Torehan Rekor MURI Terjadi di Festival Budaya Lembah Baliem 2019

Oleh Reza pada 08 Agu 2019, 11:06 WIB
Kemenpar

Liputan6.com, Jakarta Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2019 memberikan nuansa berbeda. Pada pembukaannya, FBLB langsung berhasil menorehkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan kategori tas Noken terbesar di dunia. Torehan itu terlihat dari panjangnya tas sampai 30 meter. Lebih menarik lagi Noken tersebut diarak oleh 500 penari kolosal di Distrik Welesi, Rabu Siang (7/8).

Penyerahan piagam rekor Muri diberikan oleh Senior Manajer MURI Yusuf Ngadri kepada Bupati Kabupaten Jayawijaya Jhon Richard Banua. FBLB sendiri resmi dibuka oleh Menteri Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise. Tampak mendampingi pada pembukaan tersebut Bupati Kabupaten Jayawijaya Jhon Richard Banua dan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.

"Fantastis. Saya memang tak pernah ragu terhadap atraksi yang disajikan FBLB. Kentalnya budaya menjadi sumber kekuatan yang tak ada habisnya mengisi festival ini," kata Menteri Pariwisata Arief yahya, Rabu (7/8).

Menurut Bupati Kabupaten Jayawijaya Jhon Richard Banua, Noken tersebut merupakan kreasi dari 10 mamak dari suku Kurulu. Pengerjaannya pun membutuhkan ketelitian yang tinggi dan dikerjakan selama beberapa bulan.

Selain Noken raksasa, pada pembukaan tersebut juga ditampilkan berbagai seni budaya lainnya. Ada tari kolosal dengan didukung 500 penari, dan tentunya tarian perang dari Lembah Baliem yang legendaris. Penarinya sendiri berasal dari beberapa distrik di Kabupaten Jayawijaya.

"Festival Budaya Lembah Baliem adalah salah satu festival budaya tertua di tanah Papua. Hingga kini pemerintah Jayawijata telah menyelenggarakan even ini yang ke-30 tahun. Lahirnya festival ini di aspirasi oleh kondisi nyata kehidupan dan budaya masyarakat pribumi di lembah Baliem Kabupaten Jayawijaya," kata Bupati Banua.

Banua menambahkan, sejak dicetuskan pertamakali, FBLB telah memberikan dampak positif dalam membentuk pola pikir dan pola tindak masyarakat di Kabupaten Jayawijaya.

Karena sejak dulu perang suku tidak dapat dihilangkan dalam kebudayaan masyarakat lokal. Pemicunya adalah masalah masalah sosial. Maka dari itu untuk menghindari kontak fisik, pemerintah menyelenggarakan FBLB.

"Masyarakat kota Wamena dan sekitarnya semakin mengerti bahwa perang suku sesungguhnya sangat merugikan kehidupan sosial masyarakat lokal. Perang suku seharusnya dapat dilestarikan dengan cara yang berbeda serta memiliki nilai edukasi. Selain itu FBLB telah menjadi sarana untuk melindungi nilai nilai seni budaya masyarakat lokal dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari warisan budaya nusantara dalam multikulturisme bangsa Indonesia". jelas Banua

Faktor lain yang paling menonjol adalah keberadaaan festival ini semakin mendorong sektor pariwisata di Jayawijaya. Hal ini menjadikan pariwisata sebagai sektor utama pembangunan di Jayawijaya.

Hal ini dibuktikan dengan presentase kehadiran wisatawan yang tertarik mengunjungi Wamena. Baik itu satawan domestik (wisdom) maupun wisatawan mancanegara (wisman). Terutama saat berlangsungnya FBLB.

"Pariwisata adalah sebuah industri yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Seluruh sektor terdorong naik seiring dengan perkembangan pariwisata. Transportasi naik, penginapan naik, kuliner naik, UMKM juga ikut naik. Artinya dengan potensi yang ada sudah selayaknya Jayawijaya menjadikan pariwisata sebagai leading sektor pembangunan daerah," papar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.

Sementara itu Menteri Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise memuji keseriusan pemerintah daerah yang begitu aktif mendorong festival ini. Baik itu pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Maupun Pemerintah Provinsi Papua. Begitu juga tokoh adat, dan masyarakat yang telah bekerjasama menjaga dan melestarikan serta mengembangkan FBLN. Dengan kerjasama tersebut FBLB selama dua tahun berturut-turut tetap eksis dalam Top 100 Calendar of Events WonderfulKemenpar.

"Untuk masuk ke dalam Calendar of Events, dibutuhkan penilaian yang mengacu pada kriteria 3C: (Cultural/Creative Value,Commercial/Communication Value, dan CEO Commitment/Consistency). Ini tidak mudah, tetapi FBLBbisa mempertahankannya. Selamat atas berlangsung FBLB ke-30," ujar Menteri Yohana.

 

(*)