Kontroversi Penggunaan Sampah Plastik sebagai Bahan Baku Jalan

Oleh Putu Elmira pada 01 Feb 2020, 19:00 WIB
Diperbarui 05 Feb 2020, 12:00 WIB
Ilustrasi Jalanan Aspal.

Liputan6.com, Jakarta - Putar otak pemanfaatan sampah plastik masih terus dilakukan banyak pihak. Menerapkan ekonomi sirkular jadi satu yang dinilai efektif. Karenanya, perusahaan-perusahaan di Filipina tengah berupaya menjadikan sampah plastik sebagai bahan baku pembuatan jalanan.

Menguip Bloomberg, 28 Januari 2020, menggunakan tas belanja bekas, bungkus makanan, dan kemasan plastik lain, San Miguel Corp dan Aboitiz Ventures Inc. mengubah sampah-sampah tersebut jadi bahan membangun jalan.

Pembangunan perdana jalan menggunakan bahan plastik telah dimulai sejak November 2019. Bekerja sama dengan Dow Chemical Co., konstruksinya menggunakan 900 kilogram (kg) plastik untuk jalan sepanjang 1,5 ribu meter.

Sedangkan, bagi Aboitiz’s Republic Cement and Building Material Inc., plastik berfungsi sebagai alternatif batu bara untuk memanaskan tempat pembakaran dalam proses pembuatan semen.

Bahan-bahan yang digunakan oleh Aboitiz bersumber dari Nestle Philippines Inc. dan Unilever Philippines Inc. Dalam setahun, perusahaan tersebut membutuhkan 25 ribu ton plastik untuk proses pembuatan semen.

Sebelum dipakai, sampah plastik dikurasi lebih dulu, yakni yang bertekstur lunak. Sampah plastik di kategori itu biasanya bagian besar dari jenis sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir dan menyumbat saluran air.

Menurut Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA), setiap harinya masyarakat di Asia Tenggara menggunakan 48 juta kantong belanja dan 164 juta kantong plastik. Hal ini menggambarkan kegagalan sistem pengelolaan limbah yang tak bisa mengimbangi populasi dan konsumsi.

Selain itu, menurut Ocean Conservancy Inc. dan McKinsey & Co., peningkatan pendapatan di negara-negara Asia justru mendorong penggunaan plastik yang lebih besar. Berdasarkan data, Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam merupakan sumber utama limbah plastik di lautan dunia.

2 dari 4 halaman

Aspal dari Plastik Lebih Tahan Lama

Ilustrasi sampah plastik
Ilustrasi sampah plastik. (dok. RitaE/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

Rencana pembangunan bandar udara, jalan raya, jembatan, dan bendungan selama tiga tahun ke depan diharapkan San Miguel dan Aboitiz Republic Cement bisa jadi cara mengatasi permasalahan plastik di Filipina.

Saat ini, San Miguel membangun proyek-proyek unggulan pemerintah, termasuk beberapa jalan tol di sekitar Manila dan kompleks seluas 2,4 ribu hektare di utara Manila yang akan jadi bandara terbesar di Filipina.

Alasan San Miguel menggunakan sisa plastik sebagai bahan baku sebab jalanan jadi lebih kuat dan tahan lama daripada jalan yang dibuat menggunakan aspal konvensional. Namun, untuk Aboitiz sendiri, plastik hanya berfungsi sebagai pengganti 10 persen dari kebutuhan batu bara.

Sebenarnya, Aboitiz dapat memproses sebanyak empat kali lebih banyak sampah plastik. Kendati yang jadi kendala ialah jumlah sampah terbatas. Selain itu, pemisahan sampah rumah tangga yang  buruk juga jadi penghambat proses penyaringan.

Mengatasi masalah tersebut, Nestle dan Unilever telah meluncurkan program pengumpulan sampah. Mereka menawarkan produk-produk, seperti sampo dan deterjen cucian yang dikemas dalam bentuk sachet, dibersihkan dan dipotong dengan benar.

“Nestle melakukan netralitas plastik yang pada dasarnya mengembalikan plastik sesuai dengan apa yang kami produksi,” kata Chairman and Chief Executive Officer of Philippine Kais Marzouki.

3 dari 4 halaman

Menuai Kritikan

Ilustrasi pabrik pembuatan semen.
Ilustrasi pabrik pembuatan semen. (dok. Byrev/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

Inisiatif untuk mengubah limbah plastik jadi bahan baku pembuatan jalanan justru menuai kritik dari GAIA. Menurut juru bicara kampanye plastik regional GAIA, Beau Baconguis, memasukan plastik untuk produksi aspal dan semen justru membuatnya lebih sulit dikumpulkan dan didaur ulang.

Dengan plastik masuk ke dalam tungku semen, hal tersebut juga dapat menimbulkan asap beracun.

Aboitiz mengklarifikasinya, bahan bakar yang berasal dari plastik melibatkan emisi karbon lebih sedikit ketimbang batu bara. Pihaknya mengatakan, pembuatan semen tak seperti pembakaran yang dilarang di Filipina. Suhu lebih tinggi dalam tempat pembakaran semen tidak meninggalkan abu plastik.

Ketika Filipina mempertimbangkan peraturan impor dan penggunaan plastik sekali pakai, Baconguis justru mengatakan perusahaan juga harus memikirkan bagaimana mereka mengemas dan memasarkan produk.

“Perusahaan perlu membuat seluruh sistem tertutup untuk mengatasi limbah plastik yang mereka hasilkan,” ucap Baconguis. (Tri Ayu Lutfiani)

 

 

4 dari 4 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓
Merapi Erupsi Lagi, Warga Tetap Cuek Beraktivitas