Cerita Ayu Maulida Usai Dinobatkan Jadi Puteri Indonesia 2020

Oleh Komarudin pada 11 Mar 2020, 01:01 WIB
Diperbarui 11 Mar 2020, 01:01 WIB
Ayu Maulida
Perbesar
Ayu Maulida akan mengikuti arah dari Yayasan Puteri Indonesia terkait kegiatan yang harus diikutinya (Liputan6.com/Komarudin)

Liputan6.com, Jakarta - Ayu Maulida resmi menjadi Puteri Indonesia 2020 sejak 6 Maret 2020. Sehari usai dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 2020 Ayu seperti tidak percaya.

"Ini beneran nih harus pakai mahkota," ujar Ayu Maulida yang sempat menantikan gelar ini sejak beberapa tahun lalu, saat ditemui di kawasan Jenderal Sudirman, Jakarta, baru-baru ini.

Ayu menjelaskan, dia harus menggunakan mahkota tersebut saat melakukan kunjungan atas tugas dari Yayasan Puteri Indonesia. Saat ini Ayu sedang menunggu arahan dari yayasan itu.

"Saya percaya Yayasan Puteri Indonesia dan Mustika Ratu telah mempersiapkan segala kebutuhan dan keperluan saya, seperti bahasa Inggris, public speaking, untuk menambah aplikasi dan advokasi, karena saya sudah punya advokasi namanya Senyum Desa," kata Ayu.

Ia menambahkan, sebagai Puteri Indonesia 2020 dirinya harus banyak mempersiapkan mental dan berdoa. Apalagi, Ayu juga harus mempersiapkan diri ke ajang Miss Universe 2020.

"Apa pun itu harus berjuang. Saya percaya bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Jadi, saya nikmati saja perjalanan ini," katanya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Program Senyum Desa

(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Perbesar
Ayu Maulida terpilih Jadi Puteri Indonesia 2020. Ia merupakan lulusan Universitas Airlangga (Unair). (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Terkait Senyum Desa, Ayu Maulida menjelaskan bahwa Senyum Desa merupakan komunitas kecil yang dibentuk pada 2017. Saat ini komunitas tersebut telah menjadi sebuah yayasan yang beranggotakan 700 orang di seluruh Indonesia.

"Awalnya berdiri di Surabaya, yang kebanyakan orang Madura. Kami memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan, pemberdayaan wanita, pengecekan kesehatan gratis, membangun taman baca, mengajak anak-anak peduli untuk mau belajar dan sekolah," papar Ayu.

Di tempat Senyum Desa berdiri, kata Ayu, dari 100 anak, hanya 40 anak yang bersekolah, sedangkan 60 anak lainnya hanya bermain.

"Mereka sebenarnya mau untuk sekolah, tapi kadang-kdang orangtuanya tidak peduli dengan pendidikan," ujar Ayu.

Hal itu juga terjadi karena persoalan kemiskinan, karena banyak juga anak-anak yang sekolah tidak semua memakai sepatu, ada yang memakai sandal. Melalui Senyum Desa, Ayu ingin berbagi dengan mereka.

"Mereka yang berada di Senyum Desa itu kebanyakan masih mahasiswa. Mereka bukan berasal dari keluarga menengah ke atas, tapi menengah ke bawah. Dari situ saya sangat tersentuh dengan persaudaraan di Senyum Desa," ujar Ayu Maulida yang sempat mengadakan event Senyum Desa ada di Kediri, Blitar, Lombok, Kalimantan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya