Ornamen Merah Penuhi Tempat Festival Cheng Ho 2019

Oleh Fitri.Syarifah pada 03 Agu 2019, 23:38 WIB
Kelenteng Tay Kak Sie

Liputan6.com, Jakarta Sejak Jumat malam (3/8), Kelenteng Tay Kak Sie erlihat sangat siap. Ornamen berwarna merah terlihat dominan. Lilin besar ukuran 3 meter terlihat menyambut setiap tamu. Tak hanya etnis Tionghoa, muslim pun disambut hangat di kelenteng ini. Kesan yang terasa, toleransi antar umat beragama sangat dijunjung tinggi.

Festival Cheng Ho 2019 dipastikan akan heboh. Bakal spektakuler. Tujuh joli atau tandu raksasa sudah stand by di Klenteng Tay Kak Sie, lokasi start Festival Cheng Ho 2019. Semuanya siap diarak 2000 peserta, Minggu (4/8).

"Persiapan di Klenteng Klenteng Tay Kak Sie rampung Jumat malam (2/8). Ada tujuh Joli atau tandu yang telah kita siapkan," terang Ketua Kelenteng Tay Kak Air, Sindoro, Sabtu (4)8).

"Ada makna damai dalam perayaan Cheng Ho. Simbolnya penyalaan lilin raksasa di Kelenteng Kay Tak Sie. Nyala api lilin itu terus menerangi warga Kota Semarang agar tetap damai, sejahtera, dan hidup rukun," tambahnya.

Harapan yang sama dilontarkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Dia menilai, misi Laksamana Cheng Ho membawa kedamaian dalam muhibahnya ke negara lain. "Misi itu tidak ada pemaksaan, apalagi peperangan. Inj mengartikan bahwa di mana pun kedamaian selalu membawa kebahagiaan hidup," tutur Ganjar.

Walikota Semarang Hendar Priadi juga seirama. Dia menilai, kirab ke Kelenteng Sam Poo Kong itu juga berarti prosesi pembebasan kesewenangan. Konon ketika itu, Simongan dalam kekuasaan seorang kaya keturunan Yahudi yang menarik biaya tinggi bagi peziarah. Praktik ini menyulitkan warga Tionghoa untuk datang bersembahyang.

”Untuk mengatasinya, dibuatlah duplikat patung Cheng Ho yang ditaruh di Kelenteng Tay Kak Sie. Supaya dapat berkahnya, duplikat patung itu setiap tahun dibawa ke Sam Poo Kong, terus balik lagi ke Tay Kak Sie,” kata Walikota Hendar.

Ketua Tim Pelaksana CoE Kemenpar Esthy Reko Astuty juga ikut bersuara. Dia mengaku bangga melihat tingginya toleransi antar umat beragama yang diperlihatkan. "Ini sangat bagus. Spiritnya sama dengan Cheng Ho. Cheng Ho lebih memilih menjalin hubungan yang harmonis ketimbang mengeruk kekayaan atau menancapkan kekuasaan pada daerah yang dikunjunginya," tutur Esthy.

Festival Cheng Ho 2019 pada Minggu pagi (4/8) akan mengambil start dari Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Dari situ, arak-arakannya mengarah ke Klenteng Sam Poo Kong di Jalan Simongan. Patung Laksamana Cheng Ho akan diarak selama parade berlangsung. Yang perlu dicatat, ada perpaduan budaya Jawa dan budaya Tionghoa di Festival Cheng Ho 2019.

"Di sinilah letak kekayaan budaya yang kita punya. Akulturasi beragam budaya kuat yang kita punya menjadi sebuah magnet utama bagi wisatawan yang datang. Dimana Barongsai dapat bersanding manis dengan Jathilan. Atau Gamelan yang mengiringi lagu Mandarin. Ini tentu sangat unik," kata Menpar Arief Yahya