Cerita 3 Orang Italia Hidup di Tengah Lockdown karena Pandemi Corona COVID-19

Oleh Asnida Riani pada 17 Mar 2020, 12:06 WIB
Diperbarui 17 Mar 2020, 12:06 WIB
Italia Tutup Seluruh Wilayahnya Akibat Virus Corona

Liputan6.com, Jakarta - Seiring banyaknya keputusan maupun desakan lockdown di sekian banyak negara akibat pandemi virus corona COVID-19Lonely Planet, sebagaimana dilansir Selasa (17/3/2020), bertanya pada tiga orang Italia tentang bagaimana hidup dalam kondisi tersebut.

Pertama, Benedetta Geddo yang tinggal di Piedmont.

Sudah enam hari lamanya sejak Geddo meninggalkan rumah. Minggu lalu, ia masih pergi ke pusat kebugaran, bahkan datang ke acara makan malam keluarga. "Sangat tak sadar bahwa itu bakal jadi hari normal terakhir yang saya alami," katanya.

"Pada Minggu (8 Maret 2020) area tempat tinggal saya ditetapkan sebagai zona merah. Kemudian Senin (9 Maret 2020), status tersebut diperluas jadi seluruh wilayah Italia. Hari ini hari Kamis (12 Maret 2020), dan kemarin perdana menteri kami mengumumkan bahwa hanya toko penjual kebutuhan pokok dan obat yang bakal buka," imbuhnya.

Seruan demi seruan berujung Italia lockdown membuatnya beranggapan harusnya tak seperti ini, namun berpikir ini adalah satu-satunya cara di waktu bersamaan. "Saya sungguh tak bisa mendeskrispikannya dengan cara berbeda," ucapnya.

Situasi secara umum dikatakan sama dengan yang dideskripsikan media. Satu kekhawatiran Geddo adalah kakek-neneknya yang tinggal di kota berbeda dan tak bisa dikunjugi karena larangan keluar rumah dan bepergian jauh.

"Saya hanya berusaha meredakan pikiran bahwa mereka termasuk orang yang punya risiko tinggi untuk terinfeksi virus," katanya. Terlepas dari segala keterbatasan, Geddo tetap beranggapan dirinya masuk dalam golongan beruntung.

Selama lockdown, ia mencoba menyusun rutinitas baru. "Ada pekerjaan yang harus diselesaikan karena sehari-hari pun saya bekerja secara remote. Setelah makan siang, saya coba berjalan-jalan sebentar di kebun rumah untuk merasakan udara segar," katanya.

Ia juga tetap berolahrga dan bersosialisasi dengan teman-temannya lewat video call selama Italia lockdown. "Semua yang saya lakukan cukup nyaman, walau secara keseluruhan situasi ini masih sangat aneh untuk saya," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Warga Kota Roma dan Tuscany

Tuscany, Italy
Tuscany, Italia. (Liputan6/iStockphoto)

Kedua, Alexandra Bruzzese yang bertinggal di Roma.

Ia mengatakan, saat virus corona pertama dilaporkan tercatat di utara Italia sekitar Februari, warga Roma masih melakukan kegiatan seperti biasa, mulai dari bekerja sampai kumpul-kumpul di bar. "Bahkan di hari Sabtu (7 Maret 2020), saya masih keluar bertemu dengan teman-teman di restoran," kata Bruzzese.

Tapi, pengumuman lockdown membuat siapapun yang keluar rumah harus membawa semacam sertifikasi berisi alasan keluar rumah dan harus diperlihatkan pada pihak berwajib.

"Hanya sedikit sekali orang yang keluar. Mereka yang keluar pun selalu mengenakan masker," ucapnya. Terlepas dari ketakuan bahwa ekonomi negaranya bakal jeblok, Bruzzese mengaku melakukan keseharian dengan cukup baik.

"Saya bekerja dari rumah, punya cukup makanan, Wi-Fi, menonton Netflix, dan mempersiapkan buku yang cukup banyak. Saya sadar kondisi ini mungkin bertambah buruk. Karenanya, saya senang bisa turut bekerja sama dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19," tuturnya.

"Saya harap, makin cepat kita ikut semua anjuran, makin cepat pula segala hal bakal kembali normal," tandasnya.

Terakhir, cerita dari Tuscany oleh John Fullman.

Sehari sebelum lockdown, Fullman mengatakan, kehidupan di Tuscany berjalan tenang sebagaimana biasanya. Kendati sempat ada panic-buying yang akhirnya bisa diselesaikan dengan baik oleh pihak supermarket.

"Kemarin (Rabu, 11 Maret 2020) saya berkendara sekitar tujuh kilometer ke pusat kota. Tak ada polisi di jalur maupun kota. Jalanan cenderung normal. Satu-satunya yang berubah adalah petugas keamanan di supermarket yang memastikan semua orang membeli barang sesuai jumlah minimal yang ditentukan," ucapnya.

Orang-orang yang Fullman kenal kebanyakan mengisolasi diri dengan tidak pergi bekerja, namun melakukan apapun yang mereka bisa dari rumah. "Tak ada kepanikan berarti dan orang-orang cenderung bermain berdasarkan aturan," katanya.

Tempat tinggalnya yang tak berada di pusat kota membuat Fullman, dalam beberapa hari sekali, harus keluar rumah dan membeli berbagai macam kebutuhan di pusat Tuscany. "Yang membuat saya sedih, beberapa hari lagi saya ulang tahun," ceritanya

Tapi, karena anjuran untuk tak melakukan perjalanan antarkota maupun provinsi, ulang tahun kali ini sepertinya akan ia lewati seorang diri. "Setidaknya satu mile (setara 1,6 km) dari orang terdekat dari rumah saya," tutupnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓