Kritik Sosial di Balik Pajangan Makanan Berbahan Plastik di Toko Grosir New York

Oleh Henry pada 27 Feb 2020, 18:01 WIB
Diperbarui 27 Feb 2020, 18:01 WIB
Ilustrasi Kantong Plastik

Liputan6.com, Jakarta -  Istilah dari kawan jadi lawan mungkin pas untuk menggambarkan hubungan kita dengan kantong plastik. Padahal, kantong plastik pertama kali diciptakan pada 1959, sebagai pengganti kantong kertas yang proses produksinya mengancam keberlanjutan alam.

Seiring berjalannya waktu, kenyamanan dan kepraktisan kantong plastik malah membuatnya menjadi sampah menumpuk. Orang-orang tidak lagi menggunakan kantong plastik berulang kali, tapi sekali pakai.

Kantong plastik yang awalnya menjadi solusi untuk menyelamatkan bumi, justru menjadi ancaman. Berbagai usaha pun dilakukan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Dilansir dari Lonely Planet, sebuah toko grosir di Kota New York memamerkan setiap produk makanan berbahan dasar kantong plastik. Mereka menamainya dengan 'The Plastic Bag Store' (Toko Tas Plastik).

Kantong plastik itu disulap menjadi buah-buahan, sushi, es krim sampai ayam panggang. Warna dan bentuknya mengundang selera. Tapi, makanan itu bukan untuk disantap.

Toko Tas Plastik itu merupakan instalasi seni yang dirancang bertepatan dengan larangan penggunaan kantong plastik di New York City yang mulai berlaku pada 1 Maret 2020.

Benda-benda plastik ini dirancang oleh seniman yang berbasis di Brooklyn, New York, Robin Frohardt. Acara ini bertujuan untuk mengajak masyarakat berpikir tentang bagaimana kita selama ini telah memprioritaskan kenyamanan dibanding kesehatan bumi.

2 dari 3 halaman

Humor dan Kritik Sosial

Instalasi Seni Kantong Plastik di New York,  Amerika Serikat
Instalasi Seni Kantong Plastik di New York, Amerika Serikat. (dok.Instagram @tsqarts/https://www.instagram.com/p/B8b6Ys9FK9x/Henry)

Pengunjung nantinya bisa menelusuri apa yang terlihat seperti toko kelontong NYC yang khas, dengan deretan produk sehari-hari dengan warna cerah yang terbuat dari kantong plastik upcycled.

"Ini jadi upaya saya untuk membuat sesuatu yang otentik dari apa yang telah diproduksi manusia secara massal," ucap Frohardt.

"Saya menemukan kalau humor dan sindiran bisa menjadi alat yang kuat untuk kritik sosial, terutama seputar isu-isu yang sangat menyedihkan dan luar biasa untuk dihadapi secara langsung," lanjut Frohardt.

Pameran akan diadakan pada 18 Maret-12 April 2020 di Times Square, New York City. Mereka juga bakal menggelar pertunjukan teater dan boneka kayu.

Dalam pertunjukan, akan diselipkan sejumlah pesan tentang bagaimana limbah plastik dan kantong plasti sekali pakai yang tidak diinginkan telah menyumbat lanskap dan lautan, yang nantinya dapat disalahartikan oleh generasi masa depan.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓
Merapi Erupsi Lagi, Warga Tetap Cuek Beraktivitas