Berbicara di Malaysia, Puteri Indonesia 2019 Bakal Bawa Isu Anak-Anak Tanpa Akta Kelahiran

Oleh Dinny Mutiah pada 19 Agu 2019, 13:04 WIB
Diperbarui 19 Agu 2019, 13:04 WIB
Berbicara di Malaysia, Puteri Indonesia 2019 Bakal Bawa Isu Anak-Anak Tanpa Akta Kelahiran

Liputan6.com, Jakarta - Berawal dari keikutsertaannya dalam kunjungan bersama komunitas Sekolah Bisa, Puteri Indonesia 2019 Frederika Alexis Cull menemukan masalah soal akta kelahiran. Berdasarkan data yang dimiliki, 75 juta orang di Indonesia tak memiliki akta kelahiran, 24 juta di antaranya adalah balita.

Ia pun mendirikan yayasan bernama Voice for the Voiceless yang memfokuskan diri dalam membantu anak-anak kurang mampu yang tidak memiliki akta kelahiran. Langkah pertama yang dilakukan perempuan kelahiran Australia itu adalah mendatangi kawasan pemulung di Jurangmangu Timur, Tangerang Selatan, awal Agustus 2019.

"Ini tempat ke-4 yang aku kunjungi untuk mencari anak-anak yang tidak memiliki akta kelahiran. Agar research aku akurat, harus 1.000 anak yang didata sebagai responden," kata Fred, panggilan akrabnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Minggu, 18 Agustus 2019.

Dalam kunjungan kali ini, ia baru berhasil mengumpulkan data 200 anak yang tidak memiliki akta kelahiran. Maka itu, ia harus menambah data yang dimiliki dengan mengunjungi kawasan lain, tidak hanya di wilayah Jabodetabek, tetapi juga di tempat lain.

"Kenapa ke tempat pemulung, karena banyak dari mereka itu orang luar berdatangan. Mereka dari dulu nggak diurusi aktanya," kata Puteri Indonesia kelahiran 5 Oktober 1999 itu.

2 dari 3 halaman

Bawa Isu ke Malaysia

Berbicara di Malaysia, Puteri Indonesia 2019 Bakal Bawa Isu Anak-Anak Tanpa Akta Kelahiran
Puteri Indonesia 2019 Frederika Alexis Cull ikut blusukan ke kampung pemulung untuk mencari data anak-anak tanpa akta kelahiran. Informasi tersebut akan disampaikan di ajang internasional di Malaysia. (dok. Voice for the Voiceless/Dinny Mutiah)

Menurut atlet rugby itu, akta kelahiran sangat penting bagi masa depan anak-anak. Keberadaan dokumen itu membuka akses pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial lain. Namun, ia menilai belum banyak organisasi di Indonesia yang menyadari masalah itu.

"Bayangkan kalau anak-anak tidak memiliki akta, saat akan sekolah atau hal-hal yang berurusan dengan birokrasi pasti susah," ujarnya.

Dalam survei berlangsung, ia juga menyebarkan informasi tentang pembuatan akta kelahiran. "Banyak orang yang tidak tahu cara membuat akta kelahiran dan mereka banyak yang tidak tahu pembuatan akta itu gratis," jelas Fred.

Perempuan lulusan British School Jakarta itu mengaku akan mendatangi kementerian terkait perihal masalah tersebut. Ia juga akan membahas isu ini saat jadi pembicara di Asian Youth International Model United Nations (AYIMUN) 2019 di Malaysia pada 25--29 Agustus 2019.

"Dan juga tentunya di ajang Miss Universe," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓