Jangan Sembarang Tamasya ke Bantar Gebang

Oleh Putu Elmira pada 25 Sep 2019, 07:03 WIB

Diperbarui 25 Sep 2019, 20:13 WIB

Jangan Sembarang Tamasya ke Bantar Gebang

Liputan6.com, Jakarta - Jika terlalu sering jalan-jalan ke tempat yang menawarkan pemandangan indah, cobalah sesekali jalan-jalan di Bantar Gebang. Di sana Anda bisa melihat langsung gunungan sampah di lahan seluas 110 hektare.

Untuk sampai ke tempat pembuangan sampah Bantar Gebang butuh kendaraan khusus. Jauh dari stasiun kereta api dan terminal bus, dan angkutan umum pun tidak ada yang mengangkut sampai ke daerah TPS. Biasanya, orang-orang menyambung transportasi dengan ojek pangkalan atau ojek online selama 30 menit untuk masuk ke dalam.

Untuk masuk dan melihat-lihat bagaimana sampah dikelola pun tidak bisa seenaknya. Selain berbahaya karena banyak alat berat di dalam, masyarakat sekitar pun merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang asing. Setidaknya butuh kenalan warga setempat supaya Anda bisa leluasa mendatangi tempat di dalam TPS Bantar Gebang.

Untuk menghindari risiko, sebaiknya hanya mengonsumsi makanan maupun minuman yang dibawa sendiri ke sana. Kebanyakan air di sana diambil dari sumur yang digali hanya sedalam 15 meter. Resa, penggiat lingkungan Bantar Gebang, mengungkapkan bahwa sumur sedalam 15 meter tidak bening sama sekali alias keruh.

Saat datang di musim panas, beruntungnya Anda tidak terlalu disuguhkan bau sampah yang menyengat. Namun udara di sana bisa sangat berdebu dan sinar matahari terik menyengat kulit. Sedangkan saat musim hujan, udara lembab dan tidak terlalu panas. Tapi, lalat berkumpul, bau sampah pekat, dan tanah pijakan kotor becek.

Selain di lokasi, bau menyengat dari TPS Bantar Gebang itu masih menempel kuat di pakaian yang Anda kenakan setelah keluar dari tempat itu. Untuk itu, siapkan pakaian ganti setelah selesai keliling TPS agar tidak mengganggu penciuman orang di luar TPS.

2 of 3

Sistem Memulung

Jangan Sembarang Tamasya ke Bantar Gebang
Sampah di Bantar Gebang. (Liputan6.com/Ossid Duha Jussas Salma)

Pemulung tinggal di gubuk yang dibangun sederhana di antara tumpukan sampah. Mereka memulung plastik dan sampah yang dapat dijual dari atas gunung sampah dan membawanya turun dengan karung.

Kira-kira per minggunya setiap orang bisa membawa dua kuintal sampah dari atas. Oleh pemulung, sampah dipilah per jenis dan per warna sebab pengepul tidak menerima sampah campuran.

Kemudian yang plastik digiling terlebih dahulu, baru setelah itu dijual. Dari sampah yang dibawa ke bawah, setelah dipilah, kira-kira bisa dihargai Rp50 ribu per kuintal.

Setiap pemulung di sini memiliki bos pengepul untuk mendistribusikan hasil sampah yang sudah dipilah. Dari bos juga, mereka membeli makanan dan air minum.  Terlebih setiap bos memiliki rumah yang lebih layak dan sumber air yang lebih bersih.

Sekitar 7.500 ton sampah dibawa dari Jakarta. Tapi hingga hari ini, setiap harinya pemerintah hanya bisa mengelolanya sebanyak 30 persen, sedangkan 70 persen sisanya harus bermuara di landfill.

Yuri Romero, penggiat lingkungan dari MAN Forum mengatakan bahwa belum ada solusi untuk menghentikan produksi sampah, tapi setidaknya dari perjalanan Bantar Gebang ini bisa menjadi pelajaran setiap orang untuk belajar bijak dalam menggunakan barang-barang.

"Saya nggak akan lupa jalan-jalan di Bantar Gebang ini, karena buat saya sadar kalau sampah harus dibuang dengan bijak," kata salah seorang pengunjung Bantar Gebang yang ikut bergabung dalam edutrip. (Ossid Duha Jussas Salma)

 

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓