Traveling Usai Pandemi, Wisatawan Indonesia Bakal Lebih Perhatian pada 2 Hal Berikut

Oleh Dinny Mutiah pada 30 Apr 2020, 11:01 WIB
Diperbarui 30 Apr 2020, 11:01 WIB
7 Hal yang Wajib Dilakukan Agar Bisa Traveling di Tahun 2018
Perbesar
Ilustrasi liburan (pixabay.com)

Liputan6.com, Jakarta - Siapa yang sudah kangen traveling? Minat bepergian begitu membuncah setelah lama dikarantina di rumah masing-masing. Kekangenan itu juga terbaca lewat hasil survei cepat MarkPlus's pre-Industry Roundtable yang menyebut 54 persen responden di Indonesia ingin traveling pada tahun ini dengan syarat pandemi sudah berlalu. 

Hasil survei juga mengungkapkan destinasi yang paling diminati oleh para pelancong usai pandemi adalah wisata domestik, baik wisata kota maupun kembali ke alam. Dan, 59 persen dari responden memilih bepergian dengan keluarga. Temuan itu sesuai dengan prediksi banyak pihak bahwa wisata domestik bakal pulih lebih dulu setelah pandemi.

Namun, terjadi perubahan perilaku para calon traveler tersebut. Sebanyak 73 persen lebih memperhatikan kesehatan dan keamanan saat hendak berkunjung ke suatu tempat. Itu pula yang disampaikan oleh Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Nia Niscaya dalam diskusi virtual Indonesia Professional Organizer Society (IPOS) BAKUSAPA B2B Virtual Forum, pada Rabu, 29 April 2020.

Ia memperkirakan pasca-pandemi Covid-19 akan terjadi paradigma dan tren berwisata baru yang lebih mengarah pada kesehatan dan kenyamanan pada berbagai sektor mulai dari atraksi, akomodasi, preferensi produk, transportasi, hingga label higienis.

"Seperti dari sisi atraksi, wisatawan akan lebih memilih dan fokus pada atraksi wisata yang memperhatikan physical distancing atau social distancing serta memperhatikan kapasitas daya tampung, di Italia sudah melakukan bagaimana penerapan social distancing di area pantai," kata Nia dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Rabu, 29 April 2020.

Dari sisi transportasi, umumnya sebelum wabah terjadi wisatawan tidak terlalu memperhatikan jumlah, lama transit, harga penerbangan, hingga harga penyeberangan menggunakan ferry. Namun pasca-pandemi diprediksi terdapat perubahan, wisatawan akan lebih memperhatikan waktu lama transit dan jika perlu penerbangan langsung.

"Contoh lain di Batam dan Bintan, kenyamanan, sanitasi, dan higienitas di kapal ferry juga menjadi perhatian. Terlebih ferry menjadi salah satu moda transportasi untuk bisa membawa wisatawan Singapura. Contoh lainnya, maskapai Emirates yang melakukan rapid test kepada seluruh calon penumpangnya," katanya.

2 dari 3 halaman

Preferensi Akomodasi

traveling hujan 2
Perbesar
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Terkait preferensi produk, lanjut Nia, sebelumnya wisatawan mencari atraksi yang sedang ramai dan viral, serta posisinya dekat atau bahkan di perkotaan. Nantinya tren itu berubah ke arah kesehatan, aktivitas outdoor yang memiliki udara sejuk, self-driving, dan private tour.

Tren baru juga akan tampak di sisi akomodasi, dulu wisatawan memikiran harga. Nantinya, harga sudah tidak lagi terlalu diperhatikan yang jadi perhatian adalah higienitas, sanitasi, dan keamanan.

"Untuk tipe akomodasinya seperti vila, resor, atau bahkan yang dekat dengan bandara/ferry terminal, sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan akan mudah diakses," terangnya.

Terakhir adalah label higienitas. "Hal ini sudah kami koordinasikan dengan Kementerian Kesehatan dan ini menjadi pekerjaan rumah Kemenparekraf untuk memberikan panduan sebagai pedoman yang dapat disosialisasikan," sambung dia.

Secara terpisah, Wakil Menparekraf Angela Tanoesoedibjo mengatakan teknologi dan media digital memberi cara baru dalam rutinitas dan kehidupan yang akan menjadi "New Normal". Ia menegaskan dukungan Indonesia untuk memasukkan pariwisata digital ke Rencana Strategis Pariwisata ASEAN 2016-2025.

"Pandemi ini akan membawa kita pada kondisi "New Normal". Di samping mendorong pentingnya standar kesehatan dan kebersihan bagi para profesional pariwisata, melalui pertemuan virtual ini, kita ditunjukkan bagaimana teknologi dan media digital membawa kita pada rutinitas dan cara hidup yang baru. Ini yang akan segera kita alami dalam industri pariwisata kita," ujar Angela dalam Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Rabu, 29 April 2020.

 
3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓