Dilema Pusat Rehabilitasi Merawat Orangutan Saat Harga Masker Bedah Naik 762 Persen

Oleh Dinny Mutiah pada 06 Apr 2020, 22:02 WIB
Diperbarui 06 Apr 2020, 22:02 WIB
Dilema BOSF Merawat Orangutan Saat Pandemi Corona COVID-19, Beli Masker Bedah Harga Selangit
Perbesar
BOSF menutup dua pusat rehabilitasi orangutan dari publik sejak 17 Maret 2020 untuk mencegah penyebaran corona COVID-19. (dok. BOSF/https://orangutan.or.id/id/kabar-terbaru-pusat-rehabilitasi/Dinny Mutiah)

Liputan6.com, Jakarta - BOS Foundation (BOSF) memutuskan menutup seluruh pusat rehabilitasi orangutan ditutup bagi umum sejak 17 Maret 2020. Dalam rilis yang disampaikan dalam laman resmi mereka, penutupan itu mencakup Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah dan Samboja Lodge di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari di Kalimantan Timur.

Awalnya, penutupan itu hanya berlaku dua minggu. Setelah waktu berlalu, keputusan pun berubah.

"Kami akan mengevaluasi ulang situasi dan mengambil keputusan untuk terus menutup atau membuka kembali kegiatan setiap satu bulan," demikian keterangan Tim Komunikasi BOS Foundation yang diunggah dalam laman orangutan.or.id, Rabu, 2 April 2020.

Konsekuensinya, kedua pusat rehabilitasi itu tidak lagi bisa dikunjungi baik masyarakat umum maupun sukarelawan sampai risiko penyakit telah dieliminasi sepenuhnya. Aturan itu juga berlaku di situs-situ pelepasliaran dan penelitian, meliputi kamp-kamp di Hutan Lindung Bukit Batikap, Taman Nasional Bukit Baka, Hutan Kehje Sewen, dan Stasiun Penelitian Tuanan.

Meski begitu, kegiatan rehabilitasi orangutan tetap berjalan seperti biasa. Mereka mengikuti tahapan rehabilitasi di Sekolah Hutan. 

"Jadwal tidak berubah, mereka berangkat pagi dan kembali di sore hari setelah seharian menjelajah hutan dan belajar," dalam pernyataan itu.

Jadwal pemberian pakan orangutan di pusat rehabilitasi maupun di pulau pra-pelepasliaran pun masih seperti biasa, dua kali sehari, pagi dan sore. Pembersihan kandang orangutan juga tetap sama, di pagi dan sore hari setiap hari.

"Kami masih melakukan penyemprotan desinfektan tiga kali seminggu untuk memastikan kondisi pusat rehabilitasi tetap bersih dan sehat," terang rilis tersebut.

Namun, tim medis, pengasuh orangutan, dan teknisi yang harus terus bekerja dekat dengan orangutan diusahakan selalu sehat dan bekerja dalam lingkungan yang aman. Karena itu, ada tambahan prosedur operasional standar harian mereka. 

"Ini perlu untuk memastikan orangutan, yang memiliki kesamaan DNA dengan manusia sebesar 97 persen, tidak terpapar COVID-19 dari tim kami," sambung rilis tersebut.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harga Masker Menggila

Ilustrasi orangutan (iStock)
Perbesar
Ilustrasi orangutan (iStock)

Prosedur tambahan itu meliputi pemeriksaan suhu tubuh setiap karyawan dua kali sehari. Karyawan yang merasa demam atau tidak sehat juga diberikan cuti untuk memulihkan kondisinya.

Seluruh karyawan diwajibkan mencuci tangan sesering mungkin dan menggunakan masker serta sarung tangan. Semua barang sekali pakai dibakar setelah hari kerja usai.

Tambahan prosedur itu jelas berdampak pada penggunaan sabun tangan, masker, dan sarung tangan. Di sisi lain, persediaan barang-barang tersebut di pasar semakin menurun dan harga melonjak naik.

"Sarung tangan yang biasa kami gunakan sehari-hari kini harganya meningkat 167 persen dan ketika kami membeli masker bedah untuk para dokter hewan, kami membayar dengan harga yang naik 762 persen!" keluhnya.

Dengan segala tindak pencegahan, ia mengatakan sejauh ini belum ada kasus terkait COVID-19 di dalam dan sekitar pusat-pusat rehabilitasi orangutan BOSF. "Namun kami telah menyiapkan SOP darurat untuk antisipasi jika dibutuhkan," ujarnya.

BOSF berharap publik tidak melupakan penderitaan orangutan. Pihaknya memastikan kampanye pelestarian orangutan terus berlanjut meski digarap dari rumah sambil berharap publik tetap berdonasi untuk kelangsungan hidup primata endemik Indonesia itu.

Upaya melindungi primata tidak hanya dilakukan di pusat-pusat rehabilitasi yang dikelola BOSF. Taman Nasional Tanjung Puting pun ditutup untuk aktivitas wisata hingga waktu yang belum ditentukan.

Hal yang sama dilakukan kebun binatang-kebun binatang di Prancis. Dikutip dari Chanel News Asia, para penjaga binatang menjaga jarak mereka dari gorila dan simpanse. Sementara, Gabon, salah satu negara di Afrika, menutup akses bagi turis untuk melihat primata besar karena dikhawatirkan manusia bisa menulari virus. Mereka berkaca dari pengalaman saat virus ebola yang membunuh tidak hanya manusia tetapi juga gorila dan simpanse.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pelepasliaran 3 Orangutan

Pelepasliaran Orangutan di Tengah Pandemi Corona Covid-19
Perbesar
Pelepasliaran tiga orangutan ke Tanjung Puting. (dok. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah/Dinny Mutiah)

Sementara itu, Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah (Kalteng), Balai Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, serta Orangutan Foundation International (OFI), melepasliarkan tiga individu orangutan di kawasan TN Tanjung Puting, Senin, 31 Maret 2020.

Tiga orangutan tersebut telah menyelesaikan proses panjang karantina di Orangutan Care Center Quarantine (OCCQ). Pelepasliaran satwa yang dilindungi Undang-undang ini dilakukan di Camp Natai Lengkuas, Seksi Pengelolaan TN (SPTN) Wilayah 1, Resort Pondok Ambung, Taman Nasional Tanjung Puting.

Tiga orangutan tersebut masing-masing bernama Cantik, Rimut, dan Natalia. Cantik adalah orangutan betina berumur 18 tahun yang berasal dari hasil serahan BKSDA Kalteng pada 27 Mei 2004.

Kemudian, Rimut adalah orangutan jantan berumur 13 tahun yang juga berasal dari serahan BKSDA Kalteng pada 28 April 2009. Sementara, Natalia, orangutan berjenis kelamin betina dengan umur 19 tahun yang berasal dari serahan masyarakat dari hutan Sungai Cabang pada 15 Juli 2003.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai KSDA Kalteng, Andi Muhammad Khadafi dalam keterangan tertulisnya menerangkan bahwa, ketiga orangutan tersebut merupakan hasil dari penyelamatan saat terjadi konflik antara satwa dengan manusia. Ketiganya telah melalui karantina dan rehabilitasi kesehatan fisik maupun psikis selama beberapa tahun di OCCQ.

Andi menuturkan, ketiga orangutan tersebut terus dipantau selama masa rehabilitasi hingga benar-benar sudah siap untuk dilepasliarkan ke alam. "Melalui kegiatan pelepasliaran satwa orangutan ini, kami mengajak dan menghimbau partisipasi aktif seluruh komponen masyarakat dalam melindungi orangutan dan habitatnya. Mari kita bersama menjaga hutan dan seisinya untuk sekarang dan generasi mendatang," ajak Andi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

BERANI BERUBAH: Bertani di Atas Masjid