Kisah Sepasang Pemulung Tertua di Bantar Gebang

Oleh Putu Elmira pada 29 Sep 2019, 03:00 WIB
Diperbarui 29 Sep 2019, 03:00 WIB
Kisah Sepasang Pemulung Tertua di Bantar Gebang
Perbesar
Bantar Gebang (Liputan6.com/Ossid Duha Jussas Salma)

Liputan6.com, Jakarta - Luka mendalam kehilangan buah hati membuat Oma dan Opa pindah ke Bantar Gebang di tahun 60-an. Tak kurang dari lima dekade kemudian, mereka yang kini berusia 80 tahun masih bekerja dan jadi pemulung tertua di kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) tersebut.

Oma dan Opa sebenarnya memiliki tiga anak yang sudah dewasa. Tapi, ketiganya dikatakan tak pernah mengurus. Bahkan, beberapa kali bantuan uang yang diberikan pada mereka malah diminta. Karenanya, sejak saat itu, siapapun yang hendak membantu Oma dan Opa disarankan memberi berupa barang atau bahan makanan.

Niat pertama pindah tentu bukan ingin memulung, tapi bertani. Yang mana pada saat itu, Bantar Gebang terkenal dengan hamparan sawah dan kebun pisang.

Mimpi hanya tinggal mimpi, Bantar Gebang malah berubah jadi lautan sampah. Sekitar tahun 1980, sampah-sampah dari Jakarta mulai berdatangan, menumpuk dan menggunung hingga hari ini.

"Saya mana tahu kalau sawah di sini bakal jadi tempat sampah," ujar Oma.

Oma dan Opa tinggal di gubuk kecil di antara tumpukan sampah. Karena telah dilarang memulung, lantaran sudah terlalu tua, kadangkala mereka masih bandel dan memulung juga, Oma dan Opa mengandalkan ternak ayam dan kambing untuk membayar uang sewa tempat tinggal dan makan setiap hari.

Memang sedikit aneh, tapi dengan pakan seadanya, ternak tetap berkembang biak di sana. Mirisnya, gubuk mereka juga jadi sarang lalat. Ketika mereka makan, lalat juga ikut hinggap. Bukan hanya satu atau dua, melainkan puluhan lalat yang turut hinggap di piring makanan.

Tak heran, beberapa minggu yang lalu, Opa baru saja sakit. Sekujur badan pemulung tertua di Bantar Gebang ini tak bisa bergerak. Kemudian setelah dibawa ke rumah sakit dan diperiksa, ternyata ada dua jenis salmonella (bakteri kotor yang sering mengontaminasi makanan di dalam tubuh.

2 dari 3 halaman

Masalah Sosial

Masalah Sosial
Perbesar
Rumah di Bantar Gebang (Liputan6.com/Ossid Duha Jussas Salma)

Jangankan berdiri di antara tumpukan sampah, dari radius enam kilometer (km) di luar Bantar Gebang, aroma tak sedap sudah sampai di hidung. Tapi, bagi orang-orang seperti Oma dan Opa, gunungan sampah tidak lagi mengganggu, melainkan jadi mata pencaharian.

Saat dihampiri tim Liputan6.com, Oma dan Opa baru saja didatangi pemilik tanah tempat tinggal mereka yang meminta keduanya segera pindah.

"Waktu itu ia (pemilik tanah) bilang sama saya katanya saya boleh tinggal di sini sampai seratus tahun. Tapi, tiba-tiba saya digusur, katanya ada bos pemulung yang mau bikin rumah di sini. Saya jadi bingung mau tinggal di mana," ujar Oma sambil mengusap air mata yang tak lagi bisa dibendung.

Walau sudah pindah sejak 50 tahun lalu, Oma dan Opa tak pernah jadi tuan tanah. Mereka berpindah-pindah menyewa tanah milik bos pulungnya untuk tempat tinggal.

Pendatang di Bantar Gebang memang jarang yang punya rumah. Tidak bisa membeli tanah karena tidak punya KTP. Pembuatan KTP bagi pendatang di Bantar Gebang disebutkan agak ketat, sehingga banyak di antara mereka yang memilih hidup tanpa kartu identitas.

"Kadang yang dibutuhkan mereka bukanlah harta atau pemberian apapun, kepedulian dan ramah tamah lah yang diinginkan," kata Yuri Romero, Penggiat lingkungan dari MAN Forum.

Banyak orang yang bertanya mengapa Oma dan Opa tidak pindah ke daerah lain saja untuk hidup, jawabannya karena pola pikir mereka sudah terlanjur terbentuk bahwa sampah adalah sumber kehidupan. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓