Kisah Si Tutup Botol Cari Jati Diri di Gelaran Festival Cerita Nusantara dan Dunia

Oleh Henry pada 15 Sep 2019, 12:30 WIB
Kisah Si Tutup Botol Cari Jati Diri dalam Festival Cerita Nusantara dan Dunia

Liputan6.com, Jakarta - "Tutup botol mungkin hal yang remeh bagi kita. Tapi, kali ini tutup botol memiliki nama. Namanya adalah Ding-Ding," begitulah kalimat pembuka dongeng yang dibawakan oleh Uncle Fat, seorang storyteller dari Taiwan pada Festival Cerita Nusantara dan Dunia yang dilaksanakan, Sabtu, 14 September 2019 di Perpustakaan Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.

Ding-Ding adalah sebuah tutup botol yang baru lahir dan tinggal bersama kawanan tutup botol lain. Sejak awal, ia sudah tahu bahwa dirinya akan jadi penutup dari sebuah botol.

Setelahnya, Ding-Ding juga mengalami fase seperti manusia, di mana ia harus masuk sekolah. "Ding-Ding juga masuk sekolah, sama seperti kalian," kata Uncle Fat pada anak-anak yang menontonnya.

Saat bersekolah, Ding-Ding diajari bagaimana seharusnya tutup botol bekerja. Ia juga dibekali ilmu menjadi sebuah tutup botol yang baik. Jika telah mendapatkan semua ilmu, semua tutup botol akan ditugaskan untuk jadi penutup dari botol-botol yang ada.

Ding-Ding dan semua tutup botol bersekolah hanya tiga hari. Setelah itu, mereka dinyatakan lulus dan akan langsung dilakukan pembagian pekerjaan. Mirisnya, semua tutup botol tidak mengetahui mereka akan jadi tutup untuk botol apa. Bisa saja air mineral, minuman soda, atau mungkin kecap.

"Aku sih tidak mau jadi tutup botol kecap asin. Nanti aku keasinan, hiiii". "Kalau aku, tidak mau jadi tutup botol saus sambal. Nanti kepedasan." ujar beberapa tutup botol dalam cerita.

Mendengar hal tersebut, Ding-Ding merasa nasibnya tidak bisa ditentukan oleh orang lain. Ia mau menentukan nasibnya sendiri dan menolak hanya jadi sekadar penutup botol yang nantinya akan dibuang. Ding-Ding memutuskan untuk kabur dari kawanannya dan mengeksplorasi dunia luar.

Ia menggelinding di jalanan, menuruni tangga, hingga akhirnya sampai di pinggiran sungai. Di sana, ia bertemu seekor semut yang sedang menangis. Ding-Ding menghampiri dan bertanya, "Hai, kawanku semut. Mengapa kamu menangis?". Semut menjawab, "Aku ingin pulang ke rumah, tapi aku tidak bisa menyebrangi sungai ini".

Ding-Ding berpikir dan menemukan akal. Ia membalikkan badan dan menyuruh semut untuk naik ke atasnya. Mengetahui dirinya bisa mengapung, Ding-Ding mengantarkan semut menyebrangi sungai.

Sesampainya di seberang sungai, semut mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa Ding-Ding adalah teman yang sangat baik. Mendengarnya, Ding-Ding jadi senang dan mereka pun berteman.

Setelah berpisah dengan semut, Ding-Ding kembali menyusuri jalanan. Kali ini, ia bertemu seorang gadis kecil yang sedang menangis. Melihatnya, Ding- Ding menanyakan mengapa dia menangis. "Aku kesepian, tidak ada yang mau bermain denganku," balas gadis kecil itu.

Ding-Ding akhirnya menghibur gadis kecil itu dan ia tertawa. Mereka juga akhirnya jadi teman. Mendapatkan banyak teman dan bisa membantu makhluk lain membuat Ding-Ding merasa senang. Ia merasa bahwa meskipun hanya sebuah tutup botol, ia bisa menjadi berkat untuk orang lain.

Tepuk tangan anak-anak menjadi penutup manis dari cerita sebuah tutup botol yang berhasil mencari jati dirinya.

2 of 4

Mengenalkan Dongeng ke Aktivitas Sehari-Hari

Serunya Festival Cerita Nusantara dan Dunia di Perpustakaan Nasional
Pendongeng menyampaikan cerita dalam acara Festival Cerita Nusantara dan Dunia di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (14/9/2019). Acara tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan Perpusnas Expo 2019 yang berlangsung pada 5-22 September 2019. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Festival Cerita Nusantara dan Dunia sendiri adalah salah satu kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Ayo Dongeng Indonesia dalam rangka Menuju Festival Dongeng Internasional Indonesia 2019.

Kegiatan ini dilaksanakan pada 14--15 September 2019 di lantai empat dan tujuh Perpustakaan Nasional Indonesia, Jl. Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Acara ini juga bagian dari Perpusnas Expo 2019.

Menghadirkan pendongeng dari Indonesia dan mancanegara, yakni Ariyo Zidni dari Indoenesia, Uncle Fat dari Taiwan, dan Richard Dian Vilar dari Filipina, festival ini bertujuan mengangkat beberapa cerita nusantara dan memperkenalkan cerita dari negara lain. Selain itu, acara ini juga digunakan sebagai perayaan ulang tahun ke 39 Perpusnas.

"Kita mau ada perayaan bersama, tapi tujuannya ke keluarga dan anak-anak. Mau memperkenalkan layanan anak di Perpustakaan Indonesia juga, kan bagus tuh," ujar Ariyo Zidni.

Berbicara mengenai Komunitas Ayo Dongeng Indonesia, komunitas ini dibentuk oleh Ariyo Zidni pada 2011. Berawal dari kegemarannya membacakan dongeng ke anak- anak sejak 1999, Ariyo memutuskan untuk serius dalam menekuni dunia perdongengan. Selama delapan tahun berjalan, Komunitas Ayo Dongeng Indonesia telah menjalankan banyak program.

Tiga program utama mereka adalah Kelas Dongeng yang diselenggarakan setiap bulan di tempat publik, Dongeng Kejutan yang biasanya dilakukan di tempat publik, rumah sakit hingga panti jompo dan yang terbesar adalah Festival Dongeng Internasional Indonesia. Festival tersebut diadakan tahunan dan menghadirkan pendongeng dari berbagai negara.

"Kalau di Ayo Dongeng Indonesia, kita ada banyak kegiatan. Tapi, tujuannya memang lebih ke campaign tentang mendongeng supaya lebih banyak teman-teman, orang tua, guru yang mau mempergunakan dongeng di-activity-nya," kata Ariyo.

Ariyo menambahkan, dongeng merupakan sarana yang mudah dan tepat untuk orang dewasa mengajarkan nilai moral dan norma sosial di masyarakat pada anak. Ia mengatakan bahwa setiap cerita pasti memiliki pesannya masing-masing, sehingga anak bisa menganalisa setiap nilai.

Hal ini akan lebih efektif dibandingkan ceramah atau teguran langsung pada anak. Kemudahan penyampaian juga memudahkan orang dewasa, terutama orangtua.

"Dongeng itu jadi tools yang mudah. Jadi menyenangkan dan manfaatnya besar untuk anak-anak. Dia tidak butuh alat, tapi bisa grab attention kuat banget. Anak-anak kan senang main sama cerita. Tapi, kalau dalam permainannya ada cerita, itu akan lebih seru lagi," tambahnya.

Hal ini disetujui oleh Hera, salah satu orangtua yang membawa anaknya yang duduk di kelas 3 SD ke Festival Dongeng Cerita Nusantara dan Dunia. Ia mengatakan, banyak manfaat yang bisa didapatkan dari membacakan dongeng ke anak.

"Melatih anak untuk mengingat akan karakter, tokoh begitu ya. Jadi, dengan begitu kita melatih anak untuk memahami suatu cerita. Nanti dengan sendirinya membuat anak berani bercerita juga gitu," ungkap Hera.

Cerita fiktif anak ini juga dinilai Hera bisa jadi sarana untuk memberitahu anak, hal mana yang baik, juga boleh diikuti dan mana yang buruk. Kedekatan dengan anak juga semakin terjalin karena Hera sudah membacakan dongeng ke anaknya sejak usia dua tahun.

3 of 4

Peningkatan Antusiasme Masyarakat

Kisah Si Tutup Botol Cari Jati Diri dalam Festival Cerita Nusantara dan Dunia
Pengunjung Festival Cerita Nusantara dan Dunia pada Sabtu (14/9/2019) di Perpustakaan Nasional Indonesia. (dok. liputan6.com/Novi Thedora)

Minat masyarakat pada dongeng setiap tahunnya semakin meningkat. Hal ini dibuktikan melalui ramainya pengunjung yang hadir dalam Festival Cerita Dongeng Nusantara dan Dunia. Acara ini memiliki dua sesi yang dilakukan pada waktu bersamaan, yakni pertunjukan dongeng dan membaca nyaring. Keduanya memiliki pengunjung yang ramai oleh anak-anak.

Mereka yang hadir kebanyakan berasal dari sekolah. Ada pula orangtua yang sengaja membawa anaknya ke acara ini. Pihak Ayo Dongeng Indonesia mengaku tidak ada mengundang sekolah secara spesifik untuk hadir, tapi memang antusiasme publik makin tinggi. Buktinya, ruangan yang disediakan terisi penuh oleh anak-anak dan beberapa orangtua maupun guru.

Jika dilihat dari jumlah pengunjung Festival Dongeng Internasional Indonesia yang telah dilakukan sebanyak tujuh kali, terdapat peningkatan yang signifikan. Saat pertama kali dilaksanakan festival dongeng pada 2012, jumlah pengunjung mencapai 1.700 orang. Angka ini terus naik hingga 8.500 pengunjung pada tahun 2018.

Tidak hanya dari penikmat, orang yang ingin turut berkontribusi untuk melestarikan dongeng juga bertambah banyak. Contohnya relawan dari Ayo Dongeng Indonesia yang berasal dari berbagai kalangan. Ada yang bekerja sebagai guru, pekerja swasta, wartawan, mahasiswa, hingga siswa SMP.

"Dulu mulai saya dan empat orang, sekarang sudah 200-an yang bergabung menjadi volunteer," ungkap Ariyo.

Peningkatan ini bisa terjadi dikarenakan semakin banyak orangtua yang sadar bahwa literasi pada anak sejak dini itu penting. Dongeng adalah salah satu cara untuk mengenalkan hal tersebut.

(Novi Thedora)

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓