Menengok Peninggalan Zaman Kolonial di Gedung Karesidenan Purwakarta

Oleh Gilar Ramdhani pada 31 Okt 2019, 15:14 WIB
Diperbarui 31 Okt 2019, 15:14 WIB
Menengok Peninggalan Zaman Kolonial di Gedung Karesidenan Purwakarta
Perbesar
Gedung Karesidenan Purwakarta

Liputan6.com, Jakarta Purwakarta memiliki segudang destinasi menarik yang bisa dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Tak hanya dari sisi wisata alam dan kuliner, Purwakarta juga menyimpan potensi sejarah yakni bangunan dan gedung unik bersejarah peninggalan zaman kolonial. Salah satunya adalah Gedung Karesidenan yang berada di Jl. K.K. Singawinata sebelah selatan Taman Air Mancur Sri Baduga Situ Buleud.

Dikutip dari Disparbud Provinsi Jawa Barat, Pembangunan Gedung Karesidenan berkaitan erat dengan status Purwakarta sebagai ibukota Karesidenan Karawang. Pada awal masa pemerintahan Bupati Sastra Adiningrat I (tahun 1854), Purwakarta menjadi ibukota Karesidenan Karawang. Akan tetapi, untuk beberapa waktu lamanya, residen Karawang tetap berkedudukan di kota Karawang. Dalam waktu tertentu ia datang ke Purwakarta. Hal itu disebabkan di kota Purwakarta belum dibangun gedung keresidenan dan belum ada sarana transportasi yang memadai.

Kedudukan kota Purwakarta sebagai pusat pemerintahan karesidenan, telah menimbulkan perubahan situasi kota tersebut. Sejak waktu itu dinamika kehidupan di kota Purwakarta makin mengarah pada kehidupan modern. Gedung Karesidenan di Purwakarta baru dibangun seiring dengan pembangunan jalan kereta api antara Batavia – Padalarang lewat Purwakarta pada awal abad ke-20.

Keberadaan gedung karesidenan dengan arsitektur modern, mengubah suasana kota mengarah ke kota modern. Pada zaman Pendudukan Jepang, gedung tersebut menjadi Honbu Kenpeitai (Markas Polisi) Jepang, bagian dari pasukan Detasemen Syoji. Rupanya pihak Jepang memahami arti penting Purwakarta bagi mereka. Sejak waktu itu situasi dan kondisi di Purwakarta tentu mengalami perubahan, baik dalam bidang pemerintahan maupun dalam bidang sosial ekonomi. Pada zaman revolusi kemerdekaan, Gedung Karesidenan difungsikan sebagai Markas Resimen V pimpinan Letnan Kolonel Sumarna.

Berikut keunikan Gedung Karesidenan Purwakarta ;

1. Taman yang luas

Bangunan utama berada di tengah halaman dan di depannya terdapat taman yang luas mengelilingi bangunan.

2. Berlanggam Indischie Empire Stijl

Arsitektur gedung utama berlanggam Indishce Empire Stijl, bentuk bangunannya hampir mirip dengan Gedung Pakuan di Bandung. Ruangan bagian paling depan merupakan serambi terbuka beratap seperti kanopi.

3. Tiang penyangga segi delapan

Tiang penyangga atap serambil berbentuk segi delapan dengan gaya khas kolonial dari bahan kayu.

4. Serambi bangunan

Bagian serambi depan terdapat dua kamar yang berada di ujung kanan dan kiri. Pintu masuk kamar berhadap-hadapan pada sisi dalam. Jendela kamar berdaun ganda. Daun jendela bagian luar merupakan jendela kayu disusun bersap-sap (jalusi) dan bagian dalam jendela kaca.

5. Atap bangunan

Atas bangunan utama dari bahan genteng berbentuk persegi. Antara atas bangunan utama dan atas serambi terdapat lubang ventilasi yang ditutup dengan ukiran kayu trawangan bermotif bintang atau bunga sudut.

6. Paviliun

Di kanan dan kiri bangunan utama terdapat bangunan semacam paviliun beratap rumah kampung memanjang ke belakang. Antara pavilun dan bangunan induk dihubungkan melalui koridor terbuka.

Sekarang gedung Karesidenan difungsikan untuk kantor Badan Koordinasi Wilayah Purwakarta. Tetap dipertahankannya baik arsitektur maupun fungsi menjadikan gedung ini sebagai sarana untuk lebih memahami Purwakarta khususnya dari aspek sejarah sosial politik dan sejarah arsitektur khususnya.

Letak Gedung Karesidenan di jantung kota Purwakarta menjadikan gedung ini sangat strategis. Memudahkan masyarakat baik lokal maupun pendatang untuk mengenal sejarah Purwakarta.

 

(*)