Penggemar K-pop, Sekutu Tak Terduga dalam Gerakan Protes Lawan Rasisme

Oleh Asnida Riani pada 10 Jun 2020, 18:01 WIB
Diperbarui 10 Jun 2020, 18:01 WIB
Demonstran Tiarap di Jalan
Perbesar
Anggota komunitas LGBTQ bersama pengunjuk rasa Black Lives Matter melakukan aksi tiarap di jalan dengan tangan seolah terikat di West Hollywood, California, Rabu (3/6/2020). Aksi menyimbolkan momen terakhir George Floyd saat lehernya ditindih lutut polisi Minneapolis pada 25 Mei. (AP/Richard Vogel)

Liputan6.com, Jakarta - Seiring protes melawan aksi rasisme dipicu kematian George Floyd terus berlangsung, terutama di seantero Amerika Serikat, gerakan ini mendapati penggemar K-pop sebagai sekutu tak terduga.

Sebagaimana diketahui, tak semata awam, selebritas dunia, termasuk para idol K-pop, telah tergerak mendukung kampanye Black Lives Matter, dan keputusan ini pun menghasilkan gelombang dukungan dari fandom K-pop dalam skala besar.

Demi mendukung suara para idola, melansir laman South China Morning Post, Rabu (10/6/2020), fans K-pop mengubah unggahan, juga tagar mendukung gerakan tersebut. Mereka pun membanjiri aplikasi terkait kepolisian dengan video klip berdurasi pendek dan meme memperlihatkan idol K-pop favorit.

Pada Kamis minggu lalu, boyband BTS mengungkap dalam sebuah kicauan pada 26 juta penggemar mereka tentang ketegasan melawan diskriminasi dan kekerasan, serta berdonasi sebesar satu juta dolar Amerika atau setara Rp14 milar untuk gerakan Black Lives Matter.

Penggemar merespons pengumuman tersebut dengan #MatchAMillion di Twitter, dan mengumpulkan dana berjumlah serupa setelah 24 jam menurut One In An ARMY, sebuah tim pengumpulan dana yang dibuat penggemar BTS.

Kendati demikian, aktivitas politik sebenarnya tak langsung berasosiasi dengan penggemar K-pop. Selama bertahun-tahun, gelombang ini umumnya digunakan untuk mempromosikan karya idola mereka, mulai dari single, album, hingga music video.

2 dari 3 halaman

Catatan Pengumpulan Dana dengan Semangat Serupa

Grammy Awards 2019
Perbesar
Personel BTS di karpet merah Grammy Awards 2019 di Los Angeles, Amerika Serikat, 10 Februari 2019. (VALERIE MACON / AFP)

Semangat jejaring sosial itulah yang kemudian dimanfaatkan untuk mendukung suara idola mereka dalam melawan rasime dan kekerasan. Walau tak terlibat langsung, penggemar K-pop punya histori sadar pada kondisi politik.

"Terlepas dari semua citra yang dilekatkan, penggemar K-pop punya catatan dalam gerakan mengumpulkan uang lewat woro-woro daring, terutama Twitter, untuk aksi sosial," kata Hyun-su Yim, seorang reporter K-pop di Korea Herald.

Juga, sambung Yim, mereka berhasil menenggelamkan tagar rasis yang sempat trending di Twitter, seperti "WhiteLivesMatter" dan "WhiteOutWednednesday" dengan meme idola K-pop favorit mereka..

Belakangan, seiring kepopuleran K-pop kian mendunia, para pekerja seni, termasuk penyanyi, serta sederet agensi di Korea Selatan telah didorong ke area yang sebenarnya belum mereka petakan, yakni merespons sederet isu sosial.

"Padahal, mereka bukanlah golongan yang vokal pada isu sosial," kata Danny Kim, pemilik DKDKT, sebuah kanal YouTube populer tentang serba-serbi K-pop. Ia menambahkan, idol K-pop umumnya terikat kontrak yang membuat mereka tak bisa bersuara bebas pada isu-isu tertentu.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓