Tahukah Anda Lokasi Pertama Gereja Katedral Jakarta Ternyata Bukan Dekat Gambir?

Oleh Asnida Riani pada 26 Feb 2020, 15:04 WIB
Diperbarui 26 Feb 2020, 15:04 WIB
Katederal Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta - Selain sebagai rumah ibadah umat Katolik, Gereja Katedral Jakarta pun menjadi bangunan yang menampilkan unsur-unsur Pancasila dan kebhinekaan. Hal ini terlihat dari pernak-pernik simbol negara yang tersebar di beberapa sisi gereja. 

Berlokasi di Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Gereja Katedral menampilkan gaya arsitektur neo-gothic di mana terdapat banyak menara menjulang tinggi dengan ujungnya yang runcing. Gereja tersebut disebut-sebut mirip dengan Gereja Notre-Dame di Italia yang sempat terbakar pada 2019. 

Menurut pemandu wisata dari Wisata Kreatif Jakarta, Maria Ibek, dulunya gereja tersebut bukan berlokasi di tempat sekarang, tetapi di daerah Pasar Senen dekat dengan RSPAD Gatot Soebroto. Namun, pada 1826 terjadi insiden yang membuat gereja hangus terbakar. 

Untuk membangun kembali gereja yang hangus, para uskup meminta bantuan pemerintah Belanda agar memberikan tanah baru sebagai lokasi gereja yang saat ini dibangun. 

Di lokasi yang baru, pada 1890 gereja kembali dibangun. Namun, lagi-lagi bencana melanda. Karena dibuat dengan material yang memiliki kualitas sederhana, gereja tersebut seketika ambruk selang beberapa lama didirikan. 

Pembangunan gereja kembali dilakukan pada 1891. Belajar dari pengalaman, gereja tersebut dibangun dengan material yang memiliki kualitas bagus. Pembangunan tersebut didampingi oleh seorang pastor bernama Antonius Dijkmans. Namun karena harus kembali ke negara asalnya, pengerjaan proyek pembangunan gereja berhenti di tengah jalan. 

Akhirnya, pekerjaan Dijkmans diambil alih oleh Cuypers-Hulswit dan selesai enam tahun setelahnya, yaitu pada 1901. Gereja Katedral dengan desain megah tersebut menjadi salah satu yang tertua di Indonesia.

2 dari 3 halaman

Cerminan Nilai-Nilai Pancasila

Bunda Maria dengan pakaian kebaya dan lambang garuda di dada.
Bunda Maria dengan pakaian kebaya dan lambang garuda di dada. (dok. Liputan6.com/Tri Ayu Lutfiani)

Kemegahan Gereja Katedral Jakarta sudah terlihat dari menara yang menjulang. Menurut Ibek, terdapat tiga menara yang jika dilihat dari atas akan membentuk sebuah salib. 

Memasuki area gereja, Anda akan disuguhkan dengan deretan kursi panjang yang terbuat dari kayu jati asli. Penggunaan kayu pun diberlakukan untuk atap gereja. Hal ini bukan tanpa sebab, pemilihan kayu dipercaya dapat meminimalisasi dampak saat terjadi gempa. 

Di sekeliling tembok gereja terdapat deretan lukisan yang menggambarkan kisah Yesus saat akan disalib. Lukisan tersebut terbuat dari kayu-kayu kecil yang kemudian disusun menjadi sebuah puzzle

Nilai-nilai Pancasila tercermin saat Anda lebih masuk ke dalam gereja. Berlokasi di sebelah kiri dari pintu masuk, terdapat replika patung Bunda Maria. 

Yang menjadi daya tarik, patung tersebut dilengkapi dengan busana tradisional kebaya yang menjuntai hingga ke kaki. Kebaya tersebut dilengkapi dengan sarung batik. Bahkan, di bagian dada terdapat simbol burung Garuda. 

Menurut Ibek, gereja ini memang bangga dan cinta dengan Indonesia. Bahkan, mereka pun memiliki moto "100 persen Katolik 100 persen Indonesia".

Tidak hanya itu, berjalan sedikit ke arah luar Anda akan menemukan patung burung Garuda raksasa. Terletak di sebelah kanan, patung tersebut menjadi salah satu cermin penerapan nilai-nilai Pancasila di Gereja Katedral Jakarta. (Tri Ayu Lutfiani)

 

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓