
Perbesar
Ilustrasi travel. (dok. pixabay.com/Asnida Riani)

Mempersiapkan protokol CHS dikatakan sebagai langkah awal membangun kepercayaan diri dalam kembali memulai geliat pariwisata dengan mengandalkan kunjungan turis domestik.

"Yang harus digarisbawahi, kami (Kemenparekraf) tidak bisa mengeluarkan protokol kesehatan karena itu ranah Kementerian Kesehatan. Yang bisa kami lakukan adalah memberi guideline pada para travel stakeholders," ungkap Ayu.

Kemudian, melakukan pelatihan praktik protokol CHS pada para pekerja sektor pariwisata di setiap destinasi. Ketiga, melakukan simulasi dengan mengimplementasikan penerapan protokol CHS, disusul menyebarkan informasi terkait pada publik, terutama mereka yang hendak bepergian. Terakhir, menerapkan protokol CHS di destinasi wisata sesuai pelatihan dan simulasi yang sebelumnya telah diberikan.

Sebagai pelaku sektor hospitality, di kesempatan yang sama, Dewi Anggraini selaku Director of Marketing Communication The Westin Resort Nusa Dua Bali mengatakan, di masa menunggu untuk kembali beroperasi, pihaknya telah menyiapkan implementasi autran berdasarkan enam pilar brand.

"Sambil juga menunggu aturan dari Marriott International kami menyiapkan aturan berdasarkan enam pilar brand, yakni sleep well, move well, eat well, feel weel, play well, dan work well," tuturnya.

Selama belum bisa beroperasi, Dewi penjelaskan, pihaknya selalu menjaga engagement dengan pelanggan dan terus memberi pembaruan informasi lewat berbagai cara, termasuk sederet unggahan di media sosial.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓