Seragam Loreng Darah Mengalir Gambarkan Semangat Juang TNI

Oleh Henry pada 05 Okt 2019, 17:30 WIB
Diperbarui 05 Okt 2019, 17:30 WIB
Atraksi Terjun Payung dan Bela Diri Meriahkan HUT ke-74 TNI
Perbesar
Atraksi bela diri prajurit TNI pada perayaan HUT ke-74 TNI di Taxy Way Echo Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (5/10/2019). HUT ke-74 TNI dihadiri oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang bertindak sebagai insprektur upacara. (Liputan6.com/JohanTallo)

Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 5 Oktober 2019 diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Tentara Nasional Indonesia (TNI). Bertepatan dengan hari penting ini, diadakan upacara di Halim Perdanakusuma dan dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Mengulas balik sejarah pembentukan awalnya, TNI didirikan pada 1945 dengan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Lalu, sempat diganti lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan kemudian ditetapkan namanya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Berbicara mengenai TNI, tak lengkap rasanya jika tak membicarakan seragam loreng khasnya. TNI dapat dikenali dengan mudah jika ditemui di tempat umum karena seragamnya yang berwarna hijau dengan motif loreng-loreng.

Tapi, tak sembarang motif, corak loreng kehijauan ini justru membuat para anggota TNI tak terlihat saat berada di hutan dan melakukan perang. 

Indonesia dikenal sebagai negara tropis dengan hutan hujan yang asri, sehingga dibutuhkan warna dan motif pakaian yang bisa membuat para tentara berbaur dengan hijaunya dedaunan. Hal ini akan mengalihkan visual lawan sehingga memimalisir terkena tembakan.

Melansir dari berbagai sumber, seragam TNI yang dipakai pada 1945 awalnya merupakan sumbangan dari tentara Amerika yang telah selesai berperang di Perang Dunia II. Pakaian ini dirancang sedemikian rupa hingga kedua sisinya dapat dipakai. Ada bagian berwarna cokelat yang digunakan di pantai dan di baliknya berwarna hijau untuk digunakan saat melakukan operasi di hutan.

Seiring waktu berjalan, produksi seragam yang dinamakan seragam Loreng Macan Tutul ini tidak berjalan lagi. Karenanya, TNI memutuskan untuk memproduksi seragam dengan corak sendiri. 

Di bawah perintah Kolonel Moeng Pahardimulyo, prajurit TNI memiliki seragam dengan nama Loreng Darah Mengalir. Seragam ini diperkenalkan pertama kali pada parade HUT Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 5 Oktober 1964.

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp 5 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com di tautan ini.

2 dari 3 halaman

Makna Khusus di Kopassus

Panglima TNI Pimpin Upacara Hut ke-67 Kopassus
Perbesar
Prajurit Kopassus TNI AD mengikuti apel peringatan HUT Ke-67 Kopassus di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (24/4). HUT Ke-67 Kopassus mengangkat tema Mewujudkan Prajurit Kopassus yang Profesional, Kuat dan Tangguh serta Adaptif Menghadapi Tantangan Global. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Motif dari seragam ini tak jauh berbeda dari yang sebelumnya. Ada loreng warna hijau, hitam dan kecokelatan. Hanya saja, ada tambahan motif bercak merah tua yang menyimbolkan darah.

Seragam Loreng Darah Mengalir ini digunakan khusus oleh tim elit TNI, yakni Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Kopassus adalah tim yang disiapkan untuk melakukan pertempuran dan harus melalui seleksi ketat seperti mampu bergerak cepat, menembak tepat sasaran, mahir dalam pengintaian dan antiteror.

Pada HUT ke-67 Kopassus, Panglima Marsekal Hadi Tjahjanto sempat menuliskan cuitan di Twitternya tentang seragam kebanggaannya ini.

“Loreng darah mengalir bukan sekadar corak desain belaka, namun punya makna filosofis mendalam. Prajurit Baret Merah tak pernah gentar menghadapi musuh negara, walau harus bersimbah darah,” tulisnya pada 16 April lalu.

Selain Kopassus, seragam prajurit lain biasanya disesuaikan dengan angkatannya. Contohnya, TNI Angakatan Darat mengenakan seragam dengan motif loreng hijau kecokelatan, sedangkan TNI Angkatan Laut menggunakan seragam loreng warna biru.

(Novi Thedora)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓