Halima Aden dan Alasan Ogah Diajak Berkemah

Oleh Asnida Riani pada 13 Des 2019, 19:00 WIB
Diperbarui 13 Des 2019, 19:00 WIB
Halima Aden
Perbesar
Special Show with Halima Aden di Jakarta Halal Things 2019 di Senayan City Jakarta, 7 Desember 2019. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai supermodel, Halima Aden mengaku sangat jarang berada di rumah. "Saya selalu dalam perjalanan, pindah dari satu tempat ke tempat lain," ucapnya di sesi conference Jakarta Halal Things 2019, Special Show with Halima Aden, di bilangan Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Desember 2019.

Kendati, bukan berarti Halima tak meluangkan waktu untuk keluarga dan teman-teman terdekatnya. Di waktu-waktu tersebut Halimah bisa melakukan banyak kegiatan bersama dengan mereka. Tapi, ada satu yang selalu ditolak, yakni berkemah.

"Teman-teman peempuan saya pernah mengajak saya berkemah. Ajakannya seperti tidur di alam terbuka, menikmati segar udara sekitar, dan merasakan ketenangan alam. Saya langsung mengatakan, 'Tidak.'," ucap Halima Aden.

Bukan tanpa alasan, masa kecil, yakni sampai berusia tujuh tahun, yang dihabiskan Halima di kamp pengungsian membuatnya punya ingatan kuat akan berkemah dengan segala atap tak permanen dan petualangannya.

"Saya selalu mengatakan, 'Tidak. Terima kasih. Ajak saja saya ke mal, ke pantai, saya sudah cukup berkemah selama tujuh tahun.'," imbuh Halima Aden.

2 dari 3 halaman

Kehidupan di Kamp Pengungsian

Halima Aden
Perbesar
Special Show with Halima Aden di Jakarta Halal Things 2019 di Senayan City Jakarta, 7 Desember 2019. (Liputan6.com/Asnida Riani)

"Kami menjalani hidup yang baik dan buruk selama di kamp pengungsian," cerita Halima Aden soal tujuh tahun awal hidupnya. Ketidakcukupan kebutuhan jadi salah satu faktor ratapan saat kecil.

Ia bahkan bercerita sempat tak makan selama tiga hari berturut-turut. "Belum lagi berbicara gigitan kalajengking dan kasus serupa yang terus membuntuti kami para pengungsi selama tinggal di kamp," imbuhnya.

Di sisi lain, segala keterbatasan yang dimiliki membuat Halima merasa jadi bagian dari satu komunitas dengan kecenderungan saling melengkapi, saling menyayangi, dan ada untuk satu sama lain, terutama di saat-saat sulit.

"Saya tidak tahu gambaran masa kecil orang lain, tapi saya bersyukur melewati masa kecil saya sebagaimana telah saya lalui. Semua proses itu, saya pikir, membentuk pribadi saya yang sekarang," ucapnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓