Edukasi Anti-Kekerasan bagi Para Pengemudi Perempuan Ojek Online

Oleh Asnida Riani pada 15 Okt 2019, 22:02 WIB
Grab Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Melindungi secara dua arah, yakni tak semata bagi penumpang, namun juga mitra pengemudi perempuan, Grab Indonesia menggandeng Komisi Nasional (Komnas) Perempuan dalam memberi lanjutan edukasi anti-kekerasan.

Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi menjelaskan, upaya ini merupakan satu dari sekian banyak realisasi program Grab Mitra Sejahtera. "Sebenarnya sudah jalan dari 2018 dan dilakukan terus secara berkelanjutan," katanya saat konferensi pers di kawasan Cilandak, Jakara Selatan, Selasa (15/10/2019).

Sementara Komnas Perempuan menganggap, profesi sebagai pengemudi ojek online dinilai sebagai ruang baru di mana perempuan rentan jadi korban kekerasan. Karenanya, harus ada sistem yang dibentuk supaya bisa direspons dengan tepat.

"Kolaborasi pertama Komnas Perempuan dengan Grab diwujudkan dalam memberi masukan dalam sistem recruitment driver. Jadi, dari awal sudah tahu bagaimana menghargai perempuan," jelas Ketua Komnas Perempuan periode 2014--2019 Azriana Manalu.

Perempuan akrab disapa Nana itu menambahkan, pihak Komnas Perempun juga merancang pelatihan terhadap pengemudi perempuan. Goals dari pelatihan ini adalah memastikan semua mitra pengemudi, juga penumpang, bisa bermobilitas dengan aman.

Azriana menganggap, pelatihan yang diberikan merupakan cara baru dalam mengampanyekan anti-kekerasan dalam bentuk apapun, termasuk pada para pengemudi ojek online. "Makanya kami sangat menyambut baik kerja sama dengan Grab," tuturnya.

2 of 3

Beri Pilihan

Grab Indonesia
Konferensi pers program dan kerja sama antara Grab Indonesia-Komnas Perempuan di Cilandak, Jakarta Selatan, 15 Oktober 2019. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Di samping pelatihan, juga pembekalan berupa latihan bela diri, Grab Indonesia menginisiasi gerakan lain untuk membuat para pengemudi perempuan meresa kian nyaman.

"Kami meluncurkan armada khusus perempuan 'LadyGrab' untuk layanan GrabExpress dan GrabFood," ujar Neneng. Baru bermula di Jabodetabek, ia tak menutup kemungkinan gagasan ini akan hadir di kota-kota lain di seluruh Indonesia.

Opsi ini dihadirkan bagi para mitra pengemudi perempuan yang merasa kurang nyaman membawa penumpang lelaki. "Makanya kami beri pilihan," kata Neneng,

Informasi akan tindakan yang harus dilakukan saat tertimpa insiden kecelakaan pun diupayakan, berikut pencegahan dengan menekankan untuk selalu menaati peraturan lalu lintas.

"Tapi, kadang ada juga mitra yang mau menaati peraturan malah dimarahi penumpang. Jadi, edukasinya memang harus dua arah," tutur Neneng. Karenanya, sekarang pengemudi sudah bisa memberi nilai pada penumpang agar ekosistem sehat ini tebentuk.

"Ada juga tombol darurat untuk pengemudi yang bakal langsung direspons unit reaksi cepat. Karena tidak hanya pengemudi, penumpang juga ada yang nakal," jelas Neneng.

Ragam edukasi dan pelatihan yang diberikan, sambung Azriana, diharapkan akan membentuk budaya baru di tengah masyarakat Indonesia. "Jangan lagi ada budaya diskriminatif supaya kekerasan tidak lagi terjadi," tutupnya.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓