ICCF 2019, Merajut Nusantara dari Ternate dengan Rempah dan Kreativitas

Oleh Dinny Mutiah pada 09 Sep 2019, 15:02 WIB
Ternate

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2019 di Ternate, Maluku Utara, resmi ditutup pada Sabtu, 7 September 2019. Sejumlah sejarah tercetak dalam acara yang digelar untuk membahas tentang ekonomi kreatif.

Dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Senin (9/9/2019), Wali Kota Ternate Burhan Abdullah membuka acara tersebut pada 2 September 2019 di Benteng Oranje yang baru selesai direvitalisasi. Proses revitalisasi benteng yang berdiri pada 1607 itu memakan waktu hingga delapan tahun.

Karnaval Budaya menjadi kegiatan pembuka dalam rangkaian acara ICCF 2019. Parade warna-warni seni dan budaya tradisional ditampilkan dalam parade sepanjang Kedaton Kesultanan dan Benteng Oranje dengan misi "Merajut Kembali Indonesia".

Hari berikutnya digelar Spice Tour yang diikuti sejumlah delegasi ICCN dan ICCF, Wakil Dubes Spanyol, perwakilan UMKM, pelaku sektor pariwisata, hingga para pembicara Indonesia Creative Cities Conference (ICCC). Rombongan tur berangkat menggunakan kapal dari Pantai Jikomalamo.

Rombongan menjelajahi kawasan hutan di titik nol rempah-rempah dunia, tempat Cengkeh Afo, yakni pohon cengkih tertua di dunia berada. Rombongan sempat bersantap siang di sana dengan makanan berbahan dasar berbagai rempah yang disajikan oleh Komunitas Cengkeh Afo dan Gamalama Spices (CAGS).

Rombongan melanjutkan perjalanan dan mendarat di Pelabuhan Togolabe, Kecamatan Pulau Hiri, pulau pertama di Indonesia yang dideklarasikan sebagai Pulau Layak Anak oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise.

Di pulau tersebut, rombongan diajak berkeliling untuk mengapresiasi tradisi pengolahan kuliner lokal berupa manisan buah pala dan keripik pisang, juga cendera mata yang sebagian besar berbahan kayu dan batok kelapa. Ada pula diskusi bersama masyarakat mengenai potensi ekonomi kreatif di Pulau Hiri.

Rombongan juga berkunjung ke lokasi habitat burung maleo di puncak bukit Pulau Hiri, sebelum bertolak kembali ke Ternate untuk mengakhiri acara Spice Tour.

2 of 4

Dari Anak Bos Djarum hingga Ridwan Kamil

[Fimela] Ridwan Kamil
Pemain film Dilan 1991 berkunjung kerumah Dinas Ridwan Kamil (Adrian Putra/Fimela.com)

Inti acara digelar pada 4 September 2019 di Hotel Dafam Bela Ternate dengan kegiatan ICCC. Konferensi tingkat nasional itu dihadiri para bupati dan wali kota dari berbagai daerah. Mereka mempresentasikan capaian daerah masing-masing hingga upaya membangkitkan potensi ekonomi kreatif dengan sinergi pentahelix.

Pada kesempatan mengisi sesi pertama ICCC, Ketua APEKSI (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) sekaligus Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany pun memberi pujian kepada Ternate.

"Ternate punya laut, gunung, komunitas, punya potensi luar biasa dan punya sejarahnya. Ternate mantap, keren. Teman-teman dari ICCF harus tahu bahwa Ternate punya apa-apa," kata Airin.

Hari kedua konferensi, 5 September 2019, CEO GDP Venture Martin Hartono membahas topik Kota Kreatif dan Tantangan Global. Ia mengangkat prestasi sederet artis Indonesia yang tampil di Amerika Serikat, seperti Rich Brian, Niki, dan Stephanie Poetri. Ketiganya bahkan sempat tampil pada Head in the Clouds Festival 2019 di Los Angeles, Amerika Serikat.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun menyampaikan pada presentasinya di hari kedua ICCC, betapa penting mengemas informasi secara relevan melalui media sosial yang sekarang lebih banyak diakses oleh masyarakat pada kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengulas topik tentang pengelolaan media sosial. Ia menyatakan dengan pengelolaan yang benar, bisa membentuk identitas dan persepsi yang baik sehingga reputasi positif bisa diraih. Hal itu bisa dimanfaatkan untuk menarik lebih banyak wisatawan, pengunjung hingga investor.

3 of 4

Memeluk Gunung

ICCF 2019, Merajut Nusantara dari Ternate dengan Rempah dan Kreativitas
Para pembicara dalam ICCF 2019 di Ternate, Maluku Utara. (dok. ICCF 2019/Dinny Mutiah)

Pada 6 September 2019, rekor dunia terpecahkan lewat Gugu Gia Si Kololi. Sebanyak 42 ribu orang memeluk Gunung Gamalama dengan bergandengan tangan selama tujuh menit.

Kegiatan tersebut merupakan wujud tekad bersama untuk terus merajut persatuan dan kesatuan Indonesia.

"Ini merupakan acara sakral, yang pertama kali terjadi di dunia. Ini adalah kerja keras Jaringan Kota Ternate. Mereka ini adalah anak muda Ternate yang punya pikiran positif, inovatif, dan kreatif," kata Wali Kota Ternate, yang turut hadir dalam kegiatan Gugu Gia Si Kololi.

Bersamaan adanya puluhan ribu orang yang bergandengan tangan sepanjang rute jalan yang telah ditentukan hingga Benteng Oranje itu, bendera Merah Putih yang diikat pada sebuah tongkat pun dibawa berlari dan secara estafet dipindahkan hingga diberikan kepada Fiki Satari, Ketua Umum ICCN, yang menerimanya bersama rombongan di depan Benteng Oranje.

Kemudian, Fiki Satari menyerahkan bendera Merah Putih yang telah dibawa mengelilingi Gunung Gamalama itu kepada Paskibra yang bersiap di sana dan dengan sigap membawanya ke dalam Benteng Oranje untuk dikibarkan di tengah area, dikelilingi masyarakat dan para pengunjung dari luar pulau.

"Kita ingin merajut Nusantara dari Ternate. Seperti di tengah-tengah isu intoleransi, kami ingin Ternate mempunyai posisi sentral bahwa Ternate dari dulu sudah plural dan menerima segala perbedaan, keberagaman, saling percaya, dan sebagainya. Ini yang kemudian ditafsirkan dalam kegiatan Gugu Gia Si Kololi Ternate," kata Zandry, Ketua JARKOT.

Kegiatan Gugu Gia Si Kololi ini lalu tercatat sebagai Rekor MURI. Tetapi tidak hanya rekor nasional, Gugu Gia Si Kololi di Ternate ini berhasil mencetak rekor dunia.

"Dalam catatan MURI, belum ada di belahan dunia mana pun masyarakat bergandengan tangan mengelilingi gunung, baru ada di Kota Ternate. Ini menunjukkan bahwa persatuan bisa dianyam dari Timur, yaitu Ternate," kata Manajer MURI Triyono.

Pada hari terakhir ICCF 2019, Sabtu, 7 September 2019, diisi dengan KonferenSEA atau Rapat Anggota ICCN. Kegiatan ini membahas masa depan forum lintas komunitas kabupaten/kota kreatif se-Indonesia yang telah berjejaring dalam ICCN, termasuk aktivitas organisasi ini di masa mendatang.

Kegiatan ini juga menjadi momentum pemilihan Ketua Umum ICCN periode 2019-2022. Fiki Satari terpilih kembali menjadi Ketua Umum ICCN periode 2019-2022.

"Di periode berikut ini, ICCN dapat melanjutkan ke pengujian dampak dan jejak yang dihasilkan oleh jejaring yang telah menghubungkan lebih dari 200 kabupaten dan kota di Indonesia," kata Fiki.

Berikutnya, ICCN akan berkumpul untuk melakukan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Kabupaten Banyuwangi, lokasi yang terpilih pada saat Rapat Anggota. Sementara itu, ICCF 2020 ditetapkan akan berlangsung di Bali dan tuan rumah ICCF 2021 adalah Provinsi Riau, tepatnya di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓