Solusi Digital Pertanian Menyambut Industri 4.0

Oleh Liputan6.com pada 26 Agu 2019, 19:18 WIB
20160304-Kelapa Sawit-istock

Liputan6.com, Jakarta - Penyedia layanan cloud terkemuka di Indonesia, Datacomm Cloud Business bersama dengan mitra, memperkenalkan solusi Digital Perkebunan Terintegrasi SMART AGRICULTURE untuk Perkebunan pada umumnya dan perkebunan Kelapa Sawit dan Perkebunan Tebu pada khususnya.

Pertumbuhan bisnis Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia berkembang sangat cepat, karena minyak sawit adalah industri terpenting di Indonesia yang menyumbang antara 1,5 - 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara.

Menurut Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) diperkirakan tahun depan akan terjadi kekurangan minyak kelapa sawit sampai 2 juta ton. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi produsen kelapa sawit kedepannya.

Sementara menurut Managing Director dari AMS Teknologi Taufik Darwis, SMART AGRICULTURE dapat menyongsong Industry 4.0 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.  Selain itu, beberapa tantangan yang dihadapi produsen kelapa sawit saat ini adalah kurangnya produktivitas perkebunan akibat tingginya biaya pemeliharaan kebun, keamanan, pembibitan dan pupuk, serta tenaga kerja yang kurang efisien.

Untuk memecahkan masalah kurangnya produktivitas Produsen Kelapa Sawit tersebut, aliansi ini menggabungkan beberapa modul untuk menjadi sebuah solusi lengkap bernama SMART AGRICULTURE.

"Solusi dari anak bangsa untuk mempercepat adopsi daripada Industry 4.0 bagi industri perkebunan," papar Bayu Wedha, selaku Managing Director dari PT. Integrasia Utama

Solusi SMART AGRICULTURE merupakan kerja sama dalam bentuk aliansi partner yang melibatkan Datacomm Cloud Business, AMS Teknologi, Integrasia Utama, dan eKomoditi.

"Kami punya tanggung jawab untuk memodernisasi bisnis perkebunan kelapa sawit di Indonesia demi memastikan bahwa semua komoditi kelapa sawit milik Indonesia dapat bersaing dalam pasar global," jelas Ferron Haryanto, selaku Chief Executive Officer dari PT. eKomoditi Solutions Indonesia

“Kami berusaha membantu dalam meningkatkan kemakmuran para petani dengan membantu agar mereka bisa bekerja lebih efisien dan optimal melalui penggunaan teknologi yang tidak berat biaya dan lebih berkelanjutan,” ujar Sutedjo Tjahjadi, selaku Managing Director dari Datacomm Cloud Business.

Sawit
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan provinsi itu per tahun 2019, kabupaten dengan Hak Guna Usaha (HGU) kebun kelapa sawit terluas di Aceh, yakni 71,661.53 hektare. (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Berdasaran kondisi di atas maka aliansi partner ini memberikan integrasi solusinya yaitu :

1. Komunikasi antara machine to machine yang menjadi kendala di perkebunan yang tidak ter-cover oleh jaringan GSM, kami sediakan solusi RPMA (random phase multiple access). Komunikasi ini untuk dapat memberikan data real time dari sensor yang ada di lapangan ke dalam sistem seperti sensor ketinggian muka air, sensor curah hujan dan arah angin dan sensor lainnya.

2. Modul Pemantauan Aset Bergerak dan Stasioner bernama SIOPAS atau SIOPASPLUS, aset dapat dipantau dan dimanfaatkan secara maksimal (optimalisasi aset).

3. Modul Pemantauan dan Pelacakan pekerja bernama GEOHRyangmeningkatkan efektivitas dan efisiensi karyawan yang bekerja di lapangan. Mengintegrasikan sistem absensi di kantor dengan sistem Portal Web yang terintegrasikan dengan absensi dan tracking karyawan menggunakan mobile phone disamping fungsi panic button untuk situasi genting karyawan di lapangan.

4. Modul Management data Geospatial berikut engine development yang akan memungkinkan pihak perkebunan mempercepat pembangunan sistem informasi geospatial berbasis web yang juga mengintegrasikan data transaksi dari ERP system ke dalam data Geospatial (peta) bernama OSMAP.

5. Modul Analisa tergabung dengan WebGIS dan MAP-GIS yangmenyediakan analisa data berdasarkan citra satelit dalam 1 - 2 minggu, dengan resolusi tinggi 3 - 5 meter yang dikombinasikan dengan sensor di lapangan dan platform Artificial Intelligence untuk menyediakan data.

Hal itu terdiri dari: Forecasting Panen dari Kebun, Pengelolaan Hama, Peringatan Kebakaran, Kesehatan Tanaman, Pengelolaan Air, Risiko Kebakaran, dan lain-lain bernama AGRISOURCE.

Smart Agriculture
Smart Agriculture. foto: istimewa

6. Modul yang dapat meningkatkan utilisasi transportasi, Keselamatan bekerja dan tentunya efisiensi di logistik dan transport bernama OSLOG. Modul ini akan membantu operasional yang mencakup proses penjualan menerima pesanan, memantau pesanan, dan menyelesaikan pesanan.

Data yang diberikan adalah performa penjualan, pengiriman tepat waktu, jarak waktu, key performance indicator (KPI) Pengemudi, dan lain-lain.

7. Modul ERP untuk Perkebunan bernama EPCS-IPLAS. Memberi pihak perkebunan akses mudah ke informasi operasional utama untuk pengambilan keputusan dan membuat keputusan lebih jelas, lebih cepat, dan lebih mudah dengan ERP khusus perkebunan Modul Kegiatan Operasional Lapangan bernama EPCS.

EPCS (electronic plantation control system) dikembangkan dalam perangkat android, membantu administrasi manual pekerjaan umum, panen, transportasi, dan sortasi pabrik untuk proses input dan pelaporan secara cepat, mengurangi kesalahan serta ketidaksesuaian karena telah dilengkapi dengan global positioning system (GPS) data dapat berupa gambar real di lapangan. EPCS akan mengurangi data ganda dan penggunaan laporan fisik.

SMART AGRICULTURE diharapkan dapat menjadi solusi lengkap dan terintegrasi antara Infrastrukur IT, Platform Aplikasi sampai ke pengelolaan data dan pemeliharaan sistem. Solusi ini bukan hanya memberikan solusi end to end pengelolaan kebun dan aset, namun juga mengurangi biaya tidak perlu.

Solusi ini fokus untuk menjadi SAAS (solution as a service). Perusahaan yang menggunakan solusi ini nantinya tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar di depan.