Rangkuman Perjalanan 40 Tahun LPM di Sudut Senayan City Jelang JFW 2020

Oleh Dinny Mutiah pada 17 Okt 2019, 04:02 WIB
Rangkuman Perjalanan 40 Tahun LPM di Sudut Senayan City Jelang JFW 2020

Liputan6.com, Jakarta - Beragam agenda menyambut Jakarta Fashion Week (JFW) 2020 mulai digelar. Salah satunya dengan menghadirkan eksebisi yang merangkum perjalanan 40 tahun Lomba Perancang Mode (LPM) di sudut Senayan City. Instalasinya dirancang oleh Clement Jonathan dari Gio Associate.

Karya dari 10 desainer Tanah Air jebolan LPM mewakili 260 alumni, baik finalis maupun pemenang, dipajang bersandingan di atas panggung berbentuk lingkaran. Setiap karya dipisahkan sekat cermin untuk menonjolkan keunikan desain masing-masing.

Menurut Clement, instalasi tersebut menggambarkan tiga era, yaitu the pathfinders, the trendsetter, dan the influencers. Pathfinders merupakan sebutan bagi para alumni yang membuka jalan bagi berkembangkan industri fesyen di Indonesia. Kalangan ini diwakili oleh karya Itang Yunasz dan Samuel Wattimena.

Sementara, the trendsetter merupakan para desainer alumni yang mampu menciptakan tren dari kekayaan negeri sendiri. Kalangan ini diwakili oleh Carmanita dan Denny Wirawan.

Terakhir, mereka yang disebut the influencers adalah para desainer muda yang sukses membawa perubahan di dunia fashion Indonesia, bahkan dunia. Mereka diwakili oleh Danny Satriadi, Billy Tjong, Tex Saverio, Hian Tjen, Jeffry Tan dan Lulu Lutfi Labibi.

"Proses pengerjaannya mulai dari ide sampai eksekusi sekitar sebulan. Kita pilih memang yang prominence untuk mewakili eranya," kata Clement di Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019.

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp10 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 of 3

Busana Terlama

Rangkuman Perjalanan 40 Tahun LPM di Sudut Senayan City Jelang JFW 2020
Gaun Hian Tjen yang dipajang dalam eksebisi 40 tahun LPM yang digelar untuk menyambut JFW 2020. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Mayoritas karya merupakan hasil rancangan baru para desainer. Hanya satu busana yang benar-benar lawas, yakni gaun terusan berpotongan asimetris dengan bukaan kancing depan milik Hian Tjen.

Warna gaun dengan detail lukisan bunga di bagian bawah tak lagi putih seperti saat dipresentasikan kepada para juri, 12 tahun lalu. Belum lagi noda di beberapa bagian. Meski begitu, busana itu tetap disimpannya sebagai kenang-kenangan saat menjadi pemenang I LPM 2007.

"Itu bernilai historis buat aku," kata Hian dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019.

Menurut Hian, LPM membuka gerbang untuk masuk ke industri fesyen. Meski tak terafiliasi dengan asosiasi apapun, jejaring LPM yang kebanyakan punya nama besar mampu menopang karirnya.

"Bisa buka jati diri juga," katanya.

Svida Alisjahbana, CEO CGM Group, menerangkan LPM terinspirasi dari perlombaan serupa yang dijalankan di Hong Kong. Sejak 1979 digelar, lomba untuk para desainer muda itu sempat digelar setahun sekali hingga 1996. pada 1996 hingga 2003, kompetisi itu sempat vakum lantaran terdampak krisis moneter.

Barulah pada 2003, LPM digelar setiap dua tahun sekali. Selama penyelenggaraan itu, ia melihat ada perkembangan signifikan di industri mode Indonesia, khususnya kemunculan para desainer muda. Demi mewadahi mereka, JFW pun digelar mulai 12 tahun lalu. Pada tahun ini, pekan mode tersebut akan digelar mulai 22--28 Oktober 2019.

"Kami terus awasi, yang punya perseverance dan persistent akan jadi besar," katanya.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓