Cerita Akhir Pekan: Strategi Meraih Penghasilan di Tengah Paceklik Pandemi

Oleh Putu Elmira pada 19 Apr 2020, 10:01 WIB
Diperbarui 19 Apr 2020, 10:01 WIB
Ilustrasi uang (sumber: iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - 'Hantaman' dampak dari penyebaran corona Covid-19 begitu dirasakan berbagai sektor di Tanah Air, termasuk di dunia bisnis hingga mereka yang terus berjuang banting tulang mencari penghasilan. Pandemi seketika mengubah pola perekonomian.

Masa krisis seperti saat ini, membuat pelaku usaha dituntut jeli dan memutar otak untuk setidaknya mampu bertahan. Langkah-langkah yang perlu dilancarkan disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali.

"Menyelamatkan SDM buat SDM sehat dengan memberi vitamin. Apa artinya perusahaan tanpa SDM. Menghemat pengeluaran listrik, transport, meeting, entertainment, sampai belanja barang," kata Rhenald Kasali saat dihubungi Liputan6.com, Rabu, 15 April 2020.

Sang praktisi bisnis juga menambahkan, saat ini tidak banyak yang dapat dilakukan para pelaku usaha besar untuk meningkatkan penghasilan. Pada pandemi ini mereka seperti masuk dalam fase hibernasi.

"Sekarang yang penting survive karena semua ada efeknya. Bertahan dengan memikirkan bisnis baru yang kemarin tak terpikirkan," tambahnya.

"Ada bisnis yang bisa dipertahankan karena setelah Covid-19 masyarakat berubah, apa yang dibutuhkan, di mana bisa fit in, budaya apa yang bisa dilakukan, cata kerja yang efisien di rumah," kata Rhenald.

Saat ini penting pula memikirkan strategi apa yang harus dilancarkan setelah corona Covid-19 berakhir. Bukan tanpa alasan, mengingat ada begitu banyak perubahan yang terjadi nanti usai pandemi.

"Covid-19 berakhir pemain sudah berbeda, muncul pemain baru, yang baru adalah yang mempersiapkan diri dengan macam-macam langkah, perilaku konsumen berubah, restriksi bangsa-bangsa berubah," jelasnya.

Sementara dari bagi perseorangan, kata Rhenald, yang bertahan adalah mereka yang berinventasi dan akan menikmati pada masanya. "Kemerdekaan finansial menghadapi krisis, punya surplus saat krisis," ungkapnya.

Rhenald menyampaikan, investasi bukan hanya pada uang dan benda, tetapi yang paling penting adalah kesehatan. Seperti yang diketahui, mereka yang mudah 'diserang' saat pandemi adalah yang memiliki penyakit bawaan.

"Kesadaran pada kesehatan akan tinggi. Investasi ada pada persaudaraan dalam perbedaan, keberagaman dalam pertemanan, jangan sensitif," tutupnya.

2 dari 3 halaman

Kata Pelaku Usaha

Bakso Sapi'i
Bakso Sapi'i milik Masbukhin Pradhana. (dok. Instagram @baksomalangsapii/https://www.instagram.com/p/B-BW6Y7JuRN/Putu Elmira)

Jatuh bangun bertahan di masa paceklik pandemi turut dirasakan oleh pelaku usaha kuliner. Satu di antaranya adalah Masbukhin Pradhana, pemilik Bakso Sapi'i dan Soto Lamongan Cak Bukin.

Masbukhin menyampaikan, kuliner menjadi salah satu industri yang dianggap penting oleh pemerintan sehingga masih dapat beroperasi meski dengan pembatasan. Hal ini antara menarik dan dilema baginya.

"Kuliner yang menarik ada fasilitas ojek online, cuma tidak semua restoran secara umum bisa penjualan online, artinya ada orang yang lebih minat makan di tempat, produk enak dinikmati hangat, termasuk soto dan bakso yang saya geluti," katanya saat dihubungi Liputan6.com, Rabu, 15 April 2020.

Ia melanjutkan, mengingat usahanya adalah makanan yang enak dinikmati selagi hangat di tempat, hal itu pula yang menjadi sisi kekurangan yang membuat penjualan menurun.

"Soto yang di Pulomas sama Malaka sudah tutup dua mingguan. Sebelum PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar ), 2 minggu setelah WFH kami tutup karena pengusaha menghasilkan income atau menurunkan pengeluaran," lanjutnya.

Masbukhin menerangkan kini terus memutar otak untuk meraih penghasilan di tengah krisis dan berupaya bertahan. "Soto menarik makan di tempat, mau di frozen enggak bisa. Dari sisi bakso masih bisa jualan frozen, bungkus di tempat bisa dibawa pulang masak di rumah, bakso dan bumbunya sekalian," ungkapnya.

Di sisi lain, keenam outlet Soto Sapi'i yakni di Johar Baru, Cipinang, Rawasari, Utan Kayu, Pondok Kelapa, dan Bintara menghadirkan banner untuk pelanggan dan ojek online, mendukung PSBB yang tetap buka hanya untuk take away dan fasilitas layanan antar makanan oleh ojek online.

"Jualan frozen baru saat antisipasi corona. Sebelumnya berjualan dan sosialisasi. Menganalisa apakah mungkin bombardir dengan iklan, tapi situasi dan kondisi enggak mungkin dilawan, kami uji coba dan uji data baru satu minggu ide frozen ini," jelas Masbukhin.

Ia menambahkan akan tetap buka selama tidak dilarang pemerintah. Selain itu asalkan masih ada pembeli, dalam artian memiliki daya beli serta adanya ojek online yang masih mengantar.

Di sisi lain, Masbukhin juga membuat paket sebagai cara menyiasati krisis di masa pandemi. Langkah yang ia dan tim lakukan adalah memperkenalkan paket "Bakso Anti-Corona".

"Coba bikin Bakso Anti-Corona jadi dua pack bakso, bakso halus Rp75 ribu isi 25 butir, bakso urat Rp75 ribu isi 25 butir, 5 masker Rp50 ribu jadi harga paketnya Rp200 ribu," ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓