Eksistensi Noken Bergantung pada Hutan Papua

Oleh Asnida Riani pada 03 Agu 2019, 14:30 WIB
Diperbarui 05 Agu 2019, 08:13 WIB
Papua

Liputan6.com, Jakarta - Berbentuk persegi, super lebar, sampai menutupi hampir semua bagian atas badan, atau membentuk setengah lingkaran bak bulan sabit. Bagaimanapun bentuknya, noken sudah tak lagi bisa dipisahkan dari keseharian masyarakat Papua.

Tas serbaguna yang dianggap sebagai simbol perempaun Papua, kesuburan, kekeluargaan, ekonomi, kehidupan yang baik, perdamaian, dan identitas ini akan terus ada. Syaratnya, hutan tetap eksis dalam menyediakan bahan bakunya.

Serat kayu dan ada pula anggrek adalah bahan baku noken yang diambil dari hutan. "Bila hutan sudah tak punya pohon, otomatis serat kayu tak akan lagi didapat mama-mama untuk membuat noken," kata Direktur Program Eco Nusa Muhammad Farid di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 31 Juli 2019.

Dalam perlindungan hutan di Papua, kata Farid, upaya yang sangat mungkin ditempuh adalah bersinergi dengan ragam program pemerintah. Di samping itu, menjaga tutupan hutan jadi salah satu upaya esensial.

"Secara garis besar, Eco Nusa sedang membantu tutupan hutan Provinsi Papua Barat sampai 70 persen. Kami juga membuka pintu dengan berbagai pihak untuk tidak mengkonversi hutan di Papua Barat," tuturnya.

Dengan ekosistem yang masih kompleks, jelas Farid, hutan di Papua sangat bisa revegetasi secara alami. Peran satwa yang menyebarkan biji-bijian untuk kemudian menumbuhkan pohon jadi contoh yang disebutkan Farid.

2 dari 3 halaman

Pengganti Kantong Plastik

Papua
Eco Nusa gelar Mari Cerita (MaCe) Papua: Noken, Rajutan Identitas Masyarakat Papua di Cinema Hall, Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, 31 Juli 2019. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Farid menyambung, membuat noken lebih dekat dengan masyarakat luas bisa dilakukan dengan cara menjadikannya sebagai pengganti kantong plastik. Ya, noken disarankan sebagai solusi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

"Selain bentuknya yang bagus, noken juga bisa dimanfaatkan sebagai kantong belanja. Tinggal disesuaikan saja dengan ukuran yang diperlukan," ucapnya.

Seorang pengrajin noken, Merry Dogopia, bercerita noken dulunya memang tak bisa dibawa sembarang orang. Hanya orang ternama, punya kuasa, dan pihak-pihak berada saja yang membawa noken. Seiring waktu, tas ini jadi milik masyarakat lebih luas.

Dengan ragam bentuk dan warna, noken sendiri dibanderol mulai dari Rp100 ribu untuk yang berukuran kecil dan Rp3 juta untuk noken yang dibuat dari anggrek dipetik dari hutan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓