FIMELA FEST 2019: 3 Alasan Beauty Bullying Kerap Terjadi

Oleh Dinny Mutiah pada 20 Sep 2019, 12:02 WIB
Diperbarui 20 Sep 2019, 12:02 WIB
Beauty Bullying di Instagram
Perbesar
Ilustrasi Beauty Bullying di Instagram. (Foto: Vinicius Wiesehofer/ Pexels)

Liputan6.com, Jakarta - Perundungan di tengah masyarakat tak kunjung berhenti, bahkan cenderung menjadi-jadi, terutama di dunia maya. Para perempuan tak jarang jadi korban perlakukan tak terpuji satu ini. Mereka kerap menerima perundungan berbentuk beauty bullying.

Beauty bullying adalah komentar orang-orang yang isinya bernada negatif, cenderung mengejek maupun menghina bentuk tubuh atau wajah seseorang. Berdasarkan data dari The Cybersmile Foundation, satu dari empat perempuan mengalami perundungan terkait fisik mereka di dunia maya.

Bekerja sama dengan sebuah brand kosmetik asal London, survei juga mengungkap, sekitar 115 foto dihilangkan dari internet, lantaran mendapat komentar negatif atau mendapat pelecehan.

Dan, 46 persen perempuan yang jadi korban akhirnya mendapatkan masalah lebih besar, seperti menyakiti diri sendiri, penyalahgunaan alkohol, barang berbahaya, hingga gangguan makan. Tren yang mengkhawatirkan ini jadi tantangan besar bagi orang-orang muda karena mereka takut bereksplorasi atau mengekspresikan kecantikan versi mereka.

Ironisnya, tindakan bullying tersebut kerap kali datang dari sesama perempuan, baik dari keluarga, kerabat, rekan sekantor ataupun teman yang dapat memengaruhi sisi psikologis dari perempuan tersebut.

Psikolog klinis, Nauran Abdat, mengatakan, ada beragam faktor yang menyebabkan seseorang melakukan beauty bullying.

1. Budaya Patriaki

Menurut Nauran, banyak perempuan zaman dulu yang tidak memiliki pemahaman tentang kompetisi. Pemikiran perempuan dahulu, lelakilah yang lebih tinggi derajatnya. Banyak perempuan juga berpikir nilai dirinya terdapat pada penampilan luar, bukan berasal dari dalam diri atau inner beauty.

"Perempuan zaman dahulu kurang diberi ruang untuk menempatkan atau mengeluarkan agresi diri. Jadi, emosi dipendam, dari situlah mereka mencari perhatian. Namun, mencari perhatian tidak tepat dengan melakukan penghinaan terhadap orang lain," ujar Nauran dikuti dari Fimela.com, Jumat (20/9/2019).

2 dari 2 halaman

2. Salah Memahami Persaingan

Bullying Penindasan dan Kekerasan
Perbesar
Ilustrasi Foto Bullying (iStockphoto)

Beauty bullying juga timbul karena adanya pemahaman keliru mengenai cara bersaing. Hal ini disebut Nuran sebagai mekanisme pertahanan diri.

Dalam kondisi seperti itu, ketika seseorang butuh pembuktian untuk meningkatkan nilai diri, mereka cenderung menjatuhkan orang lain lewat komentar negatif.

3. Sering Disindir

Selain itu, perundungan terjadi karena seseorang kerap kali mendapat sindiran. Lantaran dikomentari negatif, pola pikir negatif terbentuk. Mereka pun menganggap berkomentar negatif sebagai hal biasa.

"Banyak orang yang tidak mengerti dan sadar bahwa hal itu membuat orang sakit hati atau tersinggung. Jadi, budaya nyinyir itu akhirnya biasa dilakukan," paparnya.

Keluarga dan pasangan ikut memengaruhi pembentukan pola pikir demikian. Maka itu, ia menekankan pentingnya mengelilingi diri dengan orang-orang positif.

"Beauty bullying juga bisa terjadi karena keluarga atau pasangannya selalu melontarkan komentar negatif. Alhasil, yang mengalami hal tersebut akan membalasnya dengan berkomentar negatif, seperti beauty bullying pada orang lain," tutupnya.

Untuk memahami lebih dalam tentang beauty bullying, yuk, daftarkan diri kamu di sini dan raih kesempatan untuk menghadiri FIMELA FEST 2019.

Lanjutkan Membaca ↓