Kuliner Malam Jumat: Menjajal Cabai Jablai Ulekan Ayam Gebug

Oleh Komarudin pada 01 Agu 2019, 21:04 WIB
Diperbarui 21 Nov 2019, 09:46 WIB
Ayam Gebug

Liputan6.com, Jakarta - Afrizal terlihat sibuk menggerus cabai di atas cobek. Tangannya seperti menari-nari di atas cobek. Malam itu sudah beberapa kali ia harus mengulek cabai karena persediaan sambal mulai hampir habis.

Pukul 19.00-20.00 WIB, jadi hari yang paling sibuk bagi lelaki yang akrab disapa Ari itu. Selain mengulek sambal, ia harus menggebuk potongan-potongan daging ayam yang baru saja diangkat dari penggorengan.

"Saya buka tempat ini sejak tahun 2013, tepatnya Oktober," ujar Ari membuka percakapan kepada Liputan6.com di warung tenda miliknya di kawasan Kembang Kencana, Meruya Utara, Jakarta Barat, baru-baru ini.

"Awalnya hanya dua meja, namun sekarang bisa menjadi empat, dan sama lesehan," lanjut Ari.

Sebelum membuka warung tenda di dekat pintu keluar tol Meruya, Ari sempat bekerja sebagai koki. Sambil bekerja sebagai koki, ia menekuni usaha ayam gebug hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempatnya bekerja.

"Saya ingin fokus usaha ini, makanya saya berhenti bekerja. Jadi, saya menjalani usaha ini bersama keluarga," tutur Ari yang juga mengatakan warung tendanya buka tiap Senin hingga Sabtu pukul 17.00 WIB-01.00 WIB.

Beberapa menu yang disajikan di warung tenda miliknya di antaranya ayam, usus, ati ampela, tahu, kepala ayam, dan ceker, serta lele. Untuk minum hanya teh manis dan air jeruk. Dari banyak menu itu, ayam gebug termasuk yang paling banyak dicari pembeli.

“Pengunjungnya dari mana aja. Ada yang dari Radio Dalam. Mereka datang ke sini bisa tiga kali dalam seminggu. Pembeli kami jauh-jauh, kok. Ada juga yang dataang Tangerang," kata Ari yang mematok harga Rp15 ribu untuk satu porsi ayam gebugnya.

2 dari 3 halaman

Cabai Jablai

Ayam Gebug
Ayam gebuk dengan diberi sambal bawang (Liputan6.com/Komarudin)

Berbeda dari kebanyakan, Ari menuturkan bahwa olahannya tanpa vetsin atau penyedap rasa. Sambal ulekannya menggunakan cabai rawit.

“Yang membedakan kita dengan yang lain, kita nggak pakai campuran apapun. Kita hanya pakai cabai murni, kata orang cabai jablai. Cabai pedas. Cabai dicampur dengan bawah, ditambah gula dan garam. Kita nggak pakai vetsin dan minyak ikan," ungkap Ari.

Untuk urusan rasa, seorang pengunjung bernama Frisa Trisanti mengakui kalau ayam gebug ini sangat pedas. Ia merasa cocok dengan pedasnya sambal bawang hasil olahan Ari.

“Kalau saya di sini suka sambalnya karena sambalnya khas banget ya. Sambal bawangnya. Kalau di daerah Surabaya dikenal dengan sambal bawang. Pedas karena dia pakai bawang putih ya.  Harganya murah, terjangkau. Kalau harganya mahal, kita nggak mungkin tiap hari makan di sini,” ujar Frisia.

Kami menerima kontribusi konten untuk rubrik Kuliner Malam Jumat, yaitu tempat kuliner yang cukup dikenal, punya ciri khas, dan masih buka pada malam hari. Konten harus berupa tulisan, foto dan video berdurasi sekitar 3 menit.

Tulisan berupa cerita mendalam tentang tempat kuliner malam yang diangkat sekitar 1.000 sampai 1.500 kata, foto minimal lima buah, dan video. Format konten video bisa dilihat dari video Kuliner Malam Jumat yang sudah ditayangkan.

Hasil liputan dikirim ke email: dinny.mutiah@kly.id. Tersedia hadiah menarik bagi yang karya terpilih. Untuk pertanyaan lebih detil tentang konten liputan Kuliner Malam Jumat, bisa ditanyakan melalui alamat e-mail yang sama.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓