Paket Trip ke Bantar Gebang, Mau Apa di Sana?

Oleh Asnida Riani pada 30 Agu 2019, 06:05 WIB
Berusia 30 Tahun , TPST Bantar Gebang Diprediksi Penuh 3 Tahun Lagi

Liputan6.com, Jakarta - Masalah sampah di Jakarta tampaknnya semakin menggunung. Berdasarkan data dari Sustainable Indonesia, jumlah sampah warga Jakarta setiap harinya mencapai 7.500 ton dengan menggunakan 1.200 truk yang hilir mudik ke Bantar Gebang. Hal ini membuat beberapa komunitas pecinta lingkungan tergerak hatinya dan melaksanakan trip edukasi di Bantar Gebang.

Bantar Gebang merupakan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) yang berada di Bekasi. Hampir seluruh sampah warga Jakarta berakhir di sini. Ironisnya, tumpukan sampah tersebut sebenarnya kebanyakan masih bisa didaur ulang jika dipilah sejak awal.

Namun, warga Jakarta baik individu maupun kolektif kurang memerhatikan isu ini. Padahal, sampah-sampah di Bantar Gebang ini juga akan dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik dan kompos.

Karenanya, Kertabumi Klinik Sampah bekerja sama dengan Sustainable Indonesia, MAN Forum, dan Komunitas BGBJ mengadakan Edutrip Bantar Gebang yang akan dilaksanakan pada 22 September 2019. Agenda kegiatan ini adalah eksplorasi TPS, diskusi dengan pihak Kertabumi Klinik Sampah dan environmentalist dan empati dengan penduduk lokal.

Anita, narahubung kegiatan Edutrip Bantar Gebang sekaligus pihak dari Sustainable Indonesia mengatakan bahwa empati dan kesadaran masyarakat terhadap pengolahan sampah ini masih minim.

"Masyarakat belum memahami pemilahan sampah karena kurangnya sosialisasi pemerintah, serta kurangnya kesadaran bahwa sampah yang kita hasilkan merupakan tanggung jawab kita sendiri," ujar Anita pada Kamis, 29 Agustus 2019.

Tak hanya isu pengolahan sampah dan dampaknya terhadap lingkungan yang akan dibahas, isu mengenai kesehatan dan perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar Bantar Gebang juga akan ditampilkan dalam sesi diskusi.

Edutrip ini terbuka untuk semua elemen masyarakat dari semua kalangan usia. Tidak ada syarat khusus, hanya setiap peserta dihimbau untuk menyiapkan mental dan fisik karena akan melihat tempat sampah raksasa beserta bau yang mungkin tidak sedap di hidung.

 

2 of 3

Langkah Kecil, Perubahan Besar

Cara Membuat Pupuk Kompos (sumber: iStock)
Cara Membuat Pupuk Kompos (sumber: iStock)

Biaya pendaftaran kegiatan ini adalah Rp100 ribu dan akan dialokasikan ke beberapa pihak seperti komunitas di Bantar Gebang, Sustainable Indonesia dan Kertabumi Klinik Sampah dan ada juga untuk trauma healing di Lombok. Setelah mengikuti edutrip ini, peserta diharapkan dapat meningkat kesadarannya dengan lebih bertanggungjawab atas setiap tindakan yang dapat memengaruhi alam.

"Masalah sampah sudah terlalu pelik dan tingkat urgensinya semakin tinggi. Kalau tidak ditangani dengan cepat, kita akan tenggelam dalam sampah," tambah Anita kepada Liputan6.com.

Penanganan sampah ini juga sudah bisa dilakukan dari rumah. Pihak Sustainable Indonesia mengatakan sampah bisa diolah mulai dari diri sendiri kemudian ditularkan ke lingkungan sekitar. Misalnya, kurangi pembelian barang sekali pakai agar tidak menimbulkan sampah baru.

Tak hanya itu, sampah rumah tangga seperti sisa makanan juga bisa kita kurangi dengan cara mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya. Sisa makanan yang terbuang dan menjadi sampah basah akan mempersulit pemilahan sampah kering yang seharusnya bisa diolah kembali.

Jika sampah kering sudah tidak terkontaminasi lagi, Anda bisa menyerahkan sampah ini ke komunitas pecinta lingkungan atau bank sampah agar bisa diolah kembali menjadi barang pakai seperti tas atau tempat tisu.

Anda juga dapat memulai untuk membuat pupuk dari sampah basah yang diolah oleh komposter sederhana atau membuat lubang resapan (biopori) dengan menimbun sampah ini agar dapat menyerap air hujan dengan lebih baik.

"Kita tidak bisa tunggu-tungguan dan mengharapkan pemerintah saja. Ayo kita bergerak bersama, dimulai dari diri sendiri, rumah dan lingkungan sekitar," tutup Anita. (Novi Thedora)

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓