Cerita Akhir Pekan: Resolusi Tahun Baru, Masih Perlukah?

Oleh Henry pada 28 Des 2019, 08:30 WIB
Diperbarui 28 Des 2019, 08:30 WIB
Resolusi Tahun Baru
Perbesar
Saatnya membuat resolusi, apakah Anda akan membuat perubahan dalam karier di tahun baru ini? (Foto: Istockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu ritual atau tradisi yang umum dilakukan menjelang tahun baru atau pada awal tahun adalah membuat resolusi. Kalau dirancang dengan tepat dan dilaksanakan dengan penuh komitmen, sebuah resolusi pasti akan terwujud.

Bukan hanya bermanfaat bagi diri dan orang lain, terwujudnya resolusi juga akan menciptakan rasa puas.  Ada berbagai macam resolusi yang dicanangkan tiap orang. Di antaranya, menurunkan berat badan, berhenti merokok, mulai menabung, lulus kuliah, move on, mendapat pekerjaan impian dan sebagainya.

Sayangnya, banyak yang kurang konsisten dengan resolusi yang mereka buat sendiri. Bahkan banyak yang menyerah bahkan sebelum Januari berakhir. Kesehatan sering menjadi tema resolusi tahun baru seseorang.

Tapi seperti dilansir dari NY Times, menurut jajak pendapat yang dilakukan pada 2010 oleh American Psychological Association, kurang dari 1 dari 5 orang dewasa yang membuat resolusi tahun baru yang berhubungan dengan kesehatan mampu membuat langkah signifikan dalam penurunan berat badan, pola makan sehat, olahraga atau pengurangan stres.  Namun, tahun baru tetap menjadi momen yang pas untuk mencoba.

"Jangan memulai dengan resolusi yang terlalu besar," ucap psikolog Joe Taravella, pengawas psikologi anak di NYU Langone di Rusk Rehabilitation, New York, yang juga ahli di bidang psikologi perkawinan dan keluarga.

Menurut Taravella, kegagalan adalah sebuah kewajaran, namun hal itu bukan berarti kita belum berubah sama sekali. Lalu, masih perlukah resolusi tahun baru, dan masih banyak kah yang membuat resolusi tahun baru?

"Saya tiap tahun selalu bikin resolusi. Mungkin beberapa orang sudah tak tertarik, tapi setahu saya masih banyak yang membuat resolusi tahun baru. Tapi mungkin sekarang lebih realistis, bisa juga karena faktor usia dan situasi,"  kata Indra Kurniawan (44 tahun), seorang wiraswasta yang punya dua orang anak.

Indra mengaku saat masih usia 20-an dan awal 30-an suka membuat resolusi yang terkadang terlalu tinggi dan sulit diwujudkan. Misalnya punya mobil mewah seperti Ferrari atau bisa berkeliling ke berbagai negara.

"Ada juga yang sudah bisa diwujudkan seperti punya rumah sendiri. Wah itu jadi resolusi langganan dari masih awal kerja, hahaha. Tapi setelah puluhan tahun berusaha, kerja keras, akhirnya bisa punya rumah sendiri sekitar dua tahun lalu,"  ungkapnya pada Liputan6.com melalui sambungan telepon, Kamis, 26 Desember 2019. Di usia 40-an, Indra membuat resolusi yang tak terlalu muluk.

"Yang terpenting bisa menjalani pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, mengurangi makan gorengan dan daging, dan mudah-mudahan berat badan bisa turun biar nggak terlalu gemuk kayak sekarang, hehehe," ujarnya.

Resolusi juga masih kerap dicanangkan mereka yang lebih muda, termasuk generasi milenial.  Salah satunya Dina, seorang mahasiswi jurusan Komunikasi yang akan lulus dan diwisuda di tahun depan. Dalam beberapa tahun terakhir ia selalu membuat resoluasi di tiap akhir tahun.

Di tahun depan, Dina punya empat resolusi yaitu, menurunkan berat badan, lebih banyak menabung untuk masa depan, lebih memperhatikan perawatan kecantikan dan punya usaha sendiri. Tiga dari empat resolusi tersebut baru dicanangkannya di tahun ini.

2 dari 4 halaman

Resolusi Realistis

[Bintang] 6 Cara Supaya Resolusi Tahun Baru 2018 Kamu Nggak Gagal Total
Perbesar
Apa saja yang harus dilakukan supaya resolusi di Tahun Baru 2018 ini nggak gatot alias gagal total? Kamu bisa lakukan ini nih... (Ilustrasi: njfamily.com)

Sedangkan satu resolusi yang sudah beberapa kali dicanangkan tapi belum kunjung terlaksana adalah menurunkan berat badan. Ia mengakui hal itu tidaklah mudah dijalani.

"Karena saya tidak konsisten. Rencana sih sudah matang. Di awal tahun semangatnya masih besar tapi setelah beberapa bulan rasanya berat, karena banyak godaan makanan enak setiap hari. Ibarat orang ikut lomba lari, cuma cepat dan semangat di awalnya tapi nggak sampai garis finis," ungkap Dina.

Resolusi lainnya yang sudah dirintis oleh wanita 21 tahun ini ternyata adallah mempunyai usaha sendiri.  "Rencananya mau buka usaha kulinerm nungkin jualan makanan ringan yang digoreng kayak sosis dan telur goreng. Saya sudah punya beberapa peralatannya. Ya usaha kecil-kecilan, mudah-mudahan bisa terwujud di tahun depan," harapnya.

Menurut Dina, resolusi tahun baru baginya cukup penting karena bisa membuat dirinya lebih termotivasi untuk melakukan hal-hal positif. Ia juga meyakini beberapa temannya punya resolusi tahun baru tapi kebanyakan dari mereka enggan membagikannya kepada orang lain. Dina sendiri mengakui hanya memberi tahu resolusi yang dibuatnya pada orang terdekatnya saja. Lalu, seberapa penting sebenarnya membuat resolusi tahun baru?

"Saya rasa masih sangat perlu karena resolusi itu seperti membuat target, apa yang mau kita capai secara umum di tahun depan. Ini hal yang bagus kaena kita jadi punya target yang ingin dicapai, bukan sekadar go with the flow aja, kesannya kan hanya mau menerima saja tanpa ada usaha yang terencana," tutur psikolog Ajeng Raviando, pada Liputan6,com melalui sambungan telepon, Jumat, 27 Desember 2019.

Konsultan psikolog dan hipnoterapi dari Universitas Indonesia ini mengatakan masih banyak orang yang membuat resolusi tahun baru dan itu suatu hal yang positif. Mereka yang membuat resolusi punya rencana atau target tertentu dalam hidupnya, sehingga lebih terpacu untuk bekerja lebih keras dan semangat untuk mencapau tujuannya.

Tapi bedanya, sekarang ini mereka yang membuat resolusi tahun baru terkesan lebih realistis. Selain itu resolusi juga bisa dibuat bertahap, ada resolusi jangka pendek dan ada yang jangka panjang.

"Resolusi yang terlalu tinggi harapannya sepertinya sudah jarang dilakukan. Misalnya orang yang masih jomblo, resolusinya di tahun depan ingin bisa menikah, itu dianggap kurang realistis. Mereka biasanya berharap punya pasangan dulu di tahun depan, setelah itu di tahun-tahun berikutnya baru membuat resolusi mau menikah setelah mereka punya pasangan," tutur Ajeng.

Salah satu contoh resolusi jangka panjang menurut Ajeng adalah punya rumah sendiri. Resolusi ini selalu dibuat tiap tahun, tapi juga ada resolusi jangka pendeknya untuk mewujudkan resolusi punya rumah sendiri.

"Misalnya di tahun ini bikin resolusi bekerja dengan lebih rajin agar bisa naik jabatan dan dapat bonus supaya bisa menabung lebih banyak untuk bisa punya rumah. Lalu di tahun berikutnya, bisa bikin resolusi naik jabatan atau punya usaha sampingan misalnya," ujar Ajeng.

3 dari 4 halaman

Berawal dari Hal Kecil

Psikolog Ajeng Raviando
Perbesar
Psikolog anak dan keluarga Ajeng Raviando. Foto: Liputan6.com/Unoviana Kartika

Ibu dua anak ini menambahkan, butuh komitmen yang kuat dari seseorang untuk bisa mewujudkan resolusi yang dibuatnya. Hal itu juga berkaitan dengan karakter yang dimiliki oleh tiap individu.

Menurut wanita yang pernah menjadi konsultan psikologi di beberapa media ini, ada tiga apsek psikologis yang penting dimiliki oleh seseorang agar dapat bertahan dan tidak mudah menyerah dalam pencapaian resolusi yaitu Keyakinan diri (self efficacy), Harapan (hope), dan Tangguh (resilience).

"Keyakinan diri itu penting untuk membuatnya bisa melakukan berbagai hal, begitu juga dengan harapan yang membuat motivasi semakin tinggi karena ada tujuan tertentu yang ingin dicapai. Tapi ketangguhan yang tidak dipunyai banyak orang. Resilience ini kapasitas untuk mempertahankan kemampuan dan berfungsi secara kompeten dalam menghadapi berbagai stresor dan tantangan kehidupan," terangnya.

Pendapat tak jauh berbeda datang dari Dyah Irawati, seorang psikolog sekaligus jurnalis. Menurut Dyah, resolusi bisa membuat seseorang lebih semangat dan punya target yang lebih jelas dalam menjalani hidupnya. Resolusi masih perlu dilakukan, setidaknya dengan hal-hal yang kecil lebih dulu.

"Kesannya mungkin sepele, hanya membuat beberapa rencana, tapi dari situ kita bisa melakukan berbagai hal positif untuk bisa mewujudkannya. Salah satu resolusi yang sederhana dan realistis adalah tidak menunda pekerjaan. Ini kesannya kan sepele tapi kalau benar-benar dilakukan dampaknya bisa luar biasa," tutur Dyah melalui sambungan telepon, Kamis, 26 Desember 2019.

Alumnus Universitas Indonesia ini menambahkan, dengan tidak menunda pekerjaan maka kita bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan dan bisa lebih produktif.

"Kalau pekerjaan cepat selesai, kita bisa menggunakan sisa waktu kita untuk melakukan hal-hal bermanfaat lainnya. Ini bisa jadi resolusi yang kita jalankan setiap tahun dan bisa menghasilkan resolusi lainnya yang membuat diri kita lebih baik lagi," ucap Dyah.

Ia menambahkan, menceritakan tentang resolusi tahun baru kita kepada orang lain akan menambah motivasi dan memberikan efek yang positif untuk meraih tujuan yang sudah dibuat.

"Bicaralah pada orang lain tentang apa yang akan kita lakukan termasuk resolusi tahun baru, jadi kita bisa bersikap lebih bertanggung jawab," ujar Dyah. Menurutnya, cara yang demikian akan membuat seseorang termotivasi untuk berhasil karena tidak ingin gagal di depan teman-teman kita.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓