Sambut HUT ke-74 RI, Mari Hapalkan Lirik Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

Oleh Komarudin pada 17 Agu 2019, 05:05 WIB
Diperbarui 17 Agu 2019, 05:05 WIB
Menilik Sejarah Indonesia di Museum Sumpah Pemuda
Perbesar
Sejumlah pelajar melihat biola milik WR. Supratman saat menciptakan lagu Indonesia Raya yang juga dikumandangkan saat kongres Sumpah Pemuda, Jakarta, Rabu (29/10/2014). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Hari Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia (HUT ke-74 RI) kali ini jadi momen yang sangat tepat untu mengenal kembali lagu 'Indonesia Raya 3 Stanza'. Boleh jadi, tak banyak yang hapal lagu tersebut.

Padahal, lagu 'Indonesia Raya 3 Stanza' merupakan salah satu lambang negara yang menjadi simbol persatuan dan kebanggaan masyarakat Indonesia. Lagu ini selalu dinyanyikan dengan penuh kebanggaan dan semangat.

Lagu 'Indonesia Raya 3 Stanza' yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman, dinyanyikan pertama kali pada 28 Oktober 1928. Lagu kebangsaan ini sudah tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958. Aturan ini diterbitkan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno pada 26 Juni 1958.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, Pasal 59 ayat (2) menyebutkan bahwa lagu kebangsaan dapat diperdengarkan dan/atau dinyanyikan dalam rangkaian program pendidikan dan pengajaran.

Lirik Lagu 'Indonesia Raya 3 Stanza'

I

Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Di sanalah aku berdiri

Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku

Bangsa dan tanah airku

Marilah kita berseru

Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku

Hiduplah negriku

Bangsaku Rakyatku

Semuanya

Bangunlah jiwanya

Bangunlah badannya

Untuk Indonesia Raya

(Ulangan)

Indonesia Raya

Merdeka Merdeka

Tanahku, Negriku yang kucinta

Indonesia RayaMerdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia Raya

II

Indonesia, tanah yang mulia

Tanah kita yang kaya

Disanalah aku berdiri

Untuk slama-lamanya

Indonesia, tanah pusaka

P’saka kita semuanya

Marilah kita mendoa

Indonesia bahagia

Suburlah tanahnya

Suburlah jiwanya

Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya

Sadarlah hatinya

Sadarlah budinya

Untuk Indonesia Raya

(Ulangan)

Indonesia Raya

Merdeka, Merdeka

Tanahku, Negriku yang kucinta

Indonesia Raya

Merdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia Raya

III

Indonesia, tanah yang suci

Tanah kita yang sakti

Di sanalah aku berdiri

M’njaga ibu sejati Indonesia, tanah berseri

Tanah yang aku sayangi

Marilah kita berjanji

Indonesia abadi

S’lamatlah rakyatnya

S’lamatlah putranya

Pulaunya, Lautnya, Semuanya

Majulah negrinya

Majulah pandunya

Untuk Indonesia Raya

(Ulangan)

Indonesia Raya

Merdeka, Merdeka

Tanahku, Negriku yang kucinta

Indonesia Raya

Merdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia Raya

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:


Penyanyi Lagu Indonesia Pertama

Dolly Salim
Perbesar
Dolly Salim, penyanyi Indonesia Raya yang pertama (Foto.Wikipedia)

Meski lagu tersebut sangat terkenal, tapi tak banyak orang yang mengenal penyanyi pertama lagu Indonesia Raya pertama. Ia adalah Theodora Athia Salim atau Dolly Salim lahir pada 26 Juli 1913.

Lagu Indonesia Raya pertama diperdengarkan pada Kongres Pemuda II pada 1928 di Jalan Kramat Raya No. 10, Jakarta Pusat. Saat itu WR Supratman harus menggubah lirik asli yang mencantumkan kata "merdeka" menjadi "mulia" karena adanya represi pemerintah kolonial Belanda. Dolly pun kemudian menyanyikan lagu itu dengan kata "mulia", bukan "merdeka".

Dolly sempat menolak menghadiri acara tersebut. Namun, Dolly Salim akhirnya datang dan menjadi wakil Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Natipij adalah wadah kepanduan di bawah Jong Islamiten Bond (JIB). Di JIB, salah satu deklarator Sumpah Pemuda, Haji Agus Salim menjadi penasihat.

Saat itu, Dolly menolak karena belum merasa dalam usia sebagai pemuda. Bujukan teman-temannya itu yang membuat Dolly akhirnya bersedia datang ke Kramat Raya. Kongres Pemuda II dilaksnakan di rumah kos untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.

Dolly Salim merupakan putri sulung Haji Agus Salim dan Zaitun Nahar Almatsier. Dolly Salim tak pernah mengenyam pendidikan di sekolah formal saat itu, melainkan pendidikan di rumah. Hal itu terjadi karena Haji Agus Salim tak setuju dengan sistem pendidikan kolonial Belanda.

Dolly Salim menikah dengan Soedjono Hardjosoediro pada 1935 dan wafat pada 24 Juli 1990. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai empat orang anak.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya